Roma Gagal Taklukkan Sassuolo, Kone Jadi Sorotan Utama

Laga pekan ke-20 Liga Italia 2025/2026 antara AS Roma dan Sassuolo berjalan dengan tensi tinggi di markas kebanggaan Giallorossi. Meski tampil di hadapan puluhan ribu pendukung setia, pasukan ibukota ...

Jul 12, 2026 - 07:01
0 0
Roma Gagal Taklukkan Sassuolo, Kone Jadi Sorotan Utama

Laga pekan ke-20 Liga Italia 2025/2026 antara AS Roma dan Sassuolo berjalan dengan tensi tinggi di markas kebanggaan Giallorossi. Meski tampil di hadapan puluhan ribu pendukung setia, pasukan ibukota justru terlihat sangat kesulitan mengembangkan permainan di babak pertama. Tekanan demi tekanan yang dilancarkan tim tamu sukses meredam agresivitas lini tengah tuan rumah, memaksa pertandingan berlangsung dalam tempo yang cukup lambat untuk ukuran sepak bola modern.

Kone Terisolasi di Tengah Kepungan

Pemandangan menarik tersaji ketika motor permainan Roma, Manu Kone, benar-benar dibuat mati kutu oleh strategi disiplin anak asuh Sassuolo. Gelandang berkebangsaan Prancis tersebut seperti kehilangan seluruh ruang geraknya. Sepanjang duel, ia acap kali menjadi korban penjagaan ketat dua gelandang lawan secara bersamaan. Ketika bola mengalir ke kakinya, langsung tercipta situasi dua lawan satu yang sangat rapat, memaksanya kerap kehilangan penguasaan bola atau terpaksa memutar badan tanpa bisa memberi umpan progresif.

Meskipun bertubuh kekar dan dikenal piawai dalam mempertahankan possession bola, Kone terlihat frustrasi. Upayanya menusuk dari lini kedua selalu kandas sebelum memasuki sepertiga lapangan akhir. Bahkan pada salah satu momen krusial di babak kedua, ia dihimpit begitu rupa hingga terpaksa menjatuhkan diri demi menghindari benturan keras. Wasit sempat menghentikan jalannya laga, tetapi tidak mengeluarkan kartu dari insiden tersebut, yang sontak memicu protes keras dari para pemain Roma.

Strategi Tuan Rumah yang Mudah Dibaca?

Pola serangan Roma malam itu bisa dibilang sangat mudah diantisipasi. Terlalu bergantung pada tusukan individu dan minimnya kreativitas dari sisi sayap membuat aliran bola cenderung stagnan. Tanpa kehadiran playmaker yang bisa mendikte ritme, Kone dipaksa turun terlalu dalam untuk menjemput bola. Alhasil, jarak antara lini tengah dan penyerang menjadi renggang. Situasi ini jelas sangat menguntungkan bagi Sassuolo yang cukup nyaman bermain di blok pertahanan rendah sambil menunggu momen serangan balik cepat.

Sassuolo sendiri tampil cukup percaya diri. Mereka tidak gentar meski bermain di Olimpico yang angker. Rahasianya adalah koordinasi lini tengah yang luar biasa solid. Dua pemain yang ditugaskan mengawal khusus Kone menjalankan peran tanpa cela, memutus seluruh koneksi vital ke lini depan Roma. Akibatnya, sang penyerang andalan jarang sekali mendapatkan suplai bola matang. Skema ini terbukti ampuh meredam agresivitas permainan vertikal khas tuan rumah.

Kritik Mulai Mengarah ke Taktik Pelatih

Pertandingan berakhir dengan skor yang mengecewakan bagi publik tuan rumah. Sektor media sosial pun sontak ramai membahas performa tim. Banyak yang menyoroti ketidakmampuan tim membaca situasi di lapangan. Beberapa komentar pedas menyebut lini tengah bergerak tak tentu arah dan pembacaan taktik sudah kedaluwarsa.

Terlepas dari itu semua, perjuangan Manu Kone layak diacungi jempol. Meski terus dihimpit dan kehilangan kreativitas, ia tetap berusaha memenangi duel-duel fisik. Hanya saja, sepak bola adalah olahraga kolektif. Ketika seorang pemain kunci dimatikan dan tidak ada rencana cadangan untuk membongkar pertahanan lawan, hasil imbang atau bahkan kekalahan adalah konsekuensi yang sulit dihindari. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim pelatih untuk menemukan opsi taktis yang lebih variatif di laga-laga selanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User