OnePlus — Kini Tergerus dan Hampir Menjadi Merek yang Terlupakan

Ada masa ketika menyebut nama OnePlus di warung kopi atau forum daring sudah cukup untuk memantik perdebatan sengit antara penggemar gadget. Merek yang lah

Jul 11, 2026 - 05:18
0 1
OnePlus — Kini Tergerus dan Hampir Menjadi Merek yang Terlupakan

Ada masa ketika menyebut nama OnePlus di warung kopi atau forum daring sudah cukup untuk memantik perdebatan sengit antara penggemar gadget. Merek yang lahir pada penghujung 2013 ini bukan sekadar ponsel; ia adalah pernyataan sikap. Di era ketika Samsung dan Apple mendominasi, OnePlus menyelinap dengan janji satu kalimat: "Never Settle." Janji itu diterjemahkan menjadi perangkat dengan spesifikasi gahar, harga yang mencengangkan lawas, dan sistem undangan yang justru bikin orang makin penasaran. Tapi sekarang, di seberang pencapaian awal yang membara itu, tersisa tanya yang menggantung perih: apa sebenarnya yang salah dengan OnePlus?

Awal 2025 ini, OnePlus berdiri sebagai misteri yang sulit diurai. Di satu sisi, perusahaan masih rutin meluncurkan ponsel setiap tahun. Di sisi lain, dari bocoran penjualan hingga perbincangan media sosial, semangat yang dulu menyala-nyala itu terasa lenyap. Mereka tak lagi menjadi opsi pertama para penggila ponsel. Dan yang paling mengiris: merek ini perlahan-lahan menjadi catatan kaki dalam narasi besar Android yang dulunya mereka pacu.

Dulu: Pembunuh Raksasa yang Lahir dari Keberanian

Untuk memahami kejatuhan, kita perlu menengok ulang puncak kejayaan yang singkat itu. OnePlus One dirilis tahun 2014 dengan chipset Snapdragon 801, RAM 3 GB, dan layar yang tajam — semua dibanderol cuma 299 dolar AS. Ketika Samsung Galaxy S5 di harga nyaris dua kali lipat masih memakai plastik mengilap, OnePlus One menghadirkan balutan belakang batu pasir yang ikonik dan CyanogenMod sebagai sistem operasi. Komunitas pecinta ponsel langsung menyebutnya "flagship killer."

"Saya ingat betul bagaimana euforia undangan OnePlus One menyebar seperti virus di kampus. Mahasiswa mana pun yang berhasil mendapat undangan langsung dianggap beruntung. Merek ini terasa seperti rahasia kecil yang cuma orang-orang tertentu yang tahu," kata Ridwan, mantan moderator forum resmi OnePlus Indonesia, menirukan kenangan yang sudah lewat satu dekade.

Model bisnis kala itu memang jenius. Penjualan lewat undangan menciptakan kelangkaan buatan yang membuat permintaan melonjak. Margin kertas-tipis adalah harga yang dibayar demi mencuri perhatian. Dengan setiap unit yang terjual, OnePlus perlahan-lahan membangun citra bahwa ponsel hebat tidak harus dijual dengan harga selangit. Dan semua itu dikerjakan oleh tim kecil di Shenzhen yang dipimpin oleh Pete Lau serta wajah publiknya, Carl Pei.

Sekarang: Saat Oksigen Tak Lagi Murni

Lonceng tanda bahaya mungkin mulai berbunyi pada 2021, ketika OnePlus secara resmi mengumumkan integrasi lebih dalam dengan Oppo. Pada awalnya, hubungan itu diulas sebagai penggabungan sumber daya litbang yang wajar. Tapi belakangan, kita semua tahu bahwa "integrasi" adalah kode untuk "diakuisisi secara diam-diam." Perlahan namun pasti, jiwa pemberontak OnePlus meleleh ke dalam tubuh pabrikan besar yang sangat pragmatis.

