Bus Sekolah Gratis untuk Siswa Disabilitas Resmi Beroperasi di Tangsel
Bagi anak berkebutuhan khusus, berangkat ke sekolah kerap jadi perjuangan tersendiri. Mulai dari keterbatasan angkutan umum yang ramah kursi roda hingga ongkos tambahan yang menguras kantong. Kini, ke...
Bagi anak berkebutuhan khusus, berangkat ke sekolah kerap jadi perjuangan tersendiri. Mulai dari keterbatasan angkutan umum yang ramah kursi roda hingga ongkos tambahan yang menguras kantong. Kini, keresahan itu mulai teratasi di Tangerang Selatan. Pemerintah Kota setempat memperkenalkan layanan bus sekolah gratis yang dirancang khusus untuk siswa penyandang disabilitas.
Armada anyar ini tidak sekadar mengangkut penumpang. Setiap unit dilengkapi lift hidrolik untuk kursi roda, sabuk pengaman ekstra, serta ruang yang cukup luas agar pengguna alat bantu gerak tidak merasa sesak. Dua awak terlatih siaga di dalam bus: satu sopir dan satu pendamping yang sudah dibekali pelatihan dasar penanganan anak disabilitas. Jadi, orang tua bisa sedikit bernapas lega.
Rute Terintegrasi dan Cara Daftar
Saat tahap awal, bus ini melayani rute dari Pondok Aren menuju Ciputat dan Serpong. Rute tersebut dipilih berdasarkan data siswa disabilitas yang paling banyak terkendala transportasi. Dinas Perhubungan Tangsel bekerja sama dengan Dinas Pendidikan menyebar formulir pendaftaran ke SLB dan sekolah inklusi se-Tangsel. Calon penumpang cukup mengisi data diri, alamat, serta surat keterangan dari sekolah. Tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Wali Kota Tangsel melalui siaran pers di laman resmi Pemkot menyatakan, program ini adalah wujud konkret bahwa pendidikan inklusif harus didukung infrastruktur yang inklusif pula. “Kami ingin tidak ada lagi siswa yang bolos hanya karena susah cari tumpangan,” ujarnya.
Respons Positif dari Masyarakat
Sejumlah orang tua menyambut antusias. Sari, ibu dari Dito—siswa tunadaksa di SLB Negeri Serpong—mengaku pengeluarannya untuk antar-jemput sempat mencapai Rp600 ribu per bulan. “Dengan bus ini, dana itu bisa dialihkan untuk kebutuhan terapi anak,” tuturnya. Senada dengan itu, pengamat pendidikan dari Universitas Pamulang menilai perluasan program serupa ke kota tetangga dapat menjadi langkah lanjutan. Ia menekankan pentingnya evaluasi ketepatan waktu dan keamanan agar kepercayaan publik terus terjaga.
Hingga pekan pertama operasi, jumlah pendaftar disebut terus naik. Pihak Dinas Perhubungan optimistis armada bisa ditambah jika permintaan melebihi kapasitas 30 penumpang per bus. Kantong parkir dan pemberhentian khusus di tiap sekolah juga tengah disiapkan biar naik-turun penumpang lebih praktis.
Dengan kehadiran bus sekolah ramah disabilitas ini, harapan akan pendidikan yang setara tidak lagi sekadar wacana. Langkah kecil dari sudut Tangerang Selatan ini bisa menjadi cetak biru bagi daerah lain bahwa inklusi bukan hanya tentang menerima siswa, tapi juga memastikan mereka sampai di gerbang sekolah dengan selamat dan tanpa beban.
Comments (0)