JPO Tendean Jakarta Selatan Dibongkar, Warga Kelimpungan Menyeberang
Suasana Jalan Tendean, Jakarta Selatan, dini hari tadi berubah drastis setelah ikon penyeberangan yang telah berdiri puluhan tahun benar-benar rata dengan
Suasana Jalan Tendean, Jakarta Selatan, dini hari tadi berubah drastis setelah ikon penyeberangan yang telah berdiri puluhan tahun benar-benar rata dengan tanah. Proyek pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang digelar semalam suntuk itu meninggalkan pemandangan berbeda sekaligus kebingungan bagi para pejalan kaki yang setiap hari mengandalkan jembatan tersebut.
Proses Pembongkaran Semalaman Picu Kemacetan
Pembongkaran dimulai pada Sabtu (14/6/2025) pukul 22.00 WIB dan baru benar-benar rampung menjelang subuh. Pengerahan alat berat seperti crane dan ekskavator membuat arus lalu lintas dari arah Mampang menuju Blok M tersendat parah. Kemacetan mengular hingga 3 kilometer, memaksa petugas kepolisian memberlakukan sistem buka-tutup di sejumlah titik.
“Kami sudah siapkan rekayasa lalu lintas, tetapi volume kendaraan di akhir pekan memang tidak bisa diprediksi. Alhamdulillah pukul 05.15 semua alat berat sudah dievakuasi dan jalan kembali normal,” ungkap Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Bayu Pratama.
Meski kini arus kendaraan kembali mengalir lancar, dampak ikutannya langsung terasa begitu pagi menjelang. Tanpa jembatan, warga yang hendak menyeberang—mulai dari pekerja kantoran, pelajar, hingga pedagang pasar—terpaksa berputar atau nekat menerobos arus kendaraan yang melaju kencang.
Warga Bingung, Pilih Putar Jauh atau Ambil Risiko
Pantauan tim kami di lokasi, Minggu (15/6/2025) pagi, menunjukkan sejumlah pejalan kaki terlihat kebingungan di bekas tapak JPO yang kini hanya menyisakan beton penyangga yang ikut diratakan. Seorang ibu rumah tangga, Nurhasanah (47), mengaku kaget saat mendapati jembatan yang biasa ia gunakan untuk mengantar anaknya ke sekolah sudah tidak ada.
“Saya pikir tadi ada perbaikan kecil, ternyata sudah hilang semua. Sekarang harus muter lewat lampu merah yang jaraknya hampir 500 meter, atau kalau sudah telat terpaksa lari nyebrang langsung. Takut banget sama motor,” keluhnya.
Hal senada disampaikan Rizky (22), kurir ojek online, yang mengaku kehilangan rute andalannya untuk mengambil pesanan di seberang jalan. “Biasanya parkir motor di bawah JPO, terus jalan kaki nyebrang ambil makanan. Sekarang harus puter balik di U-turn yang jauh. Waktu tempuh bisa tambah 10 menit, berpengaruh ke rating,” ujarnya.
- Jarak jembatan terdekat: JPO Halte Transjakarta Tendean berjarak sekitar 800 meter ke arah selatan, namun hanya bisa diakses penumpang bus.
- Penyeberangan lampu merah: Tersedia di simpang Jalan Wolter Monginsidi—sekitar 500 meter ke utara—tetapi dianggap terlalu jauh bagi warga yang membawa barang banyak.
- Risiko kecelakaan: Tanpa fasilitas penyeberangan, pejalan kaki terpaksa menyeberang langsung di ruas jalan dengan kecepatan rata-rata kendaraan 60 km/jam.
Dishub Janjikan Solusi Sementara
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menyatakan bahwa pembongkaran JPO Tendean merupakan bagian dari proyek penataan kawasan yang terintegrasi dengan rencana revitalisasi trotoar. Ia mengakui ada masa transisi yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun memastikan solusi sementara tengah disiapkan.
“Kami akan pasang fasilitas penyeberangan sementara berupa pelican crossing dengan tombol dalam waktu dekat. Selain itu, petugas Dishub dan Satpol PP akan kami siagakan untuk membantu warga menyeberang pada jam sibuk,” ujar Syafrin saat dihubungi terpisah.
Ia enggan menyebut kapan tepatnya jembatan baru akan dibangun, namun sumber internal menyebutkan bahwa desain JPO baru akan memiliki akses ramah disabilitas dan estetika lebih modern. Dana pembangunan diperkirakan mencapai Rp 12 miliar, dengan target penyelesaian akhir tahun 2025.
Pengamat: Perencanaan Kurang Matang
Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Dr. Yayat Supriatna, menyoroti minimnya sosialisasi dan masa transisi yang dianggap terlalu singkat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur seharusnya tidak meninggalkan kekosongan fungsi yang membahayakan warga.
“Ini pola lama: bongkar dulu, bangunnya nanti. Warga dibiarkan menghadapi risiko sendiri. Harusnya JPO sementara sudah terpasang sebelum yang lama dirobohkan, bukan baru disiapkan setelah ada keluhan,” kritik Yayat.
Ia menambahkan, JPO Tendean merupakan salah satu penyeberangan dengan volume pejalan kaki cukup tinggi karena menghubungkan kawasan permukiman padat di sekitar Mampang Prapatan dengan pusat bisnis dan perbelanjaan di Kebayoran Baru. Studi lalu lintas internal Dinas Perhubungan mencatat rata-rata 2.300 pejalan kaki melintasi JPO ini setiap hari.
Sementara itu, Dinas Bina Marga bersama kontraktor pelaksana tengah melakukan pembersihan puing dan pengamanan area bekas bongkaran. Rambu peringatan sementara sudah dipasang, tetapi garis penyeberangan dan traffic light khusus pejalan kaki masih dalam tahap pemasangan.
Warga berharap pemerintah daerah lebih sigap mengatasi masa transisi. “Kalau memang niatnya memperbaiki, ya silakan. Tapi tolong dipikirkan nasib kami yang tiap hari harus menyeberang di sini,” pungkas Nurhasanah.
Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas Jalan Tendean terpantau lancar, namun puluhan pejalan kaki masih tampak menanti celah di tengah kepadatan kendaraan untuk sekadar menuju seberang jalan.
[SOCIAL_TWEET]: JPO Tendean dibongkar total semalam, warga kini bingung menyeberang. Dishub janji pasang pelican crossing sementara. Pejalan kaki harus berputar 500 meter atau nekat terjang laju kendaraan. #JPOtendean #JakartaSelatan #Infrastruktur[SOCIAL_TG]: 🚧 JPO Tendean dibongkar total semalam. Warga kebingungan cari jalan menyeberang, terpaksa muter jauh atau malah nekat terabas kendaraan. Dishub janji pasang pelican crossing sementara. Selengkapnya:
Comments (0)