BMKG Peringatkan Kemarau Akibat El Nino Lebih Kering Tahun Ini
Matahari bersinar terik di atas hamparan sawah yang tanahnya retak-retak. Di kawasan Sirnajati, Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, seorang penggembala kambing
Matahari bersinar terik di atas hamparan sawah yang tanahnya retak-retak. Di kawasan Sirnajati, Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, seorang penggembala kambing terpaksa beristirahat di tengah ladang kering yang seharusnya menjadi sumber penghidupannya. Pemandangan ini menjadi potret nyata dampak musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan serius: musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tiga tahun sebelumnya, yaitu 2020, 2021, dan 2022.
Kondisi Terkini di Lapangan
Di Kabupaten Bekasi bagian selatan, para petani dan peternak mulai merasakan dampak berkurangnya pasokan air. Sawah-sawah tadah hujan mengering, rumput pakan ternak semakin sulit ditemukan, dan sumur-sumur dangkal mulai menyusut debitnya. “Biasanya Agustus masih ada sedikit hujan, sekarang sama sekali tidak ada. Kambing-kambing saya terpaksa mencari makan sendiri di lahan kering, tapi rumputnya sudah habis,” ujar seorang penggembala yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di lokasi.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Bekasi. Sejumlah daerah di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara telah melaporkan penurunan produksi pertanian akibat kekeringan. Di wilayah sentra padi seperti Indramayu dan Karawang, petani mulai menunda musim tanam karena ketersediaan air irigasi yang minim. Kementerian Pertanian bahkan memperkirakan potensi gagal panen bisa mencapai 5-10 persen lebih tinggi pada musim kemarau kali ini jika tidak ada langkah antisipasi cepat.
Fenomena El Nino: Pemicu Utama Kekeringan Ekstrem
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi atmosfer global. Bagi Indonesia, efeknya adalah tertundanya musim hujan dan pengurangan curah hujan secara signifikan selama periode tertentu. Berdasarkan data BMKG, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan anomali positif yang cukup kuat, mengindikasikan El Nino moderat hingga kuat akan berlangsung setidaknya hingga awal 2024.
“Musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021, dan 2022. Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resminya.
Pihak BMKG juga menyebut bahwa kombinasi El Nino dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif memperparah kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. IOD positif menyebabkan uap air dari Samudra Hindia berkurang menuju daratan, sehingga wilayah selatan ekuator semakin minim hujan. Puncak dampak kedua fenomena ini diprakirakan terjadi pada Agustus hingga September 2023, dengan potensi kemarau berkepanjangan hingga akhir tahun.
Dampak Multisektoral: Dari Peternakan hingga Krisis Air Bersih
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan sektor pertanian tanaman pangan, tetapi juga peternakan. Para penggembala kambing dan sapi di wilayah pedesaan harus berjalan lebih jauh untuk mencari sumber air dan pakan hijau. Biaya produksi ternak meningkat karena sebagian peternak terpaksa membeli pakan tambahan. “Harga rumput kering naik hampir dua kali lipat. Kalau begini terus, terpaksa saya jual sebagian kambing,” tutur seorang peternak di Cibarusah.
Di perkotaan, kekeringan memicu krisis air bersih. PDAM di beberapa kabupaten/kota mulai memberlakukan giliran distribusi air karena menurunnya debit mata air dan sungai. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa pada pertengahan Agustus 2023, sedikitnya 15 kabupaten/kota di Jawa dan Nusa Tenggara telah mengajukan permintaan bantuan air bersih. Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang pada tahun-tahun sebelumnya menyebabkan bencana asap lintas batas.
Upaya Mitigasi dan Imbauan Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan BMKG telah mengkoordinasikan beberapa langkah darurat. Di antaranya adalah:
- Percepatan pembangunan sumur bor dan embung di daerah rawan kekeringan.
- Distribusi pompa air dan perbaikan jaringan irigasi tersier.
- Penyediaan bantuan pakan ternak subsidi bagi peternak kecil.
- Operasi modifikasi cuaca untuk mengisi waduk-waduk strategis.
BMKG juga mengimbau petani untuk menyesuaikan jadwal tanam dengan memanfaatkan informasi prakiraan musim dan dasarian (10-harian). Sementara itu, masyarakat umum diminta untuk lebih bijak menggunakan air, tidak membakar sampah sembarangan, dan segera melaporkan titik api kepada aparat setempat.
Kekeringan akibat El Nino tahun ini menjadi ujian ketangguhan bagi berbagai sektor. Dengan koordinasi yang baik dan kewaspadaan tinggi, diharapkan dampak buruknya dapat diminimalkan. Namun, tanpa hujan yang cukup dalam waktu dekat, pemandangan sawah retak dan penggembala yang kelelahan mungkin akan semakin sering terlihat di berbagai pelosok negeri.
[SOCIAL_TWEET]: Kemarau tahun ini lebih kering akibat El Nino. BMKG: petani dan peternak harus siap hadapi kekeringan. Sawah retak, rumput kering, air langka. #KemarauPanjang #ElNino #BMKG[SOCIAL_TG]: 🔥 Kemarau akibat El Nino makin parah! BMKG sebut tahun ini lebih kering dari 3 tahun terakhir. Peternak terpaksa jalan jauh cari air dan rumput. Simak laporannya.
Comments (0)