Niat Tunjukkan Bukti Bayar QRIS, Pembeli Ayam Goreng Malah Dimaki Penjual
Sebuah insiden tak mengenakkan terjadi di sebuah gerai ayam gunting di Malaysia, memperlihatkan betapa transaksi non-tunai yang seharusnya mempermudah justru bisa berujung pada konflik verbal. Berdas
Sebuah insiden tak mengenakkan terjadi di sebuah gerai ayam gunting di Malaysia, memperlihatkan betapa transaksi non-tunai yang seharusnya mempermudah justru bisa berujung pada konflik verbal. Berdasarkan laporan yang dihimpun Warkini.com, seorang pembeli justru mendapat umpatan dan makian dari penjual, padahal ia hanya berniat baik menunjukkan bukti pembayaran yang telah ia lakukan melalui sistem QRIS.
Kronologi Kejadian
Peristiwa itu bermula ketika pembeli yang kisahnya viral di media sosial tersebut memesan ayam goreng gunting di sebuah lapak pinggir jalan. Setelah menerima pesanan, sesuai prosedur umum transaksi digital saat ini, pembeli segera memindai kode QR yang terpampang dan menyelesaikan pembayaran. Layaknya pelanggan yang bertanggung jawab, ia lantas menunjukkan layar ponselnya kepada sang penjual sebagai konfirmasi bahwa dana telah ditransfer.
Namun, niat baik untuk memberikan transparansi transaksi itu justru disambut dengan amarah. Dalam video yang beredar luas, tampak sang penjual dengan nada tinggi memaki dan mengusir pembeli tersebut. Sang penjual terdengar tidak terima dan justru menyalahkan pembeli yang dianggap bersikap seolah-olah ia tidak percaya pada pedagangnya. Padahal, menunjukkan bukti bayar adalah langkah lumrah yang dilakukan banyak orang untuk menghindari kesalahpahaman di tengah riuhnya suasana.
Viral di Media Sosial
Cuplikan video pendek yang memperlihatkan raut muka terkejut sang pembeli dan bentakan penjual itu dengan cepat menyebar di berbagai platform. Warkini.com memantau bahwa warganet ramai mengecam sikap arogan penjual yang dinilai tidak memiliki tata krama dalam melayani pelanggan. Banyak yang menilai, meskipun penjual mungkin merasa lelah atau sedang sibuk, tidak ada pembenaran untuk memaki seseorang yang hanya ingin memastikan uangnya telah sampai dengan aman.
"Saya cuma mau nunjukin bukti transfer, bukan maksud mencurigai. Tapi dia malah marah-marah dan ngomong kasar. Harusnya kan transparan itu bagus untuk kedua pihak," tulis salah satu netizen yang mengomentari insiden tersebut di platform X, mengutip curahan hati si pembeli.
Perilaku Pedagang Jadi Sorotan
Psikolog sosial yang dihubungi media kami menyebut bahwa insiden ini mencerminkan sebagian kecil oknum pelaku usaha yang masih gagap terhadap transformasi pembayaran digital. Mereka menganggap ajakan untuk verifikasi sebagai bentuk ketidakpercayaan personal, alih-alih melihatnya sebagai bagian dari standar operasional bisnis modern.
Hingga berita ini dimuat di Warkini.com, identitas pasti lokasi gerai serta pemilik usaha tersebut masih dalam penelusuran warganet. Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa sopan santun dan profesionalisme wajib dikedepankan dalam setiap interaksi jual beli, terlepas dari metode pembayaran yang digunakan. Kasus ini pun menjadi pelajaran bahwa kemajuan teknologi pembayaran harus dibarengi dengan kecakapan pengendalian emosi dari para pelaku usaha.
Comments (0)