Siswi Kurang Mampu Kulon Progo Wujudkan Mimpi Lewat Sekolah Rakyat
Sentolo, Kulon Progo — Di tengah keterbatasan yang membayangi masa depannya, Zeezee (15), seorang remaja asal Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Dae
Sentolo, Kulon Progo — Di tengah keterbatasan yang membayangi masa depannya, Zeezee (15), seorang remaja asal Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan secercah asa melalui program Sekolah Rakyat. Gadis yang tinggal di rumah sederhana bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci itu kini resmi menjadi salah satu siswi angkatan pertama Sekolah Rakyat DIY, sebuah inisiatif pendidikan gratis yang dikelola pemerintah daerah untuk menjaring anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Dari Dapur Penggorengan Menuju Bangku Sekolah Impian
Keseharian Zeezee sebelum diterima di Sekolah Rakyat jauh dari kata mudah. Setiap pagi ia harus membantu ibunya menyiapkan gorengan untuk dijual keliling sebelum berangkat ke sekolah negeri. "Kadang saya tidak sempat sarapan karena harus mengejar angkot, uang jajan pun pas-pasan," kenangnya. Kendati demikian, semangat belajarnya tak pernah surut — ia selalu masuk tiga besar di kelasnya, meski buku pelajaran sering dipinjam dari perpustakaan desa.
Namun, mimpi melanjutkan ke jenjang menengah atas sempat terasa mustahil ketika ibunya menyatakan tidak mampu membiayai SPP dan kebutuhan sekolah. "Ibu bilang, selepas SMP mungkin saya harus bekerja dulu. Saya menangis semalaman," tutur Zeezee lirih saat ditemui di sela orientasi siswa baru, Senin (21/6/2026).
Sekolah Rakyat: Lebih dari Sekadar Sekolah Gratis
Program Sekolah Rakyat merupakan pilot project Pemerintah Daerah DIY yang menyasar 100 anak dari 40 kecamatan termarginalkan. Tidak hanya menggratiskan biaya pendidikan, program ini juga menyediakan:
- Asrama penuh dengan tiga kali makan bergizi per hari
- Perlengkapan sekolah lengkap, termasuk seragam dan laptop
- Bimbingan non-akademik: kewirausahaan, bahasa asing, dan teknologi digital
- Asuransi kesehatan dan bekal transportasi pulang-pergi saat libur
Kepala Dinas Pendidikan DIY, Dr. Retno Widowati, menyebutkan bahwa Sekolah Rakyat dirancang bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan "ekosistem pembebasan kemiskinan melalui ilmu pengetahuan". Dalam sambutannya saat peresmian angkatan pertama, Retno menegaskan:
"Kami ingin memutus rantai kemiskinan dengan memastikan anak-anak cerdas dari keluarga tidak mampu mendapat akses pendidikan kualitas terbaik. Jika mereka hanya mengandalkan sekolah konvensional, potensi mereka akan terpendam selamanya."
Proses Seleksi Ketat dan Haru
Zeezee lolos setelah melewati tiga tahap seleksi gelombang awal yang meliputi:
- Verifikasi dokumen ekonomi (Kartu Keluarga Sejahtera, surat keterangan penghasilan orang tua);
- Ujian akademik berbasis komputer yang mengukur literasi, numerasi, dan logika dasar;
- Wawancara motivasi dan psikotes untuk menilai ketangguhan mental calon peserta didik.
Dari 2.145 pendaftar, hanya 100 yang diterima. "Saya deg-degan saat pengumuman. Begitu nama saya dipanggil, saya langsung sujud syukur di lantai," kisah Zeezee sembari menyeka air mata.
Ibunda Zee, Sulasmi (48), tak kuasa menahan haru. "Anak saya pintar, tapi saya tidak punya uang. Sekolah ini jawaban dari doa-doa kami tiap malam," ucapnya dengan suara bergetar.
Cita-Cita dan Harapan Baru
Zeezee bercita-cita menjadi analis data atau insinyur perangkat lunak — bidang yang selama ini hanya ia kenal dari layar ponsel pinjaman. "Saya ingin buat aplikasi yang bisa bantu ibu-ibu penjual gorengan seperti ibu saya, supaya dagangannya bisa dikenal luas," impinya. Program Sekolah Rakyat menyediakan laboratorium komputer lengkap dan pelatihan coding yang akan dimulai pada semester kedua. Para siswa juga akan mendapatkan mentor dari kalangan profesional dan akademisi.
Kisah Zeezee adalah potret kecil dari gelombang perubahan yang coba digulirkan oleh Sekolah Rakyat. Di tengah polemik biaya pendidikan yang kian melambung, kehadiran sekolah berasrama gratis berbasis potensi ini menjadi oase bagi mereka yang nyaris putus asa. "Ini bukan sekadar tentang satu anak dari Kulon Progo. Ini tentang membangun generasi emas dari desa-desa yang terlupakan," pungkas Retno.
Dengan tas ransel baru di punggung dan seragam putih-biru yang masih berbau kain gres, Zeezee melangkah ke kelas barunya. Langkah kecil yang mungkin, kelak, akan menjadi lompatan besar bagi Kulon Progo — dan Indonesia.
[SOCIAL_TWEET]: Mimpi Zeezee nyaris terkubur kemiskinan. Kini, lewat Sekolah Rakyat DIY, siswi asal Kulon Progo itu punya asrama gratis, laptop, dan pelatihan coding. “Saya ingin bangun aplikasi untuk ibu-ibu penjual gorengan.” Simak kisah lengkapnya. #SekolahRakyat #KulonProgoBerdaya #PendidikanGratis[SOCIAL_TG]: 📚 Zeezee, siswi dari keluarga buruh cuci di Kulon Progo, kini bisa sekolah gratis di Sekolah Rakyat DIY. Dapat asrama, laptop, dan pelatihan coding! 💻🚀 Baca ceritanya di sini.
Comments (0)