Ratusan VW Kodok Padati Sarinah, Nostalgia Menggelinding di Jakarta
JAKARTA — Deretan Volkswagen Beetle atau yang akrab disapa VW Kodok kembali membawa gelombang nostalgia di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, pada Ahad (12/7/
JAKARTA — Deretan Volkswagen Beetle atau yang akrab disapa VW Kodok kembali membawa gelombang nostalgia di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, pada Ahad (12/7/2026). Ratusan mobil klasik berbodi bulat itu diparkir rapi di sepanjang koridor protokol, menarik mata para pejalan kaki dan pengendara yang melintas. Acara bertajuk "Beetle Vaganza: Piknik Kodok Sepanjang Masa" ini digelar untuk merayakan kecintaan terhadap salah satu ikon otomotif paling dicintai di Indonesia.
Aroma Nostalgia di Tengah Modernitas
Di bawah langit cerah Ibu Kota, pukul 07.00 WIB puluhan VW Kodok mulai memadati area car free day Sarinah. Mobil-mobil yang diproduksi antara tahun 1950-an hingga akhir 1970-an itu tampil dalam berbagai warna mencolok—dari merah tomat, biru langit, hingga hijau lumut. Masing-masing kendaraan menjaga keasliannya, mulai dari lampu depan bulat besar, kaca spion bundar, hingga interior jok kain khas era kejayaannya. Pemiliknya yang sebagian besar tergabung dalam klub seperti Indonesian Volkswagen Club (IVC) dan Jakarta Beetle Lovers tampak asyik berbagi cerita, bertukar suku cadang langka, dan membuka kap mesin untuk menunjukkan jantung mekanis yang terawat.
"Ini bukan sekadar pameran, melainkan reuni keluarga besar pecinta VW," kata Santoso, Ketua Panitia Beetle Vaganza yang ditemui di sela acara. Pesertanya mencapai 187 unit VW Kodok dari berbagai generasi, mulai dari Beetle 1200, 1302, hingga edisi Super Beetle. Tidak hanya dari Jakarta, rombongan peserta juga datang dari Bandung, Semarang, bahkan Surabaya.
Bukan Sekadar Mobil: Riwayat dan Identitas
Kehadiran VW Kodok di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Mobil ini pertama kali masuk sebagai kendaraan sederhana untuk kalangan menengah pada tahun 1960-an dan segera populer berkat ketangguhan mesin berpendingin udara serta desain yang mudah dikenali. Di era 1970–1980an, Kodok menjadi tulang punggung armada taksi Jakarta di bawah nama "Hepi Taxi" dan "Lima Taksi", meski kemudian tergusur oleh sedan Jepang. Kendati demikian, bukan berarti pamornya sirna. Ia justru berubah menjadi simbol gaya hidup, dikoleksi oleh para penghobi yang menghargai nilai historis dan estetika mekanik.
"Saya masih ingat naik Kodok hijau milik kakek saat kecil ke Pasar Senen. Suara mesin dari belakang itu yang bikin saya jatuh cinta sampai sekarang," ujar Rudi, 52 tahun, pemilik Beetle 1974 yang ikut dalam piknik nasional ini.
Gelaran ini juga menjadi ajang unjuk kreasi modifikasi ringan. Beberapa peserta mempertahankan tampilan original "all-stock condition", sementara yang lain memilih jalur restorasi bergaya "Cal Look" dengan pelek lebar dan dek rendah. Di antara kemilau bodi-bodi lawas, terpampang pula mobil-mobil edisi langka seperti VW Beetle Sunroof Ragtop 1957 yang hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.
Kegiatan dan Dampak Ekonomi Kreatif
Selain rolling thunder di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Bundaran HI, panitia juga menggelar bazar suku cadang antik, lelang miniatur VW, serta kompetisi "best of show" yang menilai keaslian, kebersihan, dan kelangkaan. Satu stan khusus menghadirkan mekanik senior yang memberikan konsultasi gratis seputar perawatan mesin boxer berpendingin udara—jantung utama VW Kodok. Tak ketinggalan, kuliner kaki lima bertema retro ikut menyemarakkan suasana.
Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, yang hadir memberikan sambutan, menyebut acara ini sebagai langkah positif menghidupkan ruang publik. "Kegiatan seperti ini mendorong interaksi sosial, menggerakkan ekonomi kreatif, dan menjadikan Jakarta kota yang ramah bagi komunitas hobi. Kami berharap ini menjadi agenda tahunan," ujarnya. Data panitia mencatat transaksi selama acara berlangsung diperkirakan menembus Rp 2,5 miliar, berasal dari penjualan suku cadang, merchandise, dan kuliner.
Menjaga Warisan untuk Generasi Muda
Menariknya, acara ini juga dihadiri cukup banyak anak muda. Beberapa mahasiswa dari jurusan teknik mesin Universitas Indonesia terlihat sibuk mendokumentasikan konstruksi mesin untuk bahan studi. "Generasi sekarang perlu tahu bahwa dulu ada mobil yang mesinnya di belakang dan bisa diandalkan tanpa teknologi komputer," ujar Indra, mahasiswa tingkat akhir yang hadir sebagai volunteer dokumentasi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pesona VW Kodok mampu menjembatani gap generasi.
Pukul 15.30 WIB, saat mentari mulai condong ke barat, puluhan mesin boxer kembali dinyalakan serempak. Suara khas "brumm-brumm" menyatu dalam simfoni yang membahana di antara gedung pencakar langit. Para peserta berjanji akan kembali setahun lagi, membawa lebih banyak cerita dan VW Kodok yang kian terawat.
[SOCIAL_TWEET]: Ratusan VW Kodok menyapa Jakarta di Sarinah—dari Beetle 1200 hingga edisi sunroof langka. Nostalgia bergulir dalam ratusan mesin boxer khas. #VWKodok #BeetleVaganza #MobilKlasik[SOCIAL_TG]: 🚗🔊 *Brummm!* Ratusan VW Kodok meramaikan Sarinah! Dari taksi legendaris sampai koleksi sunroof langka. Nostalgia masa kecil pengunjung pecah. Baca liputan eksklusifnya di sini.
Comments (0)