Penelusuran Klaim Aphelion Sebabkan Cuaca Dingin Picu Meriang
Jakarta — Beredar luas tangkapan layar di media sosial yang mengklaim bahwa fenomena astronomi Aphelion menyebabkan penurunan suhu bumi secara drastis, seh
Jakarta — Beredar luas tangkapan layar di media sosial yang mengklaim bahwa fenomena astronomi Aphelion menyebabkan penurunan suhu bumi secara drastis, sehingga memicu gejala meriang dan gangguan kesehatan lainnya. Klaim ini ramai disebarkan melalui grup WhatsApp, Instagram, dan Facebook, terutama saat musim pancaroba melanda sejumlah wilayah Indonesia. Namun, hasil penelusuran fakta menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak berdasar secara ilmiah dan patut diluruskan.
Aphelion adalah peristiwa ketika Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Secara ilmiah, fenomena ini tidak berkaitan langsung dengan perubahan suhu permukaan bumi dalam skala yang dapat dirasakan manusia. Klaim yang menyebut bahwa Aphelion membuat cuaca menjadi lebih dingin hingga menimbulkan meriang merupakan bentuk misinformasi yang perlu diluruskan.
Apa Itu Aphelion dan Kapan Terjadi?
Aphelion terjadi setiap tahun sekitar awal Juli. Pada saat itu, jarak Bumi dari Matahari mencapai sekitar 152,1 juta kilometer, lebih jauh dibandingkan dengan titik terdekatnya (perihelion) yang terjadi setiap awal Januari pada jarak sekitar 147,1 juta kilometer. Perbedaan jarak ini hanya sekitar 3 persen dari total jarak rata-rata, sehingga pengaruhnya terhadap intensitas cahaya matahari yang diterima Bumi sangat kecil.
Dengan kata lain, posisi Bumi yang lebih jauh dari Matahari saat Aphelion tidak serta-merta membuat suhu global turun tajam atau menyebabkan tubuh manusia menggigil. Faktor utama penentu suhu di suatu wilayah adalah kemiringan sumbu rotasi Bumi yang memengaruhi distribusi sinar matahari di berbagai belahan bumi, serta faktor cuaca dan iklim lokal.
Klaim yang Menyesatkan
Tangkapan layar dan unggahan yang viral menyertakan pesan berantai dalam bahasa Indonesia yang berbunyi, misalnya:
"Mulai besok hingga Agustus, bumi akan terasa lebih dingin dari biasanya. Ini karena fenomena Aphelion. Kalian akan merasa meriang, flu, demam, sesak napas. Jangan minum air dingin, mandi air hangat, dan pakai masker."
Narasi tersebut tidak disertai sumber ilmiah yang jelas dan sering dibumbui imbauan kesehatan yang tidak relevan. Beberapa versi bahkan menyematkan logo lembaga resmi untuk memberi kesan kredibel. Faktanya, tidak ada bukti medis maupun astronomis bahwa jarak Bumi—Matahari saat Aphelion mampu mengubah suhu lingkungan hingga memicu kumpulan gejala yang disebut "meriang Aphelion".
Penjelasan Ahli
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui situs resminya beberapa kali menegaskan bahwa fenomena Aphelion tidak berdampak signifikan terhadap suhu udara di permukaan Bumi. Perubahan suhu yang terjadi di Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh angin monsun timuran yang membawa massa udara kering dan dingin dari Australia, serta dinamika atmosfer jangka pendek seperti aktivitas awan dan hujan.
Lebih lanjut, astronom amatir dan komunitas ilmu pengetahuan juga menjelaskan, energi matahari yang mencapai Bumi saat Aphelion hanya sekitar 6,7 persen lebih rendah dibandingkan saat perihelion. Penurunan itu tidak cukup untuk dirasakan langsung oleh manusia, apalagi menyebabkan gejala meriang massal. Perubahan suhu harian akibat cuaca lokal atau musim jauh lebih dominan.
"Fenomena Aphelion adalah fakta astronomi biasa yang terjadi setiap tahun. Efeknya terhadap cuaca tidak sekuat yang dibayangkan. Yang perlu diwaspadai adalah perubahan cuaca dari kemarau ke penghujan atau sebaliknya, yang memang bisa berdampak pada daya tahan tubuh, tetapi itu bukan disebabkan oleh Aphelion," ujar Andi Pangerang, peneliti astronomi dari Pusat Riset Antariksa BRIN, dalam salah satu klarifikasinya.
