Kisah Angel, Disabilitas Netra, Lolos SNBT UGM
Yogyakarta — Sebuah kisah inspiratif datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Angel, seorang penyandang disabilitas netra, berhasil menembus ketatnya
Yogyakarta — Sebuah kisah inspiratif datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Angel, seorang penyandang disabilitas netra, berhasil menembus ketatnya persaingan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 dan diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu kampus terbaik Tanah Air. Prestasi ini bukan sekadar angka kelulusan; ia adalah bukti bahwa keterbatasan fisik tak mampu membendung semangat dan mimpi besar seseorang.
Lika-Liku Perjalanan Menuju Kampus Impian
Perjalanan Angel menuju UGM dimulai jauh sebelum ia duduk di bangku ujian. Berikut kronologi perjuangannya:
- Masa SMP – Awal Adaptasi: Angel kehilangan penglihatannya sepenuhnya di kelas 2 SMP akibat glaukoma yang tak tertangani. Dunia yang tadinya penuh warna berubah gelap. Namun, dukungan keluarga dan guru membuatnya bangkit. Ia mulai belajar huruf Braille dan menggunakan screen reader dasar.
- SMA – Membangun Fondasi: Di SMA Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Yogyakarta, Angel mengasah kemampuan akademiknya. Ia aktif di ekstrakurikuler debat dan menjadi langganan juara olimpiade sains tingkat disabilitas. Di sinilah ia bermimpi masuk UGM, terinspirasi oleh kakak kelasnya yang juga berhasil kuliah di perguruan tinggi negeri.
- Persiapan SNBT – Belajar Tanpa Henti: Sejak kelas XI, Angel mengunduh soal-soal UTBK tahun sebelumnya dalam format PDF. Dengan bantuan aplikasi pembaca layar JAWS di laptopnya, ia mengerjakan ribuan soal setiap malam. “Saya membacakan soal itu satu per satu, dan Angel menjawabnya,” ujar ibunya, Sri Hartati, yang setia mendampingi. Mereka membuat jadwal belajar 5 jam sehari, fokus pada literasi Bahasa Indonesia, penalaran matematika, dan pemahaman bacaan.
- Hari-H Ujian: Saat ujian SNBT, Angel mendapatkan fasilitas khusus berupa pengawas pendamping yang membacakan soal dan mencatat jawabannya. Panitia juga menyediakan perangkat lunak JAWS versi terbaru. Meski deg-degan, Angel menyelesaikan seluruh subtes dengan percaya diri. “Rasanya semua doa dan kerja keras tertumpah di satu hari itu,” kenangnya.
- Pengumuman – Tangis Haru: Pada 20 Juni 2025, pukul 15.00 WIB, saat situs SNPMB diakses melalui perangkat Braille-nya, Angel mendengar suara screen reader menyebutkan namanya di daftar diterima Prodi Sastra Indonesia FIB UGM. Tangis haru pecah. Ibunya yang berada di samping langsung memeluknya erat.
“Saya ingin membuktikan bahwa tunanetra bukan berarti tidak bisa berprestasi. Kami hanya berbeda cara melihat dunia, tapi kemampuan kami sama,” ujar Angel dengan suara bergetar saat diwawancarai tim UGM.
Dukungan Kampus dan Fasilitas Inklusif
UGM sejak lama berkomitmen menjadi kampus inklusif. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menyambut baik keberhasilan Angel dan menegaskan kesiapan kampus dalam mendukung mahasiswa difabel. “Kami memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang akan memastikan Angel mendapat akses penuh selama studi,” jelasnya.
Berikut beberapa fasilitas yang akan dinikmati Angel di UGM:
- Buku dan Materi Kuliah Digital: Seluruh modul wajib akan disediakan dalam format e-text yang kompatibel dengan screen reader.
- Ruang Ujian Khusus: Angel berhak mendapat waktu tambahan 50% dan pendamping pembaca soal untuk setiap ujian.
- Pendampingan Akademik: ULD menyediakan relawan mahasiswa sebagai pembaca sukarela (volunteer reader) untuk membantu tugas-tugas yang membutuhkan pendeskripsian visual.
- Akses Fisik: Jalur pemandu (guiding block) di seluruh area kampus, serta prioritas penggunaan lift di gedung-gedung bertingkat.
- Beasiswa Difabel: Angel berpeluang mendapatkan beasiswa penuh dari program Bidikmisi Difabel yang dikelola UGM selama 8 semester.
“Kami ingin Angel dan mahasiswa difabel lainnya merasa menjadi bagian dari keluarga besar UGM. Tidak ada diskriminasi, yang ada hanyalah kesempatan yang setara,” tegas Rektor UGM dalam pernyataan tertulisnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Angel tidak ingin kisahnya berhenti di titik penerimaan. Ia bermimpi menjadi seorang penulis dan dosen bahasa yang andal. Kepada para penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, ia berpesan agar tidak pernah takut bermimpi tinggi. “Jangan biarkan mata yang gelap memadamkan cahaya di hati kalian. Teknologi dan dukungan sekarang sangat memudahkan kita,” katanya.
Prestasi Angel menjadi tamparan bagi stigma bahwa pendidikan tinggi hanya milik mereka yang sempurna secara fisik. Di tengah sistem pendidikan yang masih kerap abai terhadap kebutuhan difabel, kisah ini mengingatkan pentingnya kebijakan inklusif yang nyata, bukan sekadar jargon.
Saat ditanya apa hal pertama yang akan ia lakukan setibanya di kampus, Angel menjawab sambil tersenyum, “Saya ingin menyentuh lambang UGM dan merasakan energi para pendahulu besar yang pernah kuliah di sana.”
[SOCIAL_TWEET]: Angel, penyandang disabilitas netra, berhasil lolos SNBT dan diterima di UGM Prodi Sastra Indonesia. Ia buktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang prestasi. Semangatnya patut jadi inspirasi! #PendidikanInklusif #UGM #SNBT2025[SOCIAL_TG]: 💪✨ Angel, penyandang disabilitas netra, sukses lolos SNBT dan masuk UGM! Ia belajar 5 jam sehari dengan bantuan aplikasi pembaca layar. Baca kisah lengkapnya yang bikin semangat! 👇
Comments (0)