Sampah 2 Tahun Tak Diangkut, Warga Rusun Pluit Protes

Pagi di Rusun Waduk Pluit, Jakarta Utara, tak lagi dihiasi udara segar. Sebaliknya, ribuan warga harus berhadapan dengan bau busuk menyengat yang setiap h

Jul 16, 2026 - 06:54
0 0
Sampah 2 Tahun Tak Diangkut, Warga Rusun Pluit Protes

Pagi di Rusun Waduk Pluit, Jakarta Utara, tak lagi dihiasi udara segar. Sebaliknya, ribuan warga harus berhadapan dengan bau busuk menyengat yang setiap hari menguar dari tempat pembuangan sementara (TPS) di dalam kawasan rusun. Mirisnya, bau itu bukan persoalan baru. Tumpukan sampah di sana sudah menumpuk selama 2 tahun tanpa penanganan berarti, membuat warga nyaris putus asa.

Awal Mula Penumpukan yang Tak Kunjung Usai

Persoalan ini bermulai ketika pengelola rusun kesulitan mengangkut volume sampah yang terus bertambah. Menurut pantauan, rata-rata produksi sampah dari ribuan kepala keluarga di rusun itu bisa mencapai 30 ton per hari. Namun, armada pengangkut yang tersedia hanya 2 unit truk kecil, jauh dari cukup untuk mengangkut seluruh sampah dalam satu hari. Akibatnya, sampah yang tak terangkut terus menumpuk, hingga akhirnya membentuk gunungan sampah setinggi lebih dari 2 meter di area TPS yang semestinya hanya bersifat sementara.

"Awalnya kami pikir ini hanya sementara. Tapi sudah 2 tahun begini terus. Setiap buka jendela, yang masuk justru bau busuk, bukan angin segar. Anak-anak saya juga jadi sering batuk," ujar Sumiati, warga lantai 3 Rusun Pluit, dengan nada getir.

Ketiadaan lahan TPS yang memadai memperburuk situasi. TPS yang ada hanya berukuran sekitar 20 meter persegi, tidak dirancang menampung sampah dalam skala besar dan jangka panjang. Sampah pun meluber ke jalan di sekitar blok rusun, mengganggu akses dan menciptakan pemandangan yang memprihatinkan.

Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Penumpukan sampah yang berlangsung bertahun-tahun ini bukan sekadar soal estetika. Warga melaporkan lonjakan kasus penyakit pernapasan, diare, dan gatal-gatal pada kulit, terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Lembaga kesehatan setempat mencatat kenaikan kunjungan ke posyandu akibat keluhan saluran napas yang diduga dipicu oleh paparan gas metana dan amonia dari timbunan sampah yang membusuk.

Hewan pengerat dan serangga juga menjadi persoalan serius. Tikus-tikus besar berkeliaran bebas di sekitar TPS, sementara lalat dan kecoa masuk ke unit-unit hunian. Seorang petugas kebersihan yang enggan disebutkan identitasnya mengaku sudah berulang kali menyemprotkan disinfektan, namun jumlah hama tetap sulit dikendalikan. "Selama sumbernya tidak dihilangkan, kami hanya bisa menahan sedikit," katanya.

Keterbatasan Anggaran dan Armada

Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara mengakui bahwa keterbatasan armada menjadi kendala utama. Seorang pejabat dinas menjelaskan bahwa truk-truk pengangkut sampah yang tersedia diprioritaskan ke permukiman padat di luar rusun, yang menghasilkan volume sampah lebih tinggi. "Rusun dianggap bukan prioritas karena jumlah sampahnya lebih kecil dibanding daerah lain. Tapi ternyata akumulasinya jadi masalah besar," ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Selain itu, pengelola rusun juga terhambat minimnya biaya operasional. Biaya pengangkutan ke TPA Bantar Gebang memakan ongkos besar, sementara iuran kebersihan yang dibayar warga tidak mencukupi untuk menambah frekuensi pengangkutan. Akibatnya, sampah hanya diangkut 1-2 kali seminggu, padahal seharusnya setiap hari.

Solusi dan Harapan Warga

Warga kini menuntut solusi nyata. Mereka mendesak pemerintah kota untuk menambah armada dan menyediakan TPS yang lebih layak. Beberapa warga bahkan mengusulkan penerapan bank sampah dan pemilahan mandiri untuk mengurangi beban TPS. "Kalau kami diajari bagaimana memilah dan mengolah sampah organik jadi kompos, mungkin volume sampah bisa berkurang," kata Riswan, salah seorang tokoh pemuda setempat.

Sementara itu, pihak pengelola rusun berjanji akan mengupayakan pengangkutan ekstra mulai bulan depan, meski belum bisa merinci sumber dananya. Mereka juga tengah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan pengangkutan sampah dengan sistem kontainerisasi yang lebih efisien.

Hingga berita ini ditulis, tumpukan sampah masih menggunung di sudut rusun. Warga berharap, janji tidak lagi berakhir sebagai sampah yang ikut menumpuk—sesuatu yang sudah terlalu lama mereka saksikan.

[SOCIAL_TWEET]: Selama 2 tahun, ribuan warga Rusun Pluit terpaksa hidup berdampingan dengan gunungan sampah dan bau busuk. Armada pengangkut minim, produksi sampah 30 ton/hari. Kini warga tuntut solusi nyata. #SampahJakarta #RusunPluit #DaruratSampah[SOCIAL_TG]: 🗑️ Bau busuk mencekik! Sampah di Rusun Pluit menumpuk 2 tahun. Armada kurang, warga sakit. Solusi? Simak laporan kami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User