Mendagri Buka Festival Fulan Fehan, Harap Perkuat Hubungan Lintas Negara
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian secara resmi membuka Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026). P
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian secara resmi membuka Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (27/6/2026). Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan tihar, alat musik tradisional khas Belu, yang suaranya menggema di tengah hamparan padang savana Fulan Fehan.
Dalam sambutannya, Mendagri mengaku terpukau dengan penyelenggaraan festival yang menampilkan tarian kolosal bertema persahabatan Indonesia dan Timor Leste. Ribuan peserta serta masyarakat tumpah ruah menyaksikan pertunjukan budaya yang menggambarkan eratnya hubungan dua negara bertetangga tersebut. Tito menilai, pergelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga cerminan diplomasi budaya yang sesungguhnya.
"Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Festival Fulan Fehan yang keempat tahun 2026, saya nyatakan resmi dibuka," ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima Warkini.com.
Festival Fulan Fehan yang digelar untuk keempat kalinya ini bukan sekadar pesta rakyat biasa. Lokasinya yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste menjadikannya simbol pemersatu dua bangsa. Tito berharap ajang ini mampu memperkuat hubungan lintas negara, khususnya dengan Timor Leste, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di kawasan perbatasan. "Saya ingin festival ini menjadi jembatan persaudaraan yang semakin kokoh antara kedua negara," tambahnya.
Simbol Persahabatan Dua Negara
Padang savana Fulan Fehan yang luas dan eksotis menjadi latar megah bagi pergelaran seni budaya tahunan ini. Tarian kolosal yang dibawakan melibatkan ratusan penari dari puluhan sanggar, mengisahkan sejarah dan kekerabatan masyarakat perbatasan. Mendagri menekankan bahwa festival semacam ini penting untuk menjaga dan merawat memori kolektif tentang kedekatan Indonesia dan Timor Leste.
"Saya berharap festival ini tidak hanya menjadi hiburan sesaat, tetapi juga pengingat bahwa kita adalah saudara. Hubungan baik ini harus terus dijaga dan diperkuat melalui pendekatan budaya," imbuh Tito, seperti dikutip dari laporan media kami.
Pemerintah Kabupaten Belu mencatat peningkatan signifikan jumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Timor Leste, yang hadir dalam festival tahun ini. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa Fulan Fehan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia. Akses jalur darat yang semakin baik turut mempermudah mobilitas pengunjung dari kedua sisi perbatasan.
Dukungan Pemerintah Pusat
Mendagri memastikan pemerintah pusat akan terus mendukung penyelenggaraan Festival Fulan Fehan ke depannya, baik dari segi anggaran maupun promosi. Ia menilai festival ini sejalan dengan visi pembangunan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menjadi prioritas nasional. Keterlibatan kementerian terkait pun akan ditingkatkan agar festival bisa masuk dalam kalender pariwisata nasional.
Festival yang berlangsung selama beberapa hari ini juga dimeriahkan dengan pameran produk UMKM lokal, lomba permainan tradisional, serta panggung musik yang menampilkan artis lokal dan nasional. Masyarakat sekitar pun mendapatkan berkah ekonomi dari gelaran ini, terlihat dari meningkatnya okupansi penginapan dan penjualan kuliner khas Belu. Dengan ditutupnya acara pada malam puncak, panitia optimistis Festival Fulan Fehan IV mampu mencatat rekor kunjungan dan menjadi tonggak kebangkitan pariwisata NTT. "Mudah-mudahan tahun depan lebih meriah lagi," kata Tito menutup sambutannya.
Comments (0)