warkini.
Travel

Psikoanalis Ana Suy Ungkap Mitos Belahan Jiwa Bikin Hubungan Rapuh

Kebutuhan manusia akan cinta sering kali bertabrakan dengan ketakutan mendalam terhadap kesepian. Dalam kunjungannya ke Buenos Aires baru-baru ini, psikoan

Psikoanalis Ana Suy Ungkap Mitos Belahan Jiwa Bikin Hubungan Rapuh

Kebutuhan manusia akan cinta sering kali bertabrakan dengan ketakutan mendalam terhadap kesepian. Dalam kunjungannya ke Buenos Aires baru-baru ini, psikoanalis sekaligus penulis asal Brasil, Ana Suy, membagikan pandangan mendalam mengenai dinamika hubungan asmara di era kontemporer. Diperkenalkan oleh tokoh psikoanalisis ternama Gabriel Rolón, Ana Suy menegaskan bahwa cinta dan kesendirian sebenarnya berjalan beriringan, jauh lebih dekat daripada yang disadari banyak orang.

Dalam dialog eksklusif bersama media, Ana Suy menyoroti fenomena desamparo—sebuah kondisi keterasingan batin dan perasaan tidak berdaya—yang kini ia sebut sebagai "epidemi besar zaman modern". Banyak individu terjebak dalam ilusi bahwa pasangan hidup hadir semata-mata untuk melenyapkan perasaan hampa tersebut secara instan.

Sorotan Krisis Emosional di Era Modern

Menurut pemaparan Ana Suy, pergeseran pola hubungan saat ini membuat banyak orang mudah merasa rapuh ketika menghadapi realitas percintaan. Alih-alih membangun komunikasi yang sehat, sebagian besar orang menuntut pasangannya menjadi penawar atas segala rasa sepi yang mereka miliki sejak lama.

"Cinta dan kesepian bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Saat kita menuntut orang lain untuk sepenuhnya menghapus kesendirian kita, di situlah hubungan mulai kehilangan pijakan realitasnya," ungkap Ana Suy dalam diskusinya.

Ia menekankan bahwa ketidakmampuan menerima kesepian sebagai bagian alami dari kehidupan manusia kerap memicu ketergantungan emosional yang berlebihan. Ketika ekspektasi yang dipatok terlalu tinggi tidak terpenuhi, kekecewaan mendalam pun tak terelakkan.

Jebakan Romantis: Mengapa Mitos 'Belahan Jiwa' Berbahaya?

Salah satu poin utama yang dikritisi secara tajam adalah konsep klasik tentang la media naranja atau belahan jiwa yang dianggap mampu melengkapi kekurangan diri seseorang seutuhnya. Gagasan ini dinilai menciptakan ilusi berbahaya dalam membangun ikatan asmara jangka panjang.

  1. Menuntut Kesempurnaan yang Semu: Mengharapkan orang lain untuk melengkapi diri membuat individu luput melihat pasangannya sebagai manusia biasa yang juga memiliki keterbatasan emosional.
  2. Melemahkan Resiliensi Hubungan: Ketika ada sedikit saja perbedaan atau konflik, hubungan langsung dianggap gagal hanya karena tidak sesuai dengan fantasi dongeng romantis.
  3. Kehilangan Otonomi Diri: Keterikatan yang didasari rasa takut sendiri justru merampas kebebasan dan ruang tumbuh bagi masing-masing individu di dalam relasi.

Membangun Relasi yang Sehat Tanpa Kehilangan Jati Diri

Menghadapi epidemi keterasingan ini, psikoanalisis menawarkan cara pandang baru yang lebih membumi. Cinta semestinya bukan sarana pelarian dari rasa sepi, melainkan ruang perjumpaan dua individu yang utuh untuk saling berbagi kehidupan.

  • Menerima kesendirian batin: Menyadari bahwa tidak ada orang lain yang mampu menanggung seluruh beban eksistensial kita secara penuh.
  • Menghargai ketidaksempurnaan: Membangun keintiman dari penerimaan atas celah dan kerapuhan masing-masing pihak.
  • Menjaga ruang pribadi: Memberikan ruang bernapas bagi diri sendiri dan pasangan agar ikatan tetap terasa dinamis dan tidak menyesakkan.

Dengan melepaskan fantasi bahwa pasangan adalah pelengkap tunggal dalam hidup, seseorang justru dapat menjalin relasi yang lebih matang, jujur, dan berdaya tahan tinggi menghadapi tantangan zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS jovan-pratama

Reporter Kuliner. Food enthusiast. Review restoran, resep, dan tren makanan.

Comments (0)

User