PDIP dan Koalisi Pemerintah: Dua Alasan di Balik Seruan 'Kawan atau Lawan'

Jakarta - Hubungan antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan koalisi partai pendukung pemerintah semakin memanas. Saling kritik yang dilontarkan beberapa waktu terakhir memunculkan pert

Jul 07, 2026 - 23:51
0 0
PDIP dan Koalisi Pemerintah: Dua Alasan di Balik Seruan 'Kawan atau Lawan'

Jakarta - Hubungan antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan koalisi partai pendukung pemerintah semakin memanas. Saling kritik yang dilontarkan beberapa waktu terakhir memunculkan pertanyaan mendasar tentang posisi politik partai berlambang banteng itu: kawan atau lawan? Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai bahwa gempuran yang dialamatkan kepada PDIP tidak lepas dari dua faktor utama yang membentuk dinamika politik terkini.

Kekalahan di Pilpres 2024 Jadi Pemicu Awal

Alasan pertama yang diungkapkan Adi Prayitno adalah kekalahan PDIP dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Menurutnya, hasil pemilu tersebut mengubah peta kekuatan dan keberanian partai-partai lain dalam menyikapi PDIP. Saat PDIP memenangkan Pilpres pada 2014 dan 2019, tidak ada partai yang berani melancarkan serangan terbuka. Kemenangan menjadi tameng yang solid, menjadikan PDIP pusat gravitasi politik yang sulit digoyang. Kini, setelah kalah, partai ini seperti kehilangan daya tawar dan menjadi sasaran empuk koalisi pemerintah. Situasi ini disebut Adi sebagai konsekuensi pahit dari kekalahan elektoral, di mana dukungan politik cenderung berbalik arah dan mengucilkan pihak yang tidak berada di lingkaran kekuasaan.

Tidak Bergabung Secara Resmi dengan Pemerintah

Alasan kedua yang memperkeruh keadaan adalah keputusan PDIP untuk tidak secara resmi bergabung dengan koalisi pemerintahan yang terbentuk pasca-Pilpres 2024. Meskipun hubungan politik masih cair dan belum sepenuhnya memutus komunikasi, posisi di luar pemerintahan menjadikan PDIP rentan terhadap tekanan dan sorotan. Koalisi pemerintah melihat sikap kritis PDIP sebagai bentuk oposisi tidak langsung yang terus mengusik jalannya kebijakan. Akibatnya, partai ini kerap dihadapkan pada dilema "kawan atau lawan" yang dilontarkan oleh para elite koalisi, sebagai bentuk tekanan agar PDIP menunjukkan loyalitas atau sebaliknya bersiap menghadapi isolasi politik yang lebih tajam.

"Pertama, karena PDIP kalah pilpres dan tak resmi gabung pemerintah. Makanya dikeroyok partai koalisi pemerintah. Buktinya waktu PDIP menang Pilpres 2014 dan 2019, tak ada yang berani nyerang. Begitulah kalau kalah pilpres, macam yatim piatu tak ada yang mau berkawan dan bahkan suka dikucilkan," ujar Adi Prayitno saat dihubungi Warkini.com, Kamis (25/6/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekalahan pilpres dan absennya PDIP dari lingkaran kekuasaan membentuk persepsi baru di kalangan elite politik. Seruan "kawan atau lawan" yang bergulir bukan sekadar gimmick, melainkan cermin dari strategi untuk memperkuat kohesi koalisi pemerintah dan sekaligus menekan pihak-pihak yang dianggap potensial mengganggu stabilitas pemerintahan. Hingga saat ini, PDIP masih terus menghadapi ujian untuk membuktikan apakah mereka akan menjadi penyeimbang kritis di luar pemerintahan atau justru akan tergerus oleh manuver politik koalisi yang semakin intens.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Viral. Editor kurasi konten viral dan trending.

Comments (0)

User