[Dua Pemuda Indonesia] — Bermodal Rp50 Keliling Dunia, Berakhir Menggelandang

Dua pemuda Indonesia, Saleh dan Darmadjati, terpaksa menggelandang di tengah perjalanan ambisius mereka mengelilingi dunia dengan sepeda. Dengan hanya berm

Jul 11, 2026 - 15:59
0 0
[Dua Pemuda Indonesia] — Bermodal Rp50 Keliling Dunia, Berakhir Menggelandang

Dua pemuda Indonesia, Saleh dan Darmadjati, terpaksa menggelandang di tengah perjalanan ambisius mereka mengelilingi dunia dengan sepeda. Dengan hanya bermodalkan uang Rp50 di saku, keduanya kini terjebak dalam situasi tak terduga yang memaksa mereka tidur di emperan toko dan bertahan hidup dari belas kasihan orang asing.

Mimpi Besar dengan Modal Tipis

Saleh (24) dan Darmadjati (25), keduanya berasal dari Yogyakarta, memulai petualangan pada awal 2026 dengan satu tekad: membuktikan bahwa keterbatasan dana bukan penghalang untuk menjelajahi dunia. Berbekal dua sepeda tua, perlengkapan seadanya, dan uang tunai yang nyaris tak cukup untuk makan sehari, mereka meninggalkan Indonesia dengan rute awal menuju Asia Tenggara daratan.

Konsep perjalanan mereka bertumpu pada keramahan penduduk lokal dan strategi sukarelawan. Saleh mengaku telah menghubungi komunitas pesepeda di berbagai negara yang bersedia menyediakan tempat bermalam gratis. Namun, rencana itu mulai retak saat mereka memasuki kawasan Eropa Timur.

Kondisi yang Memaksa Mereka Menggelandang

"Kami sebenarnya hanya butuh tempat untuk mengisi ulang tenaga. Tapi di beberapa kota, kontak yang kami andalkan tiba-tiba membatalkan bantuan. Satu-satunya pilihan adalah tidur di taman atau terminal bus," ujar Saleh melalui pesan singkat kepada tim Warkini.com.

Krisis akut terjadi di perbatasan Hungaria-Rumania ketika dompet Darmadjati raib dicopet. Sisa uang Rp50 yang disimpan di saku celana menjadi satu-satunya pegangan. Keduanya tak lagi bisa membeli makanan layak, apalagi membayar hostel. Selama lebih dari sepekan, mereka bertahan dengan mengonsumsi roti sisa dari toko roti dan air dari keran umum, sementara sepeda menjadi satu-satunya "rumah" yang mereka miliki.

Puncaknya, di kota Debrecen, Hungaria, mereka tidur di emperan Stasiun Debrecen selama tiga malam berturut-turut. Pihak keamanan stasiun sempat mengamankan keduanya, tetapi setelah mengetahui latar belakang perjalanan mereka, petugas justru memberikan makanan dan mengizinkan mereka beristirahat di ruang tunggu.

Respons Publik dan Bantuan

Kisah Saleh dan Darmadjati mulai menarik perhatian setelah seorang mahasiswa Hungaria mengunggah foto mereka di media sosial. Unggahan itu viral dan memicu gelombang solidaritas. Komunitas pesepeda Eropa menggalang dana darurat, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Budapest turun tangan menawarkan tempat berlindung sementara.

KBRI Budapest memastikan bahwa kedua pemuda itu dalam kondisi sehat secara fisik, meskipun kelelahan akut. Pihak kedutaan juga memfasilitasi komunikasi dengan keluarga di Indonesia dan mengupayakan kepulangan yang layak jika diperlukan.

"Kami menghormati semangat mereka, tapi keselamatan tetap prioritas. Kami mengimbau warga negara Indonesia yang ingin melakukan perjalanan ekstrem agar mempersiapkan logistik dan perlindungan yang memadai," ujar Juru Bicara KBRI Budapest, Endah Kusumawati.

Di sisi lain, seorang aktivis mobilitas global mengkritik fenomena perjalanan minim modal sebagai bentuk "beban moral" bagi komunitas lokal yang mungkin tidak siap menerima kedatangan wisatawan tanpa kemampuan finansial. Namun, banyak pihak menilai petualangan Saleh dan Darmadjati sebagai cerminan keberanian anak muda Indonesia yang perlu direspons dengan kebijakan dukungan yang lebih terstruktur.

Hingga berita ini ditulis, Saleh dan Darmadjati masih berada di Budapest dengan rencana melanjutkan perjalanan ke Asia Tengah setelah kondisi finansial dan mental pulih. Mereka berjanji akan menerbitkan panduan perjalanan minim modal agar pengalaman pahit ini tidak terulang oleh petualang lain.

Sebagai penutup, berikut tiga pertanyaan esensial yang sering muncul dari kisah ini:

[SOCIAL_TWEET]: Dua pemuda Indonesia, Saleh & Darmadjati, nekat keliling dunia bermodal Rp50. Nasibnya? Terpaksa menggelandang di Hungaria. KBRI turun tangan. 🚲🌍 #PetualanganEkstrem #WargaIindonesia[SOCIAL_TG]: Dua pemuda Yogyakarta, Saleh & Darmadjati, terpaksa menggelandang saat misi keliling dunia. Modal cekak Rp50, dompet raib, kontak bantuan batal semua. Kini KBRI Budapest turun tangan. Apakah perjalanan ekstrem minim persiapan bisa dibenarkan?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User