SDN Sukolilo I Tuban Terima 1 Murid Baru Meski Tawarkan Sepeda Listrik
Suasana Tahun Ajaran 2025/2026 di Kota Tuban, Jawa Timur, diwarnai oleh potret memprihatinkan dari SDN Sukolilo I—sekolah dasar negeri yang hanya menerima
Suasana Tahun Ajaran 2025/2026 di Kota Tuban, Jawa Timur, diwarnai oleh potret memprihatinkan dari SDN Sukolilo I—sekolah dasar negeri yang hanya menerima satu murid baru meskipun telah menawarkan hadiah berupa sepeda listrik sebagai insentif pendaftaran. Fenomena ini menggambarkan betapa beratnya tantangan sekolah pinggiran dalam mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan demografi dan preferensi masyarakat.
Kronologi Pendaftaran Siswa Baru
Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang digelar sepanjang Juni—Juli 2025 menjadi titik balik yang mencemaskan bagi para pendidik di SDN Sukolilo I. Berdasarkan pantauan Petugas Data Pokok Pendidikan (Dapodik) setempat, berikut adalah urutan kejadian yang terekam selama masa pendaftaran:
- Pembukaan PPDB (1 Juni 2025): Sekolah resmi membuka pendaftaran daring dan luring. Kuota awal ditetapkan sebanyak 40 kursi dengan tiga rombongan belajar.
- Sosialisasi Insentif (10 Juni 2025): Pihak sekolah mengumumkan bahwa setiap pendaftar yang menyelesaikan registrasi akan mendapatkan hadiah sepeda listrik melalui bantuan donatur alumni dan komite sekolah.
- Nihil Pendaftar Minggu Pertama: Hingga 15 Juni, tidak ada satu pun wali murid yang mengambil formulir. Tim guru melakukan kunjungan ke kelurahan dan PAUD terdekat untuk memperluas jangkauan.
- Pendaftaran Tunggal (28 Juni 2025): Seorang anak dari keluarga pemulung di sekitar Jalan Panglima Sudirman akhirnya mendaftar, menjadikannya calon siswa satu-satunya.
- Penutupan PPDB (5 Juli 2025): Tak ada pendaftar tambahan. Kepala sekolah mengakui bahwa seluruh strategi promosi belum membuahkan hasil signifikan.
Kondisi Sekolah yang Makin Sepi
Laporan Liputan6.com pada Kamis (17/7) mencatat, halaman SDN Sukolilo I yang biasanya ramai saat masa orientasi kini hanya dipenuhi segelintir guru dan satu siswa baru yang duduk di kelas kosong. Kondisi ini kontras dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana sekolah masih mampu menjaring 15–20 siswa per angkatan. Penurunan drastis itu mulai terasa sejak pandemi yang mempercepat migrasi keluarga ke wilayah perkotaan dan menurunnya angka kelahiran di Kecamatan Tambakboyo.
Analisis: Mengapa Insentif Tak Lagi Mempan?
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Ratna Puspita, menilai bahwa permasalahan di Tuban bukan sekadar soal kurangnya promosi atau fasilitas, melainkan faktor struktural. "Banyak sekolah dasar negeri di daerah semi-perkotaan kini menghadapi tiga tekanan sekaligus: bonus demografi yang menyusut, preferensi orang tua terhadap madrasah atau sekolah swasta berbasis agama, dan minimnya regenerasi penduduk di desa akibat urbanisasi," jelasnya.
Selain itu, survei kecil yang dilakukan komite sekolah terhadap 50 keluarga di sekitar Kelurahan Sukolilo menemukan bahwa:
- 32 responden memilih menyekolahkan anak ke SDIT atau MI swasta karena pertimbangan pendidikan karakter Islami.
- 12 responden pindah domisili ke Surabaya dan Gresik untuk bekerja, membawa serta anak-anak mereka.
- 6 responden mengaku tidak tertarik meskipun ada sepeda listrik karena akses ke sekolah dianggap sulit, terutama saat musim hujan ketika jalan desa tergenang.
Tanggapan Pihak Sekolah dan Dinas Pendidikan
Kepala SDN Sukolilo I, Budi Santoso, dalam wawancara eksklusif menyampaikan rasa prihatinnya:
"Kami sudah berusaha maksimal, bahkan menggandeng tokoh masyarakat untuk mengajak warga. Tapi kenyataannya hanya satu anak yang mendaftar. Ini bukan berarti kami gagal, tapi kami butuh intervensi kebijakan agar sekolah negeri di pinggiran tidak mati pelan-pelan," ujarnya dengan nada getir.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, Agus Wijaya, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan serta-merta menutup atau meregrup SDN Sukolilo I. Namun ia mengakui bahwa opsi penggabungan (regrouping) dengan sekolah terdekat menjadi skenario yang sedang dikaji. "Kami akan evaluasi selama satu semester ke depan. Jika tidak ada penambahan siswa, regrouping menjadi solusi terukur agar sumber daya tetap optimal," katanya dalam konferensi pers daring. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui platform Merdeka Mengajar mendorong pemanfaatan model sekolah filial—satuan pendidikan yang berbagi guru dan sarana prasarana—sebagai alternatif sebelum regrouping total.
Harapan dan Langkah ke Depan
Meskipun hanya memiliki satu murid, SDN Sukolilo I tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum penuh. Guru kelas I, Siti Aminah, mengajar tiga mata pelajaran sekaligus kepada murid tunggalnya. "Secara pedagogis ini sangat ideal karena rasio guru dan murid menjadi 1:1, tapi dari sisi sosialisasi anak jelas kurang. Kami berharap jika ada keluarga yang pindah ke daerah ini, mereka mempertimbangkan sekolah kami," ucapnya.
Fenomena ini juga membuka diskusi tentang perlunya reformulasi kebijakan zonasi dan pemberian insentif yang lebih tepat sasaran. Alih-alih hanya memberikan barang, pakar menyarankan agar pemerintah daerah menyediakan transportasi gratis, perbaikan infrastruktur jalan, dan integrasi program PAUD-SD agar rantai pendaftaran tidak terputus. Sementara itu, warga dan alumni SDN Sukolilo I terus menggalang donasi untuk mempertahankan operasional sekolah—setidaknya hingga ada keputusan final dari dinas pada akhir tahun 2025.
[SOCIAL_TWEET]: Miris! SDN Sukolilo I Tuban hanya dapat 1 murid baru meski sudah tawarkan sepeda listrik gratis. Pertanda darurat demografi di sekolah negeri pinggiran. Akankah regrouping jadi solusi? #Pendidikan #Tuban #SekolahNegeri #KrisisSiswa[SOCIAL_TG]: 📉 Hanya 1 murid baru! SDN Sukolilo I Tuban terancam regrouping setelah PPDB 2025 nihil peminat. Insentif sepeda listrik pun tak mempan. Simak kronologinya.
Comments (0)