Di dunia mode yang terus berputar, sepatu sering kali menjadi elemen yang paling berbicara tentang siapa pemakainya. Bukan sekadar alas kaki, footwear telah lama bertransformasi menjadi bahasa personal yang mampu menyampaikan karakter, mood, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Hal inilah yang tampaknya disadari betul oleh empat figur publik tanah air: Maxime Bouttier, Cinta Bryan, Mas Bule, dan Dino Augusto. Mereka punya pendekatan yang berbeda-beda dalam memilih sepatu yang melengkapi gaya personal mereka.
Maxime Bouttier, aktor yang dikenal lewat gaya kasualnya, cenderung memilih sepatu dengan pendekatan effortless. Baginya, kenyamanan adalah fondasi utama sebelum bicara soal estetika. Ia lebih suka siluet bersih, warna netral, dan model yang bisa dipakai di berbagai kesempatan. "Sepatu itu bukan buat pamer, tapi buat bikin kita nyaman menjalani hari," ujarnya dalam sebuah kesempatan. Gaya seperti ini mencerminkan kepribadian yang tenang dan tidak suka berlebihan.
Berbeda dengan Cinta Bryan, yang justru menjadikan sepatu sebagai statement-making. Ia memandang alas kaki sebagai panggung untuk mengekspresikan kreativitas. Warna berani, tekstur unik, hingga detail-desain yang tidak biasa menjadi pilihannya. "Kalau sepatu bisa bicara, aku ingin dia bilang aku ini orang yang berani tampil beda," tuturnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, sepatu adalah medium untuk menyatakan identitas, bukan hanya pelengkap penampilan.
Lebih dari Sekadar Pelengkap
Fenomena ini sejalan dengan apa yang terjadi di industri mode global. Sepatu telah bergeser dari sekadar accessory menjadi anchor dalam sebuah gaya. Sebuah survei mode menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen konsumen mengaku keputusan membeli outfit sering kali dipicu oleh sepatu yang mereka temukan lebih dulu. Artinya, footwear kini menjadi titik awal, bukan pelengkap di akhir.
"Footwear itu kayak tanda tangan. Orang bisa lihat sepatu kita dan langsung punya gambaran tentang kita seperti apa."
— Mas Bule, kreator konten
Mas Bule sendiri dikenal gemar memadukan sepatu dengan gaya streetwear yang santai namun tetap terlihat matang. Ia menekankan bahwa memilih sepatu sebaiknya tidak mengikuti tren secara membabi buta. "Kuncinya kenali dulu karakter kita, baru cari sepatu yang mendukung," tambahnya. Sementara Dino Augusto lebih menekankan pada aspek fungsionalitas tanpa mengorbankan estetika. Baginya, sepatu harus bisa menemani mobilitas harian, mulai dari bekerja hingga hangout sore.
Antara Gaya, Fungsi, dan Identitas
Menariknya, perbedaan pendekatan di antara empat figur ini justru menguatkan satu poin penting: tidak ada satu cara benar dalam memilih sepatu. Ada yang mengedepankan kenyamanan, ada yang menjadikannya alat ekspresi, ada pula yang menyeimbangkan keduanya. Yang jelas, pilihan footwear adalah cerminan dari bagaimana seseorang ingin dilihat dan bagaimana ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
Di era ketika visual begitu mendominasi, sepatu menjadi salah satu cara paling sederhana namun kuat untuk menyampaikan pesan. Ia bisa menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang praktis, berani, elegan, atau santai. Dan bagi Maxime, Cinta, Mas Bule, serta Dino, sepatu bukan barang biasa—ia adalah bagian dari cerita yang mereka kenakan setiap hari.
Comments (0)