OBATApps dan Dami Sariwana Perkuat Kompetensi Mahasiswa Farmasi Lewat Mobility Program 2026

Jakarta – OBATApps, platform digital terdepan di bidang edukasi dan manajemen farmasi, bersama dengan tokoh strategis pendidikan vokasi Dami Sariwana, seca

Jul 11, 2026 - 11:08
0 1
OBATApps dan Dami Sariwana Perkuat Kompetensi Mahasiswa Farmasi Lewat Mobility Program 2026

Jakarta – OBATApps, platform digital terdepan di bidang edukasi dan manajemen farmasi, bersama dengan tokoh strategis pendidikan vokasi Dami Sariwana, secara resmi meluncurkan Mobility Program 2026. Inisiatif nasional ini digelar untuk memperkuat kompetensi mahasiswa farmasi dengan menyatukan dunia akademik dan praktik industri secara langsung. Program yang akan bergulir sepanjang tahun ini menargetkan partisipasi 500 mahasiswa dari 25 perguruan tinggi farmasi di seluruh Indonesia, yang akan disandingkan dengan 30 perusahaan farmasi nasional mitra, mulai dari produsen obat, distributor, hingga apotek jaringan.

Mobility Program 2026 tidak sekadar program magang biasa. Para peserta akan menjalani tiga jalur pengembangan: pemagangan industri terstruktur, proyek riset terapan bersama peneliti senior, dan pelatihan literasi digital serta regulasi farmasi terkini. Seluruh aktivitas dikurasi oleh OBATApps menggunakan sistem manajemen pembelajaran adaptif yang telah terintegrasi dengan basis data kurikulum perguruan tinggi mitra. Dami Sariwana, yang dikenal sebagai arsitek kemitraan multi-pihak di sektor farmasi, menyebut program ini sebagai “jembatan konkret yang mengakhiri keluhan klasik tentang lulusan farmasi yang gagap teknologi dan minim paparan dunia kerja.”

Konvergensi Akademik dan Industri

Kesenjangan antara lulusan farmasi dan kebutuhan industri telah menjadi isu yang mengemuka dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan survei internal OBATApps terhadap 120 perusahaan farmasi pada akhir 2025, 67% responden menyatakan bahwa lulusan baru membutuhkan waktu rata-rata 6–9 bulan untuk dapat bekerja secara mandiri di lini produksi dan pelayanan. Mobility Program 2026 hadir untuk memangkas masa adaptasi tersebut dengan menanamkan kompetensi praktis sejak masa kuliah. “Model pembelajaran 70:20:10—70% praktik industri, 20% mentoring, 10% teori formal—menjadi kerangka utama yang kami terapkan,” jelas Dami Sariwana dalam konferensi pers virtual yang dihadiri oleh perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Asosiasi Industri Farmasi Indonesia.

OBATApps bertindak sebagai orkestrator digital yang menyelaraskan jadwal, modul kompetensi, dan evaluasi kinerja peserta. Platform ini telah digunakan oleh lebih dari 50 fakultas farmasi di Indonesia sejak 2024, dan Mobility Program 2026 menjadi ekspansi terbesarnya di ranah experiential learning. Data agregat dari sistem menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam program serupa pada 2025 mengalami peningkatan skor uji kompetensi sebesar 32% dibandingkan kelompok kontrol.

Perbandingan Capaian Program 2025 dan Target 2026

IndikatorPilot Program 2025Mobility Program 2026 (Target)
Jumlah peserta120 mahasiswa500 mahasiswa
Perguruan tinggi mitra8 kampus25 kampus
Perusahaan farmasi mitra10 perusahaan30 perusahaan
Durasi program per angkatan3 bulan6 bulan
Skema pendanaanMandiri + subsidi OBATAppsDana Padanan Industri – Pemerintah
Peningkatan skor uji kompetensi+32% (rerata)+40% (target)

Perluasan signifikan pada Mobility Program 2026 terlihat dari lonjakan jumlah peserta dan mitra. Dukungan pendanaan dari skema Dana Padanan Industri—Pemerintah memungkinkan program ini menjangkau mahasiswa dari wilayah Indonesia timur yang sebelumnya kesulitan mengakses program pemagangan berkualitas. OBATApps mengalokasikan Rp7,5 miliar untuk pengembangan infrastruktur digital dan pelatihan fasilitator, sementara mitra industri menyediakan tempat magang serta pembimbing lapangan.