Perubahan yang paling fatal terjadi di ranah perangkat lunak. OxygenOS yang dulu bersih, ringan, dan kencang — sering disebut sebagai Android paling rapi selain stok — dirombak dan digabung dengan ColorOS milik Oppo. Hasilnya adalah codebase terpadu yang membawa banyak iklan, bloatware, dan fitur yang tidak relevan ke ponsel yang awalnya dibeli justru untuk menghindari semua kekacauan itu. Forum komunitas penuh dengan benang kemarahan. Pengguna setia merasa dikhianati.

"Saya membeli OnePlus karena ingin ponsel dengan Android bersih. Sekarang, tiba-tiba ada aplikasi cuaca yang memaksa notifikasi, galeri yang mengumpulkan data, dan pengaturan yang mirip sekali dengan ponsel saudara saya yang pakai Oppo Reno. Kalau saya ingin ColorOS, mengapa tidak beli Oppo saja langsung?" gerutu Aldi, pengguna setia OnePlus sejak era OnePlus 3T, dalam sebuah diskusi di Reddit Indonesia.

Pertanyaan Aldi mewakili keresahan puluhan ribu pengguna yang merasa kontrak sosial antara mereka dan OnePlus telah dirobek sepihak.

Identitas yang Tergerus: Dari Satu Produk jadi Banyak Nomor

Dahulu, portofolio OnePlus sangat sederhana: satu seri unggulan, satu rilis per tahun, dan biasanya satu varian kawakan "T" di akhir siklus. Konsumen tahu betul apa yang diharapkan. Bandingkan dengan sekarang: ada OnePlus 13, 13R, 12, 12R, Nord 4, Nord CE4, Nord N40, Watch 3, Pad 2 — dan mungkin setengah lusin produk lain yang bahkan sulit diingat oleh para pengulas teknologi.

Ledakan lini produk ini bukan tanpa alasan. Oppo memerlukan OnePlus untuk mengisi begitu banyak celah di pasar global, sering kali dengan mengubah merek ponsel Oppo yang sudah ada menjadi perangkat Nord atau seri R. Bagi orang awam, strategi ini membingungkan. Bagi penggemar lama, ini adalah pengenceran merek yang menyakitkan. Sebutan "flagship killer" yang dulu disandang dengan gagah kini telah mati. OnePlus sekarang justru membanderol seri Pro mereka di harga yang hampir sama dengan Galaxy S Ultra atau iPhone Pro.

Fondasi Komunitas yang Runtuh

Tidak ada yang lebih mematikan bagi OnePlus selain runtuhnya hubungan intim dengan komunitas. Merek ini dibangun dari bawah ke atas oleh para penggemar yang merasa didengar. Mereka memilih wallpaper, mengusulkan fitur, dan bahkan mengkritik langsung kepada para pendiri di forum daring. Keterbukaan itu menciptakan loyalitas fanatik: orang rela mengantre digital berjam-jam untuk undangan, lalu dengan bangga memasang stiker logo "Never Settle" di laptop mereka.

Sekarang, komunikasi itu terasa seperti daur ulang siaran pers korporat. Forum resmi OnePlus telah berubah menjadi gudang keluhan teknis yang jarang ditanggapi oleh staf. Saluran media sosial hanya menyala saat waktu peluncuran tiba. Carl Pei sendiri sudah sejak 2020 meninggalkan perusahaan yang ia dirikan, sebelum akhirnya mendirikan Nothing — yang ironisnya kini mengambil alih persis peran yang dulu dimainkan oleh OnePlus: sebuah merek desain-pertama yang mengusung transparansi dan komunitas sebagai nilai jual utama.