Dampak Cuaca Terhadap Kesehatan: Bukan Karena Aphelion
Memasuki musim kemarau atau peralihan musim, sebagian orang memang lebih rentan terserang flu, batuk, atau meriang. Hal itu lebih disebabkan oleh faktor kelembapan udara, perubahan suhu siang—malam yang ekstrem, serta peningkatan debu dan alergen di lingkungan. Tidak ada kaitannya dengan jarak Bumi—Matahari.
Kementerian Kesehatan pun menyarankan agar masyarakat tetap menjaga pola makan sehat, cukup istirahat, memperbanyak konsumsi air putih, dan menjaga kebersihan diri. Imbauan memakai masker yang diselipkan dalam hoaks Aphelion sebenarnya lebih relevan untuk mencegah penularan penyakit pernapasan seperti influenza atau COVID-19, bukan untuk menangkal "cuaca dingin akibat Aphelion."
Dalam klarifikasi yang diunggah di akun Instagram resmi Jabar Saber Hoaks, disebutkan bahwa pesan tentang Aphelion dan meriang telah beredar sejak 2022 dan kembali viral di tahun-tahun berikutnya. Pola penyebarannya khas: mencocokkan waktu Aphelion dengan musim kemarau di Indonesia, kemudian menambah detail menakut-nakuti agar pesan cepat disebarkan.
Mengapa Hoaks Ini Mudah Dipercaya?
Beberapa unsur yang membuat klaim ini mudah menyebar adalah:
- Mengandung istilah sains seperti Aphelion yang terdengar asing namun berkesan ilmiah.
- Mengaitkan dengan pengalaman sehari-hari—banyak orang memang lebih sering batuk-pilek saat cuaca berganti.
- Disebar oleh orang terdekat—biasanya melalui grup keluarga sehingga terkesan informasi tepercaya.
- Menggunakan kalimat imperatif yang seolah memberi perlindungan: jangan minum es, mandi air hangat, pakai masker.
Struktur seperti ini lazim ditemui dalam berbagai hoaks kesehatan dan kebencanaan yang bergulir berulang di Indonesia. Para pakar komunikasi digital menyarankan agar masyarakat membiasakan diri mengecek sumber asli sebelum membagikan pesan berantai.
Kesadaran publik terhadap pentingnya literasi sains dan verifikasi informasi menjadi benteng utama melawan misinformasi semacam ini. Situs resmi seperti BMKG, BRIN, dan Kemenkes menyediakan saluran klarifikasi yang mudah diakses. Dengan sedikit usaha mencocokkan klaim dengan data dan pendapat ahli, kita dapat memutus rantai penyebaran hoaks.
Meluruskan klaim Aphelion bukan hanya soal ilmu astronomi, melainkan juga tentang kesehatan masyarakat. Kecemasan yang tidak perlu akibat informasi keliru dapat membuat seseorang mengabaikan faktor penyebab penyakit yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengandalkan sumber kredibel dan bersikap kritis terhadap pesan viral.
Kesimpulannya, fenomena Aphelion tidak menyebabkan cuaca menjadi lebih dingin secara drastis dan tidak memicu meriang pada manusia. Perubahan suhu yang dirasakan akhir-akhir ini merupakan bagian dari dinamika musiman yang lazim di Indonesia. Masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada pesan berantai yang tidak jelas sumbernya, dan terus mengedepankan informasi dari lembaga resmi.
FAQ:
TAGS: Aphelion, hoaks meriang, cuaca dingin, BMKG, astronomi
Media Sosial:
[SOCIAL_FB]: Pernah terima pesan berantai soal Aphelion bikin meriang? Itu hoaks! Yuk, baca penelusuran lengkapnya supaya gak ikut menyebar informasi yang salah.
[SOCIAL_THREADS]: Viral lagi nih soal Aphelion bikin cuaca dingin dan meriang. Faktanya? Zonk. Begini penjelasan dari astronom dan BMKG. Jangan gampang percaya broadcast ya.
Comments (0)