Jakarta — Rupiah kembali menunjukkan tenaga pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp 17.600 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp 17.675. Penguatan ini terjadi lantaran sejumlah sentimen positif dari pasar global yang menekan indeks dolar AS sekaligus memancing masuknya dana asing ke instrumen domestik.
Momentum penguatan rupiah hari ini dinilai pelaku pasar sebagai koreksi alami setelah beberapa waktu terakhir nilai tukar tertekan. Kombinasi ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi fundamental domestik yang relatif terjaga membuat sentimen terhadap mata uang rupiah mulai membaik secara bertahap.
Kronologi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Berikut urutan dinamika pergerakan kurs rupiah selama sesi perdagangan Rabu:
- Pagi hari, pembukaan transaksi dibuka pada posisi Rp 17.660 per USD, langsung lebih kuat dibanding penutupan sebelumnya di angka Rp 17.675.
- Masuk sesi pagi menjelang siang, rupiah menguat tajam hingga menyentuh level terbaik Rp 17.585 per USD, didorong pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun sekitar 0,3 persen.
- Sesi siang, permintaan dolar dari importer sempat membuat rupiah berbalik melemah tipis ke area Rp 17.620 per USD.
- Sesi sore hingga penutupan, tekanan mereda setelah arus masuk investasi asing ke pasar obligasi negara meningkat, sehingga rupiah kembali menguat dan dikutip stabil di level Rp 17.600 per USD.
Sentimen Apa yang Mendorong Penguatan?
Ada setidaknya tiga faktor utama yang menjadi bahan bakar penguatan rupiah pada perdagangan hari ini:
- Ekspektasi pelonggaran The Fed. Pasar semakin yakin bank sentral AS akan menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang, menyusul data ketenagakerjaan dan inflasi yang menunjukkan pendinginan.
- Pelemahan indeks dolar AS. Indeks DXY yang bergerak melemah membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, memperoleh ruang apresiasi.
- Arus masuk modal asing. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih pada surat berharga negara (SBN) dan saham di bursa domestik, sehingga pasokan dolar di pasar spot meningkat.
Bank Indonesia Dinilai Aktif Jaga Stabilitas
Dari sisi domestik, peran otoritas moneter tidak bisa diabaikan. Pelaku pasar menilai BI konsisten berada di pasar untuk meredam volatilitas, baik melalui intervensi di pasar sekunder maupun instrumen pengelolaan likuiditas seperti SRBI dan SVBI.
"Kombinasi pelemahan dolar global dan presensi Bank Indonesia di pasar membuat rupiah punya pijakan untuk menguat. Selama ekspektasi pemanggilan suku bunga The Fed tetap hidup, sentimen terhadap rupiah berpotensi bertahan positif dalam jangka pendek," ujar seorang analis pasar uang di Jakarta.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia yang tercatat masih di atas US$ 150 miliar dipandang cukup untuk menopang stabilitas nilai tukar menghadapi gejolak eksternal, termasuk fluktuasi harga komoditas global dan dinamika politik fiskal di Amerika Serikat.
Proyeksi Rupiah ke Depan
Ke depan, pelaku pasar memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.550 hingga Rp 17.650 per USD dalam beberapa hari ke depan. Arah selanjutnya sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS, khususnya angka inflasi personal consumption expenditure (PCE) yang akan menjadi rujukan utama The Fed dalam menentukan langkah suku bunga.
Di sisi lain, prospek neraca transaksi berjalan dan defisit transaksi berjalan Indonesia yang terkendali, ditambah kelanjutan proyek hilirisasi dan investasi, diyakini mampu memberikan fondasi fundamental bagi penguatan rupiah secara berkelanjutan. Meski demikian, investor tetap diminta waspada terhadap potensi koreksi sesaat akibat aksi ambil untung di akhir pekan.
[SOCIAL_TWEET]: Rupiah menguat ke Rp 17.600 per USD! Pemicunya: ekspektasi suku bunga The Fed turun, DXY melemah, dan dana asing masuk. #Rupiah #KursUSD[SOCIAL_TG]: 📈 RUPIAH KUAT KE RP 17.600 PER USD — Sentimen global membaik, dolar AS melemah, dan dana asing masuk ke SBN serta saham domestik. Baca analisis lengkap dan proyeksi kurs ke depan hanya di Warkini.com.
Comments (0)