Atalia Praratya, anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi sosial dan pemberdayaan perempuan, menyampaikan keprihatinan mendalam saat mengunjungi YTR, seorang perempuan berusia 29 tahun yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya sendiri, TH (30), selama tiga tahun penuh. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (23/6/2026) itu mengungkap luka fisik dan psikis yang begitu parah dialami korban akibat tindakan keji pelaku.
Dalam kunjungan tersebut, Atalia tak kuasa menahan kesedihan melihat kondisi YTR. Hasil kekerasan berkepanjangan itu terekam jelas pada raut wajah korban yang nyaris tak lagi dikenali. "Saat menjenguk saudari YTR, hati saya hancur dan sedih. Struktur wajah korban rusak berat, ia kehilangan penglihatan, dan menderita luka berat akibat kekerasan keji selama tiga tahun penyekapan," ujar Atalia dalam keterangannya kepada awak media. Ia menambahkan bahwa luka-luka tersebut menjadi saksi bisu atas serangkaian penyiksaan yang dialami korban di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung.
Saat menjenguk saudari YTR, hati saya hancur dan sedih. Struktur wajah korban rusak berat, ia kehilangan penglihatan, dan menderita luka berat akibat kekerasan keji selama tiga tahun penyekapan.
Tak hanya kerusakan fisik, penyekapan selama bertahun-tahun juga merenggut penglihatan YTR dan membuatnya memerlukan penanganan medis intensif. Namun di balik semua derita itu, Atalia menemukan secercah keteguhan yang membesarkan hati. "Yang menjadi sedikit pengobat adalah semangat korban untuk sembuh dan bangkit," katanya menyambung. Semangat itu, menurut Atalia, menjadi modal berharga bagi YTR untuk menapaki proses pemulihan panjang yang masih harus dijalaninya.
Atalia juga menekankan bahwa kasus ini merupakan gambaran nyata kekerasan dalam relasi pribadi yang sering kali tersembunyi dan berlangsung lama tanpa terdeteksi. Sebagai wakil rakyat yang fokus pada isu perlindungan perempuan dan anak, ia menegaskan pentingnya sistem pendampingan korban yang holistik, mulai dari pemulihan medis, psikososial, hingga pemberdayaan ekonomi agar korban dapat benar-benar bangkit. Ia mengajak jajaran pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk segera merespons kebutuhan YTR dan mencegah kejadian serupa terulang di masyarakat.
Kasus YTR menjadi isyarat bahwa kekerasan domestik masih menjadi ancaman serius yang membutuhkan perhatian semua pihak. Sementara itu, keberanian korban untuk tetap berjuang meski dihantam luka fisik dan kehilangan penglihatan menjadi pengingat akan kekuatan manusia dalam menghadapi situasi paling kelam. Laporan dari Warkini.com akan terus mengikuti perkembangan penanganan kasus ini dan upaya pemulihan yang sedang ditempuh oleh pihak berwenang serta pendamping korban.
Comments (0)