Yogyakarta - Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh ulah pengendara jalanan yang mempertontonkan arogansi. Kali ini, dua pria yang berboncengan sepeda motor menjadi sorotan setelah kedapatan melawan arah di kawasan Terban, Yogyakarta. Bukannya menerima teguran dengan lapang dada, mereka justru memberikan gestur menantang kepada pengendara lain yang merekam aksi berbahaya tersebut.
Insiden ini terekam dalam sebuah video amatir yang kemudian menyebar luas dan diunggah oleh berbagai akun informasi publik. Dalam rekaman yang beredar, kedua pria tersebut tampak santai mengendarai motor melawan arus lalu lintas. Ketika menyadari aksi mereka direkam oleh pengendara lain, respons yang keluar sungguh di luar dugaan: bukannya merasa bersalah, pria yang dibonceng justru memberikan isyarat tangan seolah menantang perekam video.
"Mereka mengaku sebagai 'akamsi', singkatan dari anak kampung sini. Seolah-olah pengakuan itu menjadi pembenaran untuk berkendara melawan arah dan mengabaikan keselamatan pengguna jalan lain," tulis laporan yang dihimpun media kami pada Selasa (15/4/2025).
Klaim 'Anak Kampung Sini' Tuai Kecaman Netizen
Pengakuan sebagai "akamsi" yang dilontarkan kedua pria tersebut sontak memicu gelombang kemarahan warganet. Banyak yang menilai bahwa klaim sebagai warga lokal tidak memberikan hak istimewa untuk melanggar aturan lalu lintas dan membahayakan nyawa orang lain. Istilah "akamsi" sendiri belakangan memang kerap digunakan untuk menunjukkan superioritas territorial, namun dalam konteks ini justru berbalik menjadi bumerang bagi keduanya.
Video yang telah ditonton ratusan ribu kali dalam waktu singkat itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana pengendara berbaju hitam memberikan gestur tangan yang diinterpretasikan sebagai tantangan. Keduanya kemudian melenggang pergi meninggalkan lokasi, seakan tak peduli dengan teguran yang dilayangkan.
Respons cepat warganet membuat identitas kedua pria tersebut dengan mudah terendus. Desakan agar polisi segera bertindak pun menggema di berbagai platform media sosial. Tak butuh waktu lama, tekanan publik ini membuahkan hasil.
Menyerahkan Diri dan Permintaan Maaf Terbuka
Menyadari aksi mereka telah menjadi konsumsi publik dan berpotensi membawa konsekuensi hukum, kedua pria yang mengaku "akamsi" tersebut akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian setempat. Langkah ini diambil setelah video aksi kontroversial mereka viral dan mendapat kecaman luas dari masyarakat Yogyakarta dan netizen secara umum.
Dalam pertemuan dengan pihak berwajib, kedua pria tersebut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kelakuan mereka yang dinilai tidak pantas dan membahayakan. Mereka mengakui bahwa tindakan melawan arah serta gestur menantang yang ditunjukkan adalah sebuah kekeliruan yang tidak seharusnya terjadi.
"Keduanya menyatakan kesiapan untuk menerima sanksi tilang sesuai pelanggaran lalu lintas yang telah mereka lakukan. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa arogansi di jalan raya tidak akan pernah berujung baik," demikian keterangan yang dikonfirmasi media kami dari sumber kepolisian.
Pihak kepolisian mengapresiasi langkah penyerahan diri tersebut, namun tetap menegaskan bahwa proses hukum terkait pelanggaran lalu lintas akan tetap diproses sesuai aturan yang berlaku. Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan bahwa keselamatan berkendara adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa dinegosiasikan dengan alasan apapun, termasuk klaim sebagai "anak kampung sini".
Comments (0)