Suporter tim nasional Jepang kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026. Bukan karena yel-yel atau dukungan fanatik, melainkan aksi bersih-bersih sampah di stadion yang kembali mereka lakukan. Tradisi ini sudah melekat dan sering menuai pujian dari berbagai kalangan. Namun, kali ini muncul kritikan dari sebagian masyarakat Jepang sendiri.
Tradisi Bersih-bersih yang Mendunia
Berdasarkan pantauan Warkini.com di berbagai platform media sosial, foto dan video suporter Jepang yang memunguti sampah di bangku penonton seusai laga perdana Tim Samurai Biru viral. Mereka terlihat membawa kantong plastik, memungut botol minum, bungkus makanan, hingga tisu. Aksi ini bukan kali pertama. Sejak Piala Dunia 2014, suporter Jepang konsisten melakukan hal serupa. Nilai "omotenashi" atau keramahan dan perhatian terhadap sekitar menjadi landasan budaya mereka. Namun, sisi lain justru menuai kritik dari dalam negeri.
Kritik dari Dalam Negeri
Beberapa warga Jepang menilai aksi bersih-bersih ini berlebihan dan tidak sepenuhnya tulus. Menurut laporan yang dihimpun Warkini.com, kritik muncul di forum-forum dan media sosial Jepang. Ada yang menyebut bahwa tindakan itu sekadar "pencitraan" di mata internasional. Mereka mempertanyakan, mengapa suporter hanya bersih-bersih di stadion saat tampil di luar negeri, sementara di Jepang sendiri masih banyak masalah sampah dan kebersihan publik yang belum tuntas. Ada pula yang menyebutnya sebagai bentuk "perbudakan sukarela" yang justru mencoreng martabat sebagai penonton sepak bola yang sudah membayar tiket. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tanggung jawab membersihkan stadion seharusnya ada pada panitia penyelenggara, bukan suporter.
Antara Budaya dan Ekspektasi
Di sisi lain, banyak pihak tetap memuji konsistensi suporter Jepang. Sosiolog dari Universitas Tokyo yang dihubungi Warkini.com (nama disamarkan) menjelaskan bahwa kebiasaan ini adalah cerminan pendidikan moral sejak dini di Jepang, di mana membersihkan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab individu. Namun ia mengakui bahwa sorotan media asing yang berlebihan memang bisa memicu reaksi sinis di kalangan yang merasa aksi itu dikapitalisasi untuk citra negara. Perdebatan ini menunjukkan bahwa sebuah tindakan positif pun bisa dilihat dari berbagai perspektif. Yang jelas, stadion tetap bersih, dan itu patut diapresiasi, entah apapun motifnya.
Comments (0)