warkini.
Travel

Misi Evakuasi Jenazah Dokter Pendaki Pakistan di Gunung Spantik Terhenti

GILGIT — Salju lebat yang mengguyur kawasan Gunung Spantik pada Minggu memaksa tim penyelamat menghentikan sementara upaya evakuasi jenazah pendaki asal Pa

Misi Evakuasi Jenazah Dokter Pendaki Pakistan di Gunung Spantik Terhenti

GILGIT — Salju lebat yang mengguyur kawasan Gunung Spantik pada Minggu memaksa tim penyelamat menghentikan sementara upaya evakuasi jenazah pendaki asal Pakistan, Dr Asma Mushtaq, yang meninggal dunia saat menuruni puncak setinggi 7.027 meter di Distrik Shigar, Gilgit-Baltistan.

Dr Mushtaq, 34 tahun, meninggal dunia pada ketinggian sekitar 6.250 meter, Kamis lalu, ketika sedang dalam perjalanan turun dari puncak Spantik yang juga dikenal dengan nama Golden Peak. Pendaki perempuan itu dilaporkan mengalami high-altitude sickness, atau penyakit ketinggian, sebuah kondisi yang kerap menjadi mimpi buruk bagi para pendaki gunung tinggi karena datang secara mendadak dan sulit diprediksi.

Penyakit Ketinggian: Pembunuh Senyap di Puncak

Penyakit ketinggian mencakup beragam gangguan paru-paru dan otak yang dipicu oleh hipoksia, yakni kekurangan oksigen akibat pendakian yang terlalu cepat tanpa aklimatisasi yang memadai. Dalam kondisi parah, kekurangan oksigen ini dapat memicu edema paru ketinggian atau HAPE dan edema otak ketinggian atau HACE, dua kondisi yang sama-sama berbahaya dan kerap berakhir fatal bila tidak segera ditangani.

Hingga berita ini ditulis, jenazah Dr Mushtaq masih berada di Camp 3, pos pendakian ketiga yang berada di ketinggian sekitar 6.400 meter. Evakuasi jenazah dari titik tersebut bukanlah pekerjaan mudah, mengingat medan berbatu serta cuaca yang bisa berubah drastis dalam hitungan jam.

Tim Penyelamat Terpaksa Mundur ke Base Camp

Komisioner Divisi Baltistan, Kamal Khan, mengatakan kepada Dawn bahwa tim penyelamat yang beranggotakan enam porter pendaki dataran tinggi sempat mencapai Camp 2 dan mencoba melanjutkan misi menuju Camp 3. Namun, hujan deras dan salju yang terus mengguyur memaksa mereka berbalik arah dan kembali ke Base Camp demi keselamatan.

"Karena salju yang terus turun lebat dan angin yang sangat kencang, kondisi menjadi sangat berbahaya dan berisiko tinggi," ujar Kamal Khan. "Tim penyelamat tidak bisa bertahan dengan aman di Camp 2, sehingga seluruh tim penyelamat harus kembali."

Kamal Khan menambahkan bahwa seluruh anggota tim kini telah tiba di Base Camp dalam keadaan selamat. Upaya evakuasi jenazah berikutnya, lanjutnya, akan dipertimbangkan kembali begitu kondisi cuaca di kawasan pegunungan itu mulai membaik.

"Misi ini dilakukan di bawah kondisi ketinggian dan cuaca yang sangat ekstrem. Keselamatan tim evakuasi tetap menjadi prioritas utama," tegasnya.

Jendela Cuaca Jadi Penentu Kelanjutan Misi

Berdasarkan siaran pers yang diterbitkan Sekretaris Jenderal Alpine Club of Pakistan (ACP), Ayaz Shigri, pada Sabtu, jenazah Dr Mushtaq diperkirakan berada di ketinggian sekitar 6.400 meter. Tim pemulihan dilaporkan berangkat pada Jumat dan sempat mencapai Camp 2 pada Sabtu, tetapi operasi kembali terhenti lantaran salju tebal yang menyelimuti jalur pendakian.

"Tim pemulihan berangkat kemarin (Jumat) dan mencapai Camp 2 hari ini (Sabtu), tetapi operasi harus dihentikan karena salju lebat," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Tim telah disarankan untuk kembali ke Base Camp dan menunggu jendela cuaca yang sesuai."

Sebelumnya, persetujuan misi kemanusiaan berupa evakuasi lewat helikopter juga telah diupayakan untuk mempercepat proses pemulangan jenazah. Namun, kondisi cuaca yang buruk membuat penerbangan helikopter pun belum memungkinkan, sehingga seluruh harapan kini tertumpu pada perbaikan cuaca dalam beberapa hari ke depan.

Spantik, yang dikenal luas di kalangan pendaki dunia karena wajah emasnya yang khas, merupakan salah satu gunung tujuh ribu meter yang paling populer di Pakistan. Namun, popularitas itu datang dengan risiko besar: perubahan cuaca yang ekstrem dan minimnya waktu aklimatisasi kerap menjadikan jalur pendakiannya berbahaya, terutama bagi pendaki yang memaksakan diri mencapai puncak dalam waktu singkat.

Poin Kunci

  • Dr Asma Mushtaq, pendaki perempuan Pakistan berusia 34 tahun, meninggal akibat penyakit ketinggian pada Kamis lalu.
  • Jenazahnya berada di ketinggian sekitar 6.400 meter, tepatnya di kawasan Camp 3 Gunung Spantik.
  • Tim penyelamat beranggotakan enam porter terpaksa mundur ke Base Camp karena hujan dan salju lebat.
  • Operasi evakuasi akan dilanjutkan ketika cuaca membaik, dengan tim menunggu jendela cuaca yang aman.
[SOCIAL_TWEET]: Salju lebat paksa tim penyelamat hentikan evakuasi jenazah pendaki Pakistan Dr Asma Mushtaq di Gunung Spantik. Cuaca ekstrem jadi penghalang utama. #GunungSpantik #PendakiPakistan [SOCIAL_TG]: 🏔️ Salju lebat hentikan evakuasi jenazah pendaki wanita Pakistan di Gunung Spantik (7.027 mdpl). Tim 6 porter terpaksa mundur ke Base Camp. Jenazah masih di Camp 3, menunggu jendela cuaca. Baca selengkapnya di Warkini.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS wendy-anwar

Reporter Travel. Menjelajah destinasi Indonesia dan tips wisata.

Comments (0)

User