Kawasan Tiyasan di Kelurahan Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang pesat. Deretan rumah makan, kedai kopi, serta unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bermunculan di sepanjang kawasan tersebut, menjadikannya salah satu titik baru yang menarik perhatian wisatawan maupun calon investor di wilayah Yogyakarta bagian utara.
Pertumbuhan ini tidak lepas dari posisi Tiyasan yang strategis, berada di jalur penghubung Kota Yogyakarta menuju kawasan wisata Kaliurang. Arus kendaraan yang padat, terlebih pada akhir pekan dan hari libur, menjadi modal dasar bagi para pelaku usaha untuk menyerap kunjungan wisatawan lokal maupun luar daerah.
Kuliner Menjadi Mesin Penggerak Utama
Sektor kuliner tercatat sebagai penopang paling dominan dalam pertumbuhan ekonomi kawasan Tiyasan. Berbagai jenis usaha, mulai dari warung makan tradisional, restoran keluarga, hingga kedai kopi dengan nuansa modern, hadir dan saling melengkapi sehingga membentuk daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
"Sejak beberapa tahun terakhir kami berjualan di sini, omzet terus meningkat. Apalagi sekarang makin banyak kafe dan rumah makan baru yang buka, jadi kawasan ini semakin dikenal dan ramai dikunjungi," ujar salah satu pemilik rumah makan di Tiyasan yang telah beroperasi cukup lama di kawasan tersebut.
Fenomena serupa juga dirasakan para pelaku kedai kopi yang mengusung konsep ruang nongkrong. Mereka menilai keberadaan sesama pelaku usaha justru menciptakan efek positif, karena pengunjung yang datang ke satu tempat kerap melanjutkan perjalanan ke tempat lain di kawasan yang sama.
Dukungan Pemerintah Daerah bagi UMKM Lokal
Pemerintah Kabupaten Sleman didorong untuk terus mengoptimalkan peran dalam memfasilitasi pertumbuhan UMKM di Tiyasan. Sejumlah program pembinaan dinilai akan semakin memperkuat daya saing pelaku usaha lokal, antara lain:
- Pelatihan dan pendampingan bagi pelaku UMKM dalam hal manajemen usaha, mutu produk, dan pemasaran;
- Akses permodalan melalui skema pembiayaan yang terjangkau bagi usaha kecil dan menengah;
- Digitalisasi usaha agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas melalui platform daring;
- Penataan kawasan dan fasilitas publik untuk mendukung kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
"Kami ingin Tiyasan tidak sekadar menjadi kawasan kuliner, tetapi benar-benar berkembang sebagai ekosistem ekonomi kreatif yang utuh, mulai dari sisi produksi, promosi, hingga pemasaran digital," ungkap salah satu unsur dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun prospeknya cerah, sejumlah tantangan masih membayangi perkembangan kawasan Tiyasan. Persoalan ketersediaan lahan parkir, infrastruktur penunjang, hingga persaingan antarpelaku usaha menjadi catatan yang perlu diselesaikan secara bersama-sama agar pertumbuhan yang ada dapat berkelanjutan.
Di sisi lain, antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap kawasan ini diyakini akan terus meningkat seiring tren wisata kuliner yang kembali menguat. Kolaborasi erat antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan warga setempat menjadi kunci utama.
Dengan sinergi tersebut, kawasan Tiyasan dipercaya dapat menjelma menjadi ekosistem ekonomi kreatif baru yang kokoh, sekaligus memperkuat posisi Sleman sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta bagian utara.
[SOCIAL_TWEET]: Kawasan Tiyasan di Sleman terus tumbuh! Kuliner & UMKM berkembang pesat, siap jadi ekosistem ekonomi kreatif baru di Yogyakarta utara. #Sleman #UMKM #EkonomiKreatif[SOCIAL_TG]: 📰 Kawasan Tiyasan Sleman Didorong Jadi Ekosistem Ekonomi Kreatif — Pertumbuhan kuliner dan UMKM di kawasan Sinduharjo, Ngaglik, semakin pesat. Baca selengkapnya di Warkini.com.
Comments (0)