Sumedang — MASL Adakan Silaturahmi Adat Lintas Daerah di Dayeuh Luhur

POV: Kamu lagi healing ke daerah Sumedang yang adem, cari spot Instagramable sambil ngopi, eh malah nyasar ke Dayeuh Luhur. Di sana, vibes-nya bukan cuma a

Jul 09, 2026 - 18:53
0 0
POV: Kamu lagi healing ke daerah Sumedang yang adem, cari spot Instagramable sambil ngopi, eh malah nyasar ke Dayeuh Luhur. Di sana, vibes-nya bukan cuma alam yang bikin fresh, tapi juga hangatnya silaturahmi adat yang bikin kamu auto mewek karena kearifan lokalnya dapet banget. Sabtu (4/7/2027) lalu, Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) menggelar acara kumpul bareng yang bukan sekadar temu kangen, tapi juga intellectual sharing soal sejarah dan kekayaan Nusantara. Acara ini literally jadi melting pot budaya karena dihadiri warga adat dari berbagai penjuru: Bogor, Sukabumi, Bandung, hingga para sesepuh lokal dan kuncen Makam Keramat Prabu Geusan Ulun.

Ngobrol Santuy di Saung Gajebo, Buka Pintu Sejarah Leluhur

Lokasinya di Saung Gajebo, Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun? Duh, siapa sangka tempat yang biasanya sunyi dan sakral itu berubah jadi ruang diskusi yang hidup. Bayangin, di bawah atap saung tradisional, anak-anak muda dan sesepuh duduk lesehan, ngobrolin gimana caranya biar kekayaan budaya Nusantara nggak cuma jadi pajangan di museum. Dari mulai mistisnya sejarah Sumedang Larang, filosofi di balik tiap batu dan pohon di kompleks makam, sampai gimana generasi milenial bisa ikut nguri-nguri tanpa terkesan “zaman old”. Diskusi makin seru waktu Pak Tri, sebagai narasumber, membeberkan data dan cerita soal potensi kearifan lokal yang sebenarnya bisa jadi ladang cuan kalau dikemas kekinian. Peserta? Antusias pol. Ada yang nyatet, ada yang record buat konten TikTok, ada pula yang langsung nanya, “Lalu gimana caranya biar kita nggak kehilangan akar di tengah gempuran budaya asing?” Pertanyaan yang relatable banget kan?
"Kami ingin Majelis Adat Sumedang Larang menjadi jembatan. Temu hari ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga kekayaan Nusantara bersama-sama. Dari Sumedang untuk Indonesia," ujar Susane Febriaty, S.H., Ketua MASL, dengan penuh semangat.

Bukan Sekadar Nostalgia, tapi Aksi Nyata Merawat Identitas

Yang bikin acara ini beda, nggak cuma seremoni basi. Ada aura kebersamaan yang tulus. Warga yang datang jauh-jauh dari Bogor bilang, mereka rela tempuh perjalanan berjam-jam karena butuh “siraman rohani” adat. Mereka nggak mau jadi generasi yang cuma tahu budaya dari layar kaca doang. Di sini mereka bisa langsung nyambung ke sumbernya: kuncen, sesepuh, dan komunitas adat yang masih memegang teguh warisan leluhur. Menariknya, pertemuan ini juga jadi bukti nyata bahwa nilai-nilai adat itu nggak eksklusif buat komunitas tertentu. Semua orang dari berbagai latar belakang—mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa, sampai seniman lokal—duduk bareng tanpa sekat. Ada yang sharing soal ritual tradisi, ada juga yang curhat soal tantangan melestarikan bahasa daerah di era AI. Intinya, diskusi ini nyambung ke realitas zaman now.

Now, Giliran Kamu yang Speak Up!

Acara kayak gini ngingetin kita bahwa Indonesia tuh kaya banget, dan peran anak mudanya super krusial buat carry budaya kita ke level global. Tapi pertanyaannya: seberapa penting sih acara adat begini buat kehidupan Gen Z yang serba digital? Apa kalian tipe yang bakal bilang “vibe-nya old school, tapi malah jadi healing”? Atau justru ngerasa ini kudet dan nggak relevan? Yuk, drop pendapat kamu di kolom komentar! Pilih opsi di bawah ini: - 🔥 Penting Banget! Aku mau ikutan next time - 😴 Ketinggalan Zaman, not my cup of tea - 💡 Ide Nih, bisa dikemas lebih modern lagi Jangan lupa share kalau kamu punya pengalaman seru ikut kegiatan adat di daerahmu. Siapa tau next kita bisa bikin collab konten budaya bareng!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User