GOWA — IPTU Firman Dipromosikan ke Polda Sulsel, Sosok Polisi Humanis

Goodbye Polres Gowa, hello Ditresnarkoba Polda Sulsel! Satu lagi bukti bahwa soft power dan ketegasan bisa jadi combo mematikan di dunia penegakan hukum. I

Jul 09, 2026 - 18:50
0 1

Goodbye Polres Gowa, hello Ditresnarkoba Polda Sulsel! Satu lagi bukti bahwa soft power dan ketegasan bisa jadi combo mematikan di dunia penegakan hukum. IPTU Firman, S.H., M.H., yang selama ini jadi ikon perang melawan narkotika di Gowa, resmi naik level. Tapi tenang, bukan cuma pangkat yang ia bawa—ia juga memboyong vibe kepolisian yang humanis, kolaboratif, dan anti-eksklusif. Kayak karakter utama di drama Korea yang strict tapi punya hati sehangat oppa-oppa di drakor, IPTU Firman buktiin kalau jadi polisi itu nggak harus sangar 24/7.

Ngobrol Asik, Bukan Cuma Gerebeg

Kalau kamu pikir Satresnarkoba cuma urusan penangkapan dan barang bukti, IPTU Firman bakal kasih kamu plot twist. Alih-alih membangun tembok tinggi antara polisi dan masyarakat, ia malah membuka pintu selebar-lebarnya. Tokoh agama, akademisi, mahasiswa, sampai jurnalis—semua diajak nongkrong, diskusi, dan cari solusi bareng. Pendekatan persuasif-edukatif ini bikin banyak anak muda nggak canggung curhat soal masalah narkoba di lingkungannya.

"Perang melawan narkotika itu bukan cuma tugas polisi. Ini misi kita semua—gen Z, milenial, tokoh masyarakat, semua lini harus gotong royong," ujar IPTU Firman dengan nada santai tapi penuh penekanan.

Pernyataan itu bukan sekadar lipsync belaka. Di lapangan, ia rutin menyambangi kampus dan sekolah, jadi pembicara yang asik, dan membuat materi tentang bahaya narkoba terasa relatable—bukan kayak ceramah membosankan di upacara bendera. Kolaborasi lintas elemen ini jadi blueprint baru yang mungkin bakal ia bawa ke level provinsi.

Polisi Tanpa Gengsi: Si Paling Dekat dengan Semua

Bicara soal birokrasi, biasanya identik dengan sekat dan prosedur ribet. Tapi IPTU Firman? Ia ibarat glitch in the matrix yang menguntungkan. Mudah ditemui, responsif, dan nggak pelit senyum. Di berbagai kegiatan sosial, ia hadir tanpa bodyguard atau protokol berlebihan. Gaya komunikasinya yang santun dan akrab bikin banyak orang merasa sedang ngobrol dengan teman, bukan dengan perwira polisi.

Humble policing ala IPTU Firman ini mendapatkan respek luas. Banyak yang bilang, ia seperti jembatan antara penegakan hukum yang keras dan edukasi yang lembut. Sebuah kombinasi langka yang mungkin bisa jadi standar baru di institusi penegak hukum. Bahkan, di media sosial, gaya kepemimpinannya sering dibandingkan dengan tokoh-tokoh publik yang punya high emotional intelligence.

Squad Goals: Media dan Internal Polres

Nggak cuma dengan masyarakat, hubungan IPTU Firman dengan insan media juga jadi sorotan. Ia paham betul bahwa jurnalis bukan sekadar pelapor, tapi mitra strategis dalam menyebarkan kesadaran antinarkoba. Komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan minim drama—kayak hubungan pertemanan ideal yang kita semua idamkan. Di internal Polres Gowa, ia juga jadi sosok pemimpin yang mengedepankan kebersamaan. Ia menanamkan kultur kerja yang suportif, di mana tiap anggota merasa dihargai dan terlibat.

Kini, dengan promosi ke Ditresnarkoba Polda Sulsel, tantangan baru menanti. Namun, satu hal yang pasti: legacy humanis yang ia bangun di Gowa akan selalu jadi fondasi. Kita tunggu gebrakan kolaboratifnya di level provinsi. Apakah bakal muncul trendsetter baru di tubuh kepolisian? Let’s manifest!

Kira-kira, bestie, kalau kamu ketemu polisi se-humanis IPTU Firman di keseharian, apa yang bakal kamu obrolin? Atau malah punya cerita seru saat interaksi dengan polisi? Drop di comments, ya! Siapa tahu ceritamu bisa jadi inspirasi buat yang lain. 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User