Dolar AS Menguat ke Rp 17.855 di Tengah Pelemahan Terhadap Mata Uang Utama Lainnya

Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya terhadap rupiah pada perdagangan Kamis pagi ini. Berdasarkan data yang dihimpun media kami, mata uang Negeri Paman Sam i

Jul 08, 2026 - 00:47
0 0
Dolar AS Menguat ke Rp 17.855 di Tengah Pelemahan Terhadap Mata Uang Utama Lainnya

Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya terhadap rupiah pada perdagangan Kamis pagi ini. Berdasarkan data yang dihimpun media kami, mata uang Negeri Paman Sam itu terpantau bergerak naik dan berhasil menembus level psikologis Rp 17.800-an, menandai penguatan signifikan di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Merujuk pada data Bloomberg yang dikutip Warkini.com, Kamis (18/6/2026), nilai tukar dolar AS berada pada posisi Rp 17.855. Posisi ini menunjukkan kenaikan sebesar 93 poin atau setara dengan 0,52% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan ini memperlebar jarak rupiah dari ambang batas aman, memicu kekhawatiran akan potensi imported inflation yang lebih tinggi bagi perekonomian nasional.

Faktor Domestik dan Tekanan Global

Meskipun rupiah tertekan, menarik untuk dicermati bahwa pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya justru menunjukkan pelemahan. Laporan dari lantai bursa mencatat bahwa greenback melemah terhadap yen Jepang, dolar Australia, pound sterling, euro, serta dolar Singapura. Kondisi ini menciptakan anomali di mana rupiah menjadi salah satu dari sedikit mata uang yang kehilangan kekuatan di hadapan dolar AS pada sesi perdagangan kali ini.

Di sisi lain, dolar AS justru mampu menguat terhadap yuan China. Para analis memperkirakan bahwa keterkaitan erat antara perekonomian China dan Indonesia, khususnya dalam rantai pasok komoditas, turut memberikan sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. Ketika yuan melemah terhadap dolar AS, mata uang negara-negara mitra dagang utama China di kawasan Asia, termasuk rupiah, acap kali terseret ke zona negatif.

"Pergerakan ini mencerminkan adanya kerentanan spesifik pada rupiah yang tidak dialami oleh mata uang developed countries. Meskipun indeks dolar AS secara umum tidak terlalu agresif hari ini, faktor teknikal dan kebutuhan valas dalam negeri tampaknya menjadi pemberat utama bagi rupiah," tulis analis pasar dalam tinjauan harian yang dikutip media kami.

Pelaku pasar kini tengah menanti langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk meredam volatilitas yang berpotensi menggerus cadangan devisa, sambil terus memantau bagaimana perkembangan nilai tukar yuan akan mempengaruhi mata uang Asia lainnya dalam beberapa hari ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kimberly-sutanto

Reporter Selebriti. Reporter selebriti dan entertainment.

Comments (0)

User