Polri Tingkatkan Penggunaan Produksi Lokal: Kaus Antisayat hingga Radiasi
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menunjukkan komitmennya dalam memadukan pengamanan dengan kemandirian teknologi nasional. Pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di L
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menunjukkan komitmennya dalam memadukan pengamanan dengan kemandirian teknologi nasional. Pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di Lapangan Pusat Latihan Brimob Polri, Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7/2026), Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memperkenalkan sederet perlengkapan khusus produksi dalam negeri yang kini digunakan personel di lapangan. Mulai dari kaus antisayat, pelindung anti-panah, hingga material penahan radiasi, seluruhnya merupakan hasil riset dan manufaktur lokal yang siap menopang tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Dari Seragam Hingga Alat Pelindung, Semua Lokal
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan ribuan tamu undangan, Kapolri Jenderal Sigit menegaskan bahwa penggunaan perlengkapan keamanan berbasis produksi lokal bukan sekadar pemenuhan kebutuhan operasional, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat industri nasional. "Kami mendorong kemandirian teknologi keamanan. Seluruh perlengkapan yang dipamerkan hari ini, dari seragam anti-sayat hingga alat deteksi dini, adalah karya anak bangsa. Ini langkah konkret Polri dalam menggerakkan ekonomi dan membuktikan bahwa produk kita mampu bersaing pada sektor yang sangat spesifik seperti pertahanan dan keamanan," ujarnya.
Laporan Warkini.com yang merangkum jalannya upacara menyebutkan, kaus antisayat yang dikenakan personel Brimob dan Satuan Khusus kini menggunakan serat komposit yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama pelaku industri tekstil tanah air. Bahan ini tidak hanya tahan terhadap senjata tajam pada tingkat ancaman tinggi, tetapi juga dirancang ergonomis agar tetap nyaman dipakai selama jam tugas panjang. Sementara itu, pelindung anti-panah diproduksi dengan memanfaatkan polimer khusus hasil rekayasa dari perusahaan komponen otomotif yang beralih memproduksi alat keamanan. Kedua produk ini, menurut paparan yang disaksikan langsung oleh pimpinan negara, menunjukkan bahwa rantai pasok dalam negeri mampu memenuhi standar tinggi tanpa bergantung pada impor.
Perlindungan Radiasi dan Teknologi Deteksi Dini
Inovasi lain yang menjadi sorotan adalah perlengkapan anti-radiasi untuk personel yang bertugas di wilayah berpotensi terpapar material nuklir, biologi, dan kimia (Nubika). Kapolri menjelaskan, peralatan tersebut merupakan kerja sama antara Korps Brimob dengan perguruan tinggi dan kementerian terkait. "Kami tidak hanya menyiapkan perlengkapan untuk ancaman konvensional. Di era yang semakin kompleks, personel butuh tameng terhadap ancaman non-konvensional," kata Jenderal Sigit. Media kami mencatat, perangkat ini telah melewati uji laboratorium dan simulasi lapangan yang ketat, sehingga layak digunakan dalam operasi kebencanaan maupun penanganan teror berbasis bahan berbahaya.
Selain perlengkapan perlindungan diri, Polri juga memamerkan alat pemantau keamanan berbasis sensor dan kecerdasan artifisial yang dikembangkan oleh startup nasional. Teknologi ini terintegrasi dengan pusat komando Polri dan mampu memberikan peringatan dini atas pergerakan massa atau potensi gangguan keamanan di area strategis. Dengan platform buatan lokal, Polri menekan biaya lisensi sekaligus mempercepat penyesuaian sistem sesuai kebutuhan geografis Indonesia.
"Kita tidak ingin sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi kita harus menjadi produsen yang mandiri. Hari ini kami buktikan, untuk urusan keamanan pun negeri ini punya kapasitas," tegas Kapolri di akhir sambutannya.
Dampak Ekonomi dan Rencana Perluasan
Penggunaan produk lokal tidak hanya berdampak pada operasional Polri. Menurut penjelasan yang dihimpun Warkini.com dari sesi pameran, setidaknya 2.500 tenaga kerja terserap dalam proyek pengembangan perlengkapan ini, mulai dari perajin kecil hingga pabrikan skala menengah. Polri menargetkan pada tahun 2027, 65 persen dari total anggaran pengadaan perlengkapan pengamanan akan disalurkan kepada industri dalam negeri, naik signifikan dari sekitar 40 persen pada tahun ini. Nominal tersebut mencakup pengadaan kaus antisayat, jaket anti-panah, helm khusus, hingga perangkat komunikasi taktis.
Langkah Polri ini mendapatkan apresiasi dari Presiden Prabowo yang menyebutnya sebagai "revolusi kecil dalam rantai pasok pertahanan." Menurut Presiden, kolaborasi antara institusi keamanan, peneliti, dan pelaku usaha mesti diperluas ke sektor lain. "Apa yang dilakukan Polri hari ini harus menjadi contoh bagi kementerian dan lembaga lain. Keamanan bukan sekadar urusan senjata, tetapi juga urusan kemandirian bangsa," ujar Presiden yang hadir dan menyaksikan langsung demonstrasi perlengkapan tersebut.
Dengan fondasi yang telah terbangun, Polri berencana mengekspor lisensi teknologi perlengkapan keamanan ke sejumlah negara sahabat. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara dan Afrika, menurut informasi yang beredar di sela acara, sudah menunjukkan ketertarikan untuk menjajaki kerja sama. Hal ini menegaskan bahwa inovasi dalam negeri bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan domestik, tetapi berpotensi menjadi komoditas strategis. Warkini.com akan terus memantau perkembangan realisasi rencana tersebut dan dampaknya terhadap lanskap industri pertahanan nasional.
Comments (0)