Dunia belum pernah sedekat ini dengan kendali penuh atas HIV. Angka infeksi dan kematian baru justru menyentuh titik terendah dalam sejarah perang melawan virus tersebut, namun di saat yang sama pendanaan yang menjadi motor utama keberhasilan itu mulai ditarik mundur. Pemangkasan besar-besaran bantuan luar negeri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump kini memicu kekhawatiran serius di kalangan para ahli: pasien yang tak terdiagnosis, program komunitas yang berhenti, dan potensi kebangkitan AIDS di berbagai belahan dunia.
Ketika petugas kesehatan komunitas berhenti mendatangi pasar-pasar dan desa-desa terpencil di Zambia awal tahun ini, dampaknya tidak langsung terlihat. Klinik tetap buka, obat antiretroviral tetap dibagikan, dan di atas kertas respons HIV negara itu tampak masih utuh. Namun di balik permukaan yang tenang itu, celah besar mulai menganga.
Jaringan Penjangkauan yang Putus
Jutaan orang yang sebelumnya dijangkau lewat program penjangkauan (outreach) kini tidak lagi tersentuh layanan tes dan edukasi HIV. Mereka yang tertular tanpa sadar akan terus hidup tanpa pengobatan, dan tanpa disadari ikut menyebarkan virus ke lingkungan terdekatnya. Padahal, selama bertahun-tahun, tim penjangkauan rutin menyambangi pasar, permukiman padat penduduk, dan komunitas pedesaan tempat populasi paling rentan tinggal. Mereka melakukan tes HIV, menghubungkan orang yang positif dengan pengobatan, dan memastikan pasien tidak putus obat.
Tanpa kehadiran mereka, rantai deteksi dini dan perawatan terputus di titik yang paling kritis. Mwelwa Phiri, pakar HIV/AIDS di Antwerp Institute of Tropical Medicine yang berbasis di Zambart, Zambia, menggambarkan situasi di lapangan dengan gamblang.
"Yang kami lihat di lapangan adalah banyak program berbasis komunitas yang benar-benar dihentikan," kata Phiri kepada EUobserver. "Pekerjaan penjangkauan di komunitas juga dihentikan karena memang tidak ada lagi dana untuk itu."
Pernyataan Phiri memperkuat kekhawatiran bahwa pembongkaran lembaga-lembaga bantuan AS seperti USAID tidak hanya mengubah birokrasi, tetapi juga memutus layanan di akar rumput, terutama di negara-negara Afrika yang selama dua dekade menjadi garda terdepan perang melawan HIV.
Eropa Ikut Terdampak
Konsekuensinya tidak terbatas di Zambia. Di Eropa, pencegahan dan pengawasan HIV juga berada di bawah tekanan. Data gabungan HIV Prevention Alliance dan EATG-EACS mencatat peningkatan 12 persen diagnosis HIV baru di Eropa sepanjang 2024. Angka itu menjadi alarm bahwa pencegahan tetap menjadi prioritas darurat, baik di Eropa maupun di benua lain.
Kenaikan diagnosis bisa berarti dua hal: deteksi yang lebih baik, atau penyebaran yang lebih luas karena layanan yang melemah. Ketika pendanaan pencegahan menyusut, kecenderungannya condong ke skenario kedua. Para aktivis memperingatkan bahwa tanpa pengawasan dan edukasi yang berkelanjutan, angka-angka di atas kertas akan kembali menyesatkan.
Empat Alasan Mengapa Ini Berbahaya
- Deteksi dini menurun: orang yang hidup dengan HIV tidak terdiagnosis lebih lama, sehingga risiko penularan di komunitas meningkat tajam.
- Pengobatan terputus: pasien yang putus obat rentan mengalami resistensi obat dan penurunan kekebalan tubuh secara drastis.
- Kebangkitan AIDS: tanpa pengendalian, kasus AIDS tahap lanjut dan kematian bisa kembali naik setelah puluhan tahun terus menurun.
- Beban negara berkembang: negara seperti Zambia sangat bergantung pada bantuan luar negeri untuk membiayai program HIV mereka.
Harapan yang Dipertaruhkan
Kemajuan global melawan HIV selama dua dekade terakhir dibangun di atas fondasi pendanaan yang stabil dan jaringan komunitas yang kuat. Keputusan politik untuk memangkas keduanya, kata para ahli, berarti mempertaruhkan pencapaian yang hampir mustahil diraih kembali.
"Kita berdiri di titik di mana HIV seharusnya bisa dikendalikan untuk selamanya," tulis EUobserver dalam laporannya. "Namun justru ketika infeksi dan kematian mencapai rekor terendah, pendanaan yang membuat semua itu mungkin justru ditarik."
Tanpa tindakan cepat untuk menutup kesenjangan pendanaan, dunia mungkin harus bersiap menghadapi babak kelam yang selama ini diyakini sudah berlalu: kembalinya AIDS. Para ahli menyerukan komunitas internasional, termasuk negara-negara Eropa, untuk segera mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat sebelum terlambat.
[SOCIAL_TWEET]: Pemangkasan dana HIV AS menghentikan program komunitas di Zambia. Pasien tak terdiagnosis, kebangkitan AIDS mengancam. 🚨 #HIV #AIDS #KesehatanGlobal[SOCIAL_TG]: ⚠️ Pemangkasan dana HIV AS: program komunitas di Zambia berhenti, diagnosis di Eropa naik 12%. Dunia menghadapi ancaman kebangkitan AIDS. Baca di Warkini.com
Comments (0)