Kabut asap pekat kembali membayangi musim kemarau tahun ini. Dari ujung Sumatera hingga pedalaman Kalimantan, titik-titik panas bermunculan di layar pemantauan satelit, menandai bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum pergi dari peta persoalan lingkungan Indonesia. Namun di balik kobaran api yang kerap dianggap "musiman" itu, para ahli menegaskan satu fakta yang sering luput dari sorotan publik: aktivitas manusia adalah penyebab dominan karhutla, bukan semata-mata amukan cuaca.
Cara pandang masyarakat selama ini cenderung menyalahkan alam. Fenomena El Niño dan kemarau kering memang nyaris selalu dikaitkan dengan maraknya kebakaran. Padahal, menurut para pakar, kondisi iklim tersebut hanya berperan sebagai pemantik sekaligus percepat penyebaran api—bukan aktor yang pertama kali menyalakannya. Api yang merambat liar di lahan gambut dan hutan hujan tropis pada dasarnya bermula dari tangan manusia.
Akar Masalah: Lahan Dibakar demi Kemudahan
Hasil pengawasan satelit secara konsisten menunjukkan bahwa hampir seluruh kejadian karhutla bersumber dari aktivitas antropogenik atau berasal dari manusia. Pembukaan lahan dengan cara dibakar dianggap paling murah dan cepat oleh sebagian pelaku usaha perkebunan. Pola slash and burn alias tebang dan bakar masih dipraktikkan, baik oleh petani skala kecil maupun pelaku usaha yang mengabaikan prosedur. Ditambah lagi, pembuangan puntung rokok sembarangan dan lalai merawat lahan turut memicu percikan api pertama.
"Faktor manusia sangat dominan sebagai penyebab karhutla. El Niño dan kemarau kering hanya memperbesar risiko serta mempercepat penyebaran api. Karena itu, pencegahan tidak boleh berhenti pada pemadaman, tetapi harus menyentuh perubahan perilaku," ungkap seorang pakar kebakaran hutan dan lahan dalam paparannya.
Pernyataan itu menjadi catatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan. Selama puluhan tahun, respons terhadap karhutla lebih banyak bertumpu pada operasi pemadaman besar-besaran yang melibatkan helikopter water bombing, tentara, dan relawan. Biayanya fantastis, namun kebakaran tetap kembali setiap musim kemarau. Ini bukti bahwa strategi kuratif saja tidak pernah cukup.
El Niño dan Kemarau: Pemantik, Bukan Penyebab
Secara ilmiah, peran iklim dalam dinamika karhutla memang signifikan. Saat El Niño terjadi, curah hujan menurun drastis, lahan gambut yang seharusnya lembap menjadi mudah terbakar, dan kelembapan udara anjlok. Satu percikan api kecil dapat menjalar menjadi ribuan hektare dalam hitungan hari. Meski demikian, tanpa aktivitas manusia yang menyalakan api, fenomena iklim ekstrem tidak akan otomatis menghasilkan kebakaran.
| Sumber Penyebab | Karakteristik | Sifat Kejadian |
|---|---|---|
| Aktivitas manusia | Pembukaan lahan, tebang bakar, kelalaian | Dominan dan berulang |
| El Niño/kemarau kering | Meningkatkan flammability lahan | Pemantik risiko, bukan sumber api |
| Sambaran petir | Alami, sangat jarang di gambut | Kontribusi minor |
Perubahan Perilaku, Kunci Utama Pencegahan
Para ahli menggarisbawahi bahwa intervensi paling efektif justru berada di ranah sosial dan budaya. Beberapa langkah yang dinilai strategis meliputi:
- Edukasi berkelanjutan kepada petani dan masyarakat sekitar hutan tentang bahaya dan biaya ekonomi karhutla;
- Pendampingan teknik pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning) yang murah dan mudah diterapkan;
- Penegakan hukum yang tegas dan konsisten terhadap pembakar lahan, termasuk korporasi;
- Pemberian insentif bagi masyarakat lokal yang menjaga lanskapnya tetap bebas api;
- Penguatan sistem deteksi dini dan keterlibatan masyarakat peduli api di desa rawan kebakaran.
Mengubah perilaku memang bukan pekerjaan semalam. Butuh kesabaran, pendekatan kemanusiaan, dan konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan. Namun pengalaman berbagai daerah yang berhasil menekan angka kebakaran menunjukkan bahwa ketika masyarakat memahami manfaat jangka panjang dari lahan sehat, mereka akan menjadi garda terdepat perlindungan hutan, bukan pencicil apinya.
Kolaborasi Multipihak Menjadi Keniscayaan
Pemerintah pusat dan daerah, korporasi, akademisi, hingga komunitas lingkungan dituntut bergerak bersama. Data dan teknologi satelit harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang tepat sasaran, sementara program pemberdayaan ekonomi alternatif perlu digencarkan agar masyarakat tak lagi bergantung pada cara pembukaan lahan yang merusak. Dengan menjadikan manusia sebagai pusat solusi, bukan sekadar objek pengawasan, Indonesia memiliki peluang memutus siklus karhutla secara permanen.
Pada akhirnya, api yang membakar hutan dan lahan Indonesia adalah cermin dari pilihan perilaku. Dan setiap pilihan perilaku, sesulit apa pun diubah, senantiasa menyimpan ruang untuk perbaikan.
[SOCIAL_TWEET]: Pakar: Faktor manusia jadi penyebab dominan karhutla! El Niño hanya pemantik. Pencegahan harus mulai dari perubahan perilaku. #Karhutla #LindungiHutan[SOCIAL_TG]: 🔥 Faktor manusia dominan picu karhutla — pakar serukan pencegahan berbasis perubahan perilaku, bukan hanya pemadaman. Baca analisisnya di Warkini.com!
Comments (0)