Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman
Perkembangan teknologi yang kian pesat, terutama di sektor keuangan, kini menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Salah satunya adalah para pedagang di Pasar Senggol Rawa Belong, Jakarta Barat. Di
Perkembangan teknologi yang kian pesat, terutama di sektor keuangan, kini menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Salah satunya adalah para pedagang di Pasar Senggol Rawa Belong, Jakarta Barat. Di tengah arus modernisasi, mereka terus berjuang mempertahankan usaha dan menyesuaikan diri, termasuk dalam metode pembayaran. Warkini.com berkesempatan menemui salah satu pedagang daging sapi yang telah lama berjualan di sana, Arif, untuk mendengar kisahnya.
Pasar Senggol yang Sarat Cerita
Pasar Senggol Rawa Belong bukanlah pasar modern dengan gedung megah. Ia adalah denyut ekonomi warga yang muncul setiap pagi di sepanjang Jalan Ayub, Gang Yahya, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk. Deretan lapak sederhana berjejer menawarkan aneka kebutuhan dapur, dari sayuran segar hingga potongan daging. Di sinilah Arif, pria yang kini berusia 46 tahun, mengukir jalan hidupnya. Sejak usia 16 tahun, ia sudah membantu keluarganya berdagang daging sapi di lokasi yang sama.
"Saya mulai jualan di sini waktu masih remaja. Dulu suasana pasar lebih ramai, pembeli datang sejak subuh. Sekarang ya tetap ramai, tapi persaingan makin banyak," kenang Arif saat berbincang dengan media kami.
Teknologi Masuk ke Lapak Daging
Salah satu perubahan yang paling terasa baginya adalah cara pembeli bertransaksi. Jika dahulu hanya uang tunai yang berlaku, kini banyak pelanggan yang meminta pembayaran secara digital. Arif pun terpaksa belajar menggunakan dompet digital dan menerima transfer bank agar tak kehilangan pembeli.
"Awalnya saya gagap. Tapi lama-lama terbiasa. Sekarang malah lebih praktis, tidak perlu repot cari uang kembalian," tuturnya. Meski demikian, ia tetap menyediakan opsi tunai bagi pelanggan setia yang belum akrab dengan teknologi. Adaptasi inilah yang membuat usahanya tetap bertahan di tengah gempuran zaman.
Hari di Mana Daging Baru Laku 3 Kilogram
Pada Minggu, 21 Juni lalu, sekitar pukul 10.20 WIB, Warkini.com menyambangi lapak Arif. Saat itu ia tampak tengah melepas penat. Sesekali ia mengobrol dengan sesama pedagang sambil sesekali melirik layar ponsel pintarnya. Maklum, tokonya sudah buka sejak pukul setengah enam pagi. Namun, hari itu belum membawa keberuntungan besar. Hingga menjelang siang, daging dagangannya baru laku 3 kilogram.
Jumlah itu jauh dari target hariannya yang biasanya mencapai 15–20 kilogram. "Hari Minggu memang kadang sepi. Orang lebih memilih liburan atau masak di rumah dengan stok yang sudah ada," ujarnya tanpa keluhan berlebihan. Baginya, naik-turun omzet adalah hal biasa dalam dunia dagang.
Persaingan dan Semangat Pantang Menyerah
Arif tak sendirian. Di sepanjang Jalan Ayub, ada beberapa pedagang daging sapi lain yang menjadi kompetitornya. Untuk menarik pembeli, ia mengandalkan kualitas daging segar yang dipasok langsung dari rumah pemotongan hewan, serta keramahan yang sudah menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun. "Yang penting jujur sama timbangan, insyaallah rezeki nggak ke mana," katanya.
Laporan dari media kami ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap teknologi, ada kisah-kisah para pedagang kecil yang tetap kukuh berjuang. Mereka bukan hanya menjual barang, tetapi juga merawat tradisi dan relasi manusiawi yang tak tergantikan oleh mesin. Arif dan Pasar Senggol Rawa Belong adalah potret hidup ketangguhan ekonomi kerakyatan di ibu kota.
Comments (0)