Mochamad Nur Arifin Lanjutkan Periode Kedua Pimpin Trenggalek Lewat Inovasi Ekonomi Hijau

<h2>Mochamad Nur Arifin Lanjutkan Periode Kedua Pimpin Trenggalek Lewat Inovasi Ekonomi Hijau</h2> <p><strong>Warkini</strong> – Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, kembali memegang tampuk kepemimpinan Kabupaten Trenggalek untuk periode

Jul 11, 2026 - 05:58
Updated: 2 days ago
0 1

Mochamad Nur Arifin Lanjutkan Periode Kedua Pimpin Trenggalek Lewat Inovasi Ekonomi Hijau

Warkini – Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, kembali memegang tampuk kepemimpinan Kabupaten Trenggalek untuk periode kedua sejak dilantik pada 26 Februari 2021. Lahir di Trenggalek pada 15 Agustus 1987, Arifin menjadi salah satu bupati termuda di Indonesia saat pertama kali menjabat sebagai wakil bupati pada 2016, kemudian naik menjadi bupati definitif pada 2019 menggantikan Emil Dardak yang terpilih sebagai wakil gubernur Jawa Timur. Latar belakangnya sebagai sarjana teknik elektro dan pengusaha muda memberinya pendekatan teknokratis dalam tata kelola pemerintahan.

Profil dan Latar Belakang

Arifin menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya Malang sebelum melanjutkan studi magister di bidang Manajemen Pembangunan Daerah. Karir politiknya dimulai dengan bergabung di PDI Perjuangan, partai yang mengusungnya dalam dua kontestasi pemilihan kepala daerah. Sebelum menjadi wakil bupati pada periode 2016–2019, ia aktif di organisasi kepemudaan dan sempat merintis usaha di sektor teknologi informasi serta pengelolaan sumber daya alam. Keputusan PDI Perjuangan mengusungnya kembali pada Pilkada 2020 menunjukkan kepercayaan partai terhadap kinerjanya, sekaligus menjadikannya salah satu kader milenial potensial partai berlambang banteng itu.

Program Unggulan dan Kinerja

Salah satu terobosan paling menonjol dari kepemimpinan Arifin adalah konsep Trenggalek Green Economy yang menjadikan kabupaten seluas 1.261 kilometer persegi itu sebagai percontohan pembangunan berkelanjutan. Melalui program ini, pemerintah daerah mengintegrasikan sektor pertanian, pariwisata, dan energi terbarukan dalam satu ekosistem. Data Dinas Lingkungan Hidup Trenggalek mencatat, pada 2022 terdapat peningkatan luas tutupan hutan sebesar 2.100 hektare melalui gerakan rehabilitasi lahan kritis yang melibatkan 45 desa. Arifin juga menginisiasi program "Sapu Jagad" (Satu Pulau Satu Juta Aneka Cabe dan Durian) yang mendorong petani menanam komoditas bernilai tinggi. Hingga pertengahan 2023, tercatat lebih dari 500.000 bibit cabai dan durian telah didistribusikan ke kelompok tani di seluruh kecamatan.

Di bidang tata kelola pemerintahan, Arifin mendorong digitalisasi layanan publik melalui aplikasi "Trenggalek Smart Service" yang mengintegrasikan lebih dari 50 jenis pelayanan administrasi kependudukan, perizinan, dan pengaduan masyarakat. Kepuasan masyarakat terhadap layanan publik meningkat signifikan, tercermin dari skor Indeks Kepuasan Masyarakat yang melonjak dari 78,4 pada 2020 menjadi 84,6 pada 2023. Pada sektor infrastruktur pedesaan, pemerintahan Arifin berhasil membangun dan memperbaiki jalan desa sepanjang total 127 kilometer, menghubungkan wilayah-wilayah terisolasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Program kesehatan unggulan "Siagap Covid-19 Trenggalek" saat pandemi juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur karena kecepatan vaksinasi dan tingkat kesembuhan pasien yang tinggi, meskipun fasilitas kesehatan di daerah ini tergolong terbatas.

Kontroversi dan Tantangan

Meski banyak program inovatif, pemerintahan Arifin tidak luput dari kritik. Organisasi masyarakat sipil menyoroti lambatnya penyelesaian kasus sengketa lahan di kawasan pesisir selatan yang melibatkan investor dan petani lokal. Proyek pembangunan sport center di wilayah perkotaan juga menuai protes karena dianggap membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang sesungguhnya masih bergantung pada dana transfer pusat. Ketergantungan fiskal ini menjadi tantangan struktural serius — pada tahun anggaran 2023, Pendapatan Asli Daerah Trenggalek hanya menyumbang sekitar 14 persen dari total belanja daerah. Tantangan lainnya adalah memastikan keberlanjutan program-program hijau di tengah tekanan perluasan kawasan pertambangan dan perkebunan yang kerap berbenturan dengan tujuan konservasi.

Penilaian dan Prospek

Kepemimpinan Mochamad Nur Arifin di Trenggalek layak dinilai sebagai eksperimen pemerintahan daerah yang ambisius dan visioner, terutama untuk ukuran kabupaten dengan kapasitas fiskal rendah. Pendekatan ekonomi hijau yang ia usung memberi identitas jelas bagi daerah yang selama ini kerap dipandang sebagai wilayah pinggiran. Keberhasilannya membangun narasi pembangunan berkelanjutan bahkan membuat Trenggalek kerap dijadikan studi kasus oleh lembaga riset internasional. Namun, hasil konkret dari program-program unggulan masih membutuhkan waktu untuk terlihat secara signifikan pada kesejahteraan masyarakat. Tingkat kemiskinan yang pada 2023 masih berada di kisaran 11,8 persen hanya turun tipis dari 12,2 persen pada 2020, menunjukkan bahwa transformasi ekonomi memang memerlukan proses panjang. Prospek Arifin ke depan cukup menarik, mengingat posisinya sebagai kader muda PDI Perjuangan yang memiliki rekam jejak kepemimpinan inovatif. Jika mampu menjaga momentum dan mengatasi persoalan struktural, Arifin berpotensi menjadi figur penting dalam peta politik Jawa Timur pasca masa jabatannya berakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User