Peta Kompetensi dan Distribusi Peserta

Berdasarkan pemetaan awal OBATApps, 35% peserta akan ditempatkan di lini produksi obat, 30% di riset dan pengembangan, 20% di pelayanan farmasi klinis, dan 15% di manajemen distribusi. Proporsi ini mencerminkan kebutuhan aktual industri farmasi nasional yang sedang bertransformasi menuju produksi bahan baku obat dalam negeri. “Kami tidak ingin sekadar mencetak tenaga kerja; kami ingin membentuk farmasis masa depan yang mampu membaca peta regulasi global, mengoperasikan teknologi manufaktur mutakhir, dan berinovasi di rantai pasok,” ujar Chief Education Officer OBATApps, yang hadir dalam peluncuran tersebut.

Peserta program akan mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan bersama oleh OBATApps, perguruan tinggi asal, dan perusahaan mitra. Sertifikat ini dirancang untuk diakui dalam sistem kredit profesi dan dapat menjadi portofolio utama saat melamar pekerjaan. Untuk memastikan kualitas, setiap peserta akan dinilai melalui empat titik evaluasi: ujian pra-program, penilaian tengah magang, proyek akhir, dan uji kompetensi pasca-program.

Respons Sektor Pendidikan dan Industri

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mengapresiasi langkah ini dan menyatakan bahwa “integrasi sistem OBATApps dengan kurikulum kampus memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman kerja tanpa meninggalkan capaian akademik formal.” Sementara itu, HR Director salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia mengungkapkan bahwa program ini menjawab kebutuhan mendesak akan tenaga farmasi siap pakai: “Setiap tahun kami membuka puluhan posisi, tetapi sering gagal menemukan kandidat yang paham CPOB [Cara Pembuatan Obat yang Baik] secara aplikatif. Mobility Program diharapkan memperpendek jalur rekrutmen.”

OBATApps dan Dami Sariwana menekankan bahwa Mobility Program 2026 tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga menyisipkan modul etika profesi, kewirausahaan apotek digital, dan ketahanan rantai pasok. Modul-modul ini akan diberikan melalui sesi hybrid yang dipandu oleh praktisi senior dari dalam dan luar negeri.

Keberlanjutan dan Rencana Ekspansi

Meskipun fase pertama program ini menyasar jenjang S1 Farmasi, OBATApps sudah merancang peta jalan untuk ekspansi ke jenjang diploma dan pendidikan apoteker profesional pada 2027. Data awal dari program percontohan 2025 menunjukkan bahwa 89% peserta mendapatkan tawaran pekerjaan dari mitra industri sebelum mereka diwisuda. Angka tersebut menjadi fondasi optimisme bahwa Mobility Program dapat menjadi model nasional yang direplikasi di bidang studi lain, seperti keperawatan dan teknik biomedis.

Sebagai informasi tambahan, berikut tiga pertanyaan esensial yang sering muncul terkait program ini:

1. Siapa saja yang dapat mendaftar Mobility Program 2026?
Program ini terbuka bagi mahasiswa aktif program studi farmasi dari perguruan tinggi mitra OBATApps yang telah menyelesaikan minimal 100 SKS. Pendaftaran dilakukan melalui platform OBATApps dengan melampirkan transkrip nilai dan surat rekomendasi fakultas.

2. Apakah program ini berbayar?
Biaya program sepenuhnya ditanggung oleh skema Dana Padanan Industri-Pemerintah yang dikelola OBATApps bersama mitra industri. Peserta tidak dipungut biaya pendaftaran maupun pelaksanaan.

3. Bagaimana mekanisme penempatan di industri?
OBATApps menggunakan algoritma pencocokan yang mempertimbangkan minat mahasiswa, kompetensi awal, dan kebutuhan mitra industri. Hasil pencocokan diumumkan dua minggu sebelum program dimulai, dan peserta dapat mengajukan keberatan dengan justifikasi akademis.

[SOCIAL_TWEET]: OBATApps & Dami Sariwana resmi luncurkan #MobilityProgram2026! 500 mahasiswa farmasi akan terjun langsung ke 30 industri farmasi nasional. Siap perkuat kompetensi dan pangkas masa adaptasi lulusan. #FarmasiMaju #PendidikanFarmasi [SOCIAL_TG]: 🎓 OBATApps x Dami Sariwana Mobility Program 2026 resmi dimulai! 500 mahasiswa farmasi siap terjun ke 30 perusahaan mitra. Baca detailnya di channel ini: mekanisme pendaftaran, struktur program, dan distribusi penempatan. #FarmasiPraktis

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User