Wajah Baru Keranggan, Kelurahan Kampung Kota yang Kini Naik Kelas
Transformasi besar-besaran kini bisa lo saksikan sendiri di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Wilayah yang sebelumnya identik dengan gang-gang sempit dan akses terbatas ini sedang menjalani proses ...
Transformasi besar-besaran kini bisa lo saksikan sendiri di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Wilayah yang sebelumnya identik dengan gang-gang sempit dan akses terbatas ini sedang menjalani proses ‘makeover’ total dari pemerintah setempat. Bukan cuma polesan kosmetik, tapi benar-benar pembenahan dari akar permasalahan klasik: infrastruktur dasar yang bikin warga dulu harus berjuang ekstra tiap hari.
Bukan Sekadar Betonisasi, Ini Upgrade Level Hidup
Proyek penataan kawasan kampung kota ini bukan main-main, bestie. Fokus utamanya adalah menghadirkan infrastruktur dasar yang layak dan berkelanjutan. Kita ngomongin soal jalan lingkungan yang mulus, drainase yang lancar sehingga banjir musiman nggak lagi jadi tamu rutin, sampai penerangan jalan umum yang bikin suasana malam lebih aman dan hidup. Dulu mungkin warga harus siap-siap masuk ke genangan air tiap hujan deras, sekarang plot twist-nya, genangan itu perlahan lenyap seiring tertatanya sistem pembuangan air.
Yang bikin makin greget, pendekatan yang dipakai nggak sembarangan. Pemerintah Kota Tangerang Selatan tampaknya sadar betul bahwa menata kawasan padat penduduk itu nggak bisa pakai template. Setiap sudut gang, lebar jalan, dan pola permukiman diperhitungkan. Material yang dipakai bukan tipe yang gampang mengelupas setelah kena air. Ini investasi jangka panjang biar warga nggak bolak-balik komplain soal jalan bolong atau selokan mampet. Efek domino positifnya langsung berasa di banyak aspek: akses motor jadi lebih lancar, anak-anak main di luar lebih leluasa, dan yang penting, nilai properti di sana auto naik.
Dari Jalur Tikus Jadi Lingkungan Instagramable
Percaya nggak, salah satu dampak paling parah sih dari penataan ini adalah perubahan estetika. Gang-gang yang tadinya cenderung kusam dan penuh kabel semrawut, sekarang mulai tertata lebih rapi. Salfok banget sama beberapa titik yang udah kelihatan cerah. Meski ini baru tahap pembangunan infrastruktur dasar, pondasi visual yang kuat udah mulai kelihatan. Warga pun mulai semangat gotong royong mengecat pagar atau menata pot-pot tanaman kecil di depan rumah mereka, menciptakan vibes yang lebih segar dan nggak sumpek.
Pemerintah secara strategis menempatkan Kelurahan Keranggan sebagai proyek percontohan. Ini adalah bukti kalau label ‘kampung kota’ bukan berarti kumuh dan nggak terurus. Justru dengan sentuhan perencanaan yang matang, identitas kampung kota bisa naik level menjadi kawasan yang nyaman ditinggali, tanpa kehilangan kehangatan khas permukiman tradisionalnya. Dulu mungkin orang mikir dua kali buat masuk ke dalam gang pas musim hujan, sekarang aksesnya gas pol, mulus tanpa drama becek.
Partisipasi Warga: Kunci Biar Nggak Cuma Megang Proyek
Tentu saja, cerita ini nggak akan lengkap tanpa menyorot peran warga. Proyek sekeren apa pun bakal sia-sia kalau penghuninya cuek. Di sinilah letak green flag dari proses ini: ada ruang dialog antara pemerintah dan warga. Aspirasi soal titik rawan genangan, prioritas perbaikan jalan, sampai penempatan lampu penerangan semuanya diserap. Ini bukan proyek cuma buat menyerap anggaran, tapi beneran menyentuh kebutuhan harian. Warga nggak cuma jadi penonton, tapi ikut memantau kualitas pengerjaan di lapangan.
Dengan selesainya tahap demi tahap pembangunan ini, sektor ekonomi mikro juga ikut terpancing. Warung-warung kecil di tikungan gang kini lebih ramai karena akses pelanggan lancar. Mobilitas warga untuk bekerja atau sekolah meningkat drastis. Pada akhirnya, definisi ‘membangun’ di sini bukan cuma soal semen dan aspal, melainkan memperbaiki mobilitas sosial dan ekonomi lewat infrastruktur yang akhirnya benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Baca juga:
Comments (0)