Jembatan Jampangtengah Hancur, Warga Seberangi Sungai Cimandiri Pakai Perahu Karet
SUKABUMI — Ratusan warga di Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini harus mengandalkan perahu karet untuk menyeberangi Sungai Cimandi
SUKABUMI — Ratusan warga di Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini harus mengandalkan perahu karet untuk menyeberangi Sungai Cimandiri. Satu-satunya jembatan penghubung antardesa di wilayah itu hancur total akibat diterjang banjir bandang pada awal pekan lalu. Kondisi ini memaksa semua aktivitas warga — dari pergi bekerja, bersekolah, hingga mengakses layanan kesehatan — dilakukan dengan menyeberangi sungai selebar 60 meter yang berarus deras.
Jembatan gantung semi permanen yang dibangun swadaya masyarakat pada 2018 itu putus pada bagian tengah setelah dihantam material kayu dan batu besar yang terbawa luapan Sungai Cimandiri. Hujan deras yang mengguyur kawasan Sukabumi selama tiga hari berturut-turut memicu kenaikan debit air sungai hingga melampaui ambang normal. Dalam sekejap, jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan warga hancur dan terseret arus.
Perahu Karet Jadi Andalan, Risiko Tinggi Menghantui
Sejak jembatan putus, warga bahu-membahu menyediakan tiga unit perahu karet bekas yang diperoleh dari sumbangan relawan dan komunitas peduli bencana. Setiap hari, perahu-perahu itu hilir mudik mengangkut penumpang — mulai dari petani yang hendak ke sawah, pelajar berseragam, hingga ibu-ibu yang berbelanja kebutuhan pokok. Proses penyeberangan memakan waktu sekitar lima hingga tujuh menit, bergantung pada derasnya arus.
Namun, penggunaan perahu karet tanpa alat keselamatan memadai memicu kekhawatiran. Tidak ada pelampung standar yang tersedia bagi para penumpang. Beberapa perahu bahkan dalam kondisi bocor ringan dan harus ditambal seadanya. "Kami sadar ini berisiko, apalagi kalau arus sedang tinggi. Tapi tidak ada pilihan lain," ujar Ujang (47), salah seorang operator perahu warga.
"Setiap kali ada yang menyeberang, kami hanya bisa berdoa. Kalau sampai perahu terbalik, tidak ada yang bisa menolong. Arus Sungai Cimandiri sangat kuat."
— Ujang, warga Kampung Ciparay
Anak Sekolah Rela Berbasah-basah Demi Menimba Ilmu
Kondisi paling memprihatinkan dialami puluhan pelajar SD dan SMP yang setiap hari harus menyeberang sungai untuk mencapai sekolah mereka di Desa Ciracap. Sebagian anak terpaksa tidak masuk sekolah karena orang tua khawatir akan keselamatan mereka. Mereka yang tetap berangkat harus rela tiba di sekolah dengan pakaian basah dan buku pelajaran terlindung plastik seadanya.
"Biasanya saya berangkat jam enam pagi. Sekarang harus lebih pagi lagi supaya bisa antre perahu karet. Kadang kalau hujan, saya tidak jadi sekolah," kata Salma (12), siswi kelas enam yang tinggal di Kampung Bojonglopang. Raut wajahnya menunjukkan campuran antara semangat menuntut ilmu dan kepasrahan menghadapi kenyataan pahit.
Dampak Ekonomi dan Akses Kesehatan Terganggu
Jembatan yang putus tidak hanya memutus mobilitas warga, tetapi juga melumpuhkan perekonomian lokal. Petani di wilayah Jampangtengah kesulitan membawa hasil panen — terutama padi, kelapa, dan pisang — menuju pasar di kecamatan tetangga. Biaya penyeberangan menggunakan perahu karet pun menambah beban: setiap orang dikenakan tarif sukarela Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang untuk sekali jalan. Bagi warga yang sehari bisa bolak-balik dua hingga tiga kali, pengeluaran ini terasa sangat memberatkan.
Di sisi lain, akses menuju Puskesmas Jampangtengah menjadi sangat terbatas. Pasien dengan kondisi darurat — termasuk ibu hamil yang akan melahirkan — harus dipikul menggunakan tandu darurat dan diseberangkan dengan perahu karet. Beberapa warga melaporkan adanya kejadian seorang warga lansia yang meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis akibat hambatan akses ini, meskipun pihak puskesmas belum memberikan konfirmasi resmi.
Respons Pemerintah dan Harapan Warga
Pemerintah Kecamatan Jampangtengah telah mengajukan permohonan bantuan darurat ke Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Sementara itu, BPBD Kabupaten Sukabumi telah menurunkan tim untuk melakukan asesmen kerusakan dan menyalurkan bantuan logistik berupa kebutuhan pokok, terpal, serta perahu karet tambahan. Namun, warga berharap lebih dari sekadar bantuan sementara.
"Kami butuh jembatan permanen. Sudah tiga kali jembatan ini dibangun dan roboh. Kalau hanya diperbaiki sementara, nanti akan hancur lagi. Kami ingin jembatan yang kokoh, yang tidak akan putus meskipun banjir besar," tegas Ade Suherman (52), Ketua RW setempat, saat ditemui di pinggir sungai.
"Kami sudah berulang kali mengusulkan jembatan permanen ke pemerintah daerah. Sekarang, harapan itu semakin besar karena kondisi benar-benar darurat. Jangan sampai ada korban jiwa lagi hanya karena jembatan."
— Ade Suherman, tokoh masyarakat
Solusi Jangka Panjang Mulai Diupayakan
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil audit teknis dari tim geologi dan konstruksi. "Kami tidak mau buru-buru membangun jembatan baru tanpa kajian yang matang. Sungai Cimandiri memiliki karakter arus yang sangat dinamis, sehingga desain jembatan harus benar-benar memperhitungkan faktor hidrologi dan geoteknik," ujar Kepala Dinas PUTR melalui sambungan telepon. Ia memperkirakan proses perencanaan dan pembangunan jembatan baru akan memakan waktu paling cepat enam bulan setelah anggaran disetujui.
Sementara menunggu realisasi tersebut, warga Jampangtengah masih harus bergelantungan pada perahu karet — mengarungi Sungai Cimandiri yang bisa sewaktu-waktu meluap. Di setiap penyeberangan, terselip harapan agar pemerintah segera bertindak sebelum nyawa lain menjadi taruhannya.
[SOCIAL_TWEET]: Jembatan satu-satunya putus, warga Jampangtengah Sukabumi kini bertaruh nyawa menyeberangi Sungai Cimandiri pakai perahu karet. Anak sekolah, petani, hingga ibu hamil harus mengarungi arus deras. Harapan mereka cuma satu: jembatan permanen. #Sukabumi #DaruratInfrastruktur #SungaiCimandiri[SOCIAL_TG]: 🚤💔 Warga Jampangtengah Sukabumi kini mengandalkan perahu karet untuk menyeberangi Sungai Cimandiri setelah jembatan hancur total. Anak sekolah, petani, pasien darurat — semua sama: bertaruh nyawa di atas arus deras. Jembatan permanen ditunggu, tapi entah kapan.
Comments (0)