Peta Persaingan yang Sudah Berubah Total

Kejatuhan OnePlus juga terjadi karena para pesaing bangun dari tidur. Di masa kejayaan OnePlus, segmen ponsel unggulan dengan harga masuk akal masih jarang. Sekarang? Xiaomi, Realme, iQOO, Google Pixel seri-A, dan bahkan Samsung Galaxy FE berebut konsumen di titik harga yang dulu dimonopoli OnePlus. Mereka tidak hanya menyamai spesifikasi, tetapi sering kali unggul di kamera dan dukungan perangkat lunak jangka panjang.

Di saat yang sama, Samsung memperpanjang janji pembaruan Android hingga tujuh tahun, sementara OnePlus masih gamang dengan kebijakan purna jual dan ketersediaan suku cadang. Di Eropa dan Amerika Utara, ekspansi Pixel semakin agresif. Di India — dulu benteng terkuat OnePlus — Nothing dan iQOO menggerogoti pangsa pasar dengan formula yang familiar: spesifikasi tinggi, harga lebih rendah, dan identitas merek yang segar.

Masih Adakah Jalan Pulang?

Bukan berarti OnePlus akan sepenuhnya lenyap. Mesin distribusi Oppo yang raksasa, serta kehadiran di jaringan operator-operator besar seperti T-Mobile di AS, menjaga denyut penjualan tetap ada. Peluncuran seri OnePlus 13 mendapat pujian atas daya tahan baterai dan kecepatan pengisian, dua hal yang masih jadi keunggulan khas. Namun, masalah utama OnePlus bukan spesifikasi, melainkan narasi. Untuk apa membeli OnePlus jika semua nilai pembedanya telah hilang?

Menyaksikan OnePlus hari ini ibarat melihat sebuah band indie hebat yang tiba-tiba bergabung dengan label mayor, lalu dipaksa mengubah suara mereka agar "lebih komersial." Sebagian penggemar lama pergi. Sisanya tinggal dengan rasa sedih, mengenang lagu-lagu lama yang dulu berarti. OnePlus mungkin masih menjual jutaan unit, tapi mereka berhenti menjadi gerakan. Dan dalam industri ponsel, kehilangan jiwa bisa menjadi luka yang paling sulit disembuhkan.


Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan

Apa penyebab utama kemunduran OnePlus?

Penyebab utamanya adalah hilangnya identitas merek setelah integrasi penuh dengan Oppo. Penggabungan OxygenOS dengan ColorOS yang mengecewakan, perluasan lini produk yang membingungkan, dan harga ponsel unggulan yang terus meningkat membuat OnePlus kehilangan daya tariknya sebagai "flagship killer."

Apakah ponsel OnePlus masih layak dibeli saat ini?

Untuk konsumen umum yang mencari pengisian daya super cepat dan pengalaman Android yang terbilang mulus, seri OnePlus terbaru masih sangat mumpuni. Namun, bagi penggemar yang mengharapkan Android bersih dan filosofi "Never Settle" lama, pengalaman yang ditawarkan kini lebih dekat ke Oppo premium.

Bagaimana posisi Carl Pei dan Nothing dalam cerita ini?

Carl Pei meninggalkan OnePlus pada 2020 dan mendirikan Nothing, yang kini memainkan peran sangat mirip dengan OnePlus pada era 2014-2018: mengutamakan desain berani, keterbukaan pada komunitas, dan harga yang kompetitif. Nothing dapat disebut sebagai "pewaris spiritual" dari OnePlus yang sejati.


[SOCIAL_FB]: "OnePlus dulu adalah pemberontak yang dicintai komunitas. Kini, setelah integrasi dengan Oppo, OxygenOS lenyap, produk bertaburan, dan harga melambung. Apa sebenarnya yang salah? Simak ulasan lengkap dari Warkini."[SOCIAL_THREADS]: "Ada yang ingat masa ketika dapat undangan OnePlus serasa menang lotre? Sekarang, OnePlus udah bukan lagi 'flagship killer.' Yuk, nostalgia sekaligus kupas kenapa merek ini jadi segitu redup. Full story di atas. 📱"

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User