Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Harga Minyak Meroket

TEHERAN, Warkini.com — Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan ini setelah Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh kapa

Jul 12, 2026 - 22:12
0 0
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Harga Minyak Meroket

TEHERAN, Warkini.com — Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan ini setelah Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh kapal tanker minyak yang melintas. Langkah drastis ini memicu kepanikan di pasar energi global dan memproyeksikan lonjakan harga bahan bakar minyak di berbagai negara importir, termasuk Indonesia.

Kronologi Penutupan dan Eskalasi Ketegangan

Berdasarkan pantauan Warkini.com, berikut urutan peristiwa yang berujung pada blokade strategis tersebut:

  1. Minggu, 23 Maret 2025 pukul 08.00 GMT: Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis pernyataan resmi yang menyatakan penghentian seluruh lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hingga “pemberitahuan lebih lanjut”. Mereka menuduh Amerika Serikat dan sekutunya melanggar perjanjian nuklir yang baru dinegosiasikan.
  2. Pukul 10.30 GMT: Kapal perang IRGC terpantau melakukan manuver di dekat pulau Qeshm dan Larak, memblokade jalur masuk utama selat yang hanya selebar 33 kilometer itu.
  3. Pukul 14.00 GMT: Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Mei melonjak 12,3% ke level $108,7 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 11,8% menjadi $103,2 per barel dalam perdagangan berjangka.
  4. Senin, 24 Maret 2025: Asosiasi perusahaan pelayaran global mengeluarkan peringatan darurat, dan premi asuransi kapal yang melintas di kawasan Teluk melonjak hingga 400%.

Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?

Selat Hormuz merupakan arteri utama distribusi minyak dunia. Setiap harinya, sekitar 21 juta barel minyak mentah—setara dengan 20% dari total konsumsi global—melewati perairan sempit ini. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak mereka ke pasar Asia dan Eropa.

“Penutupan Selat Hormuz adalah skenario mimpi buruk bagi ekonomi dunia. Dampaknya langsung terasa pada harga, dan jika berlangsung lebih dari dua pekan, kita bisa melihat harga minyak menembus $150 per barel,” ujar Dr. Arifin Tasrif, analis energi dari Pusat Studi Energi Global, saat dihubungi Warkini.com.

“Kali ini situasinya lebih serius karena Iran bergerak sendiri tanpa peringatan. Ini bukan sekadar gertakan, melainkan aksi nyata yang didukung kekuatan militer.” — Dr. Arifin Tasrif, analis energi.

Dampak Langsung ke Indonesia

Sebagai importir minyak mentah dan BBM, Indonesia berpotensi menghadapi gelombang kenaikan harga di tingkat domestik. PT Pertamina (Persero) mengakui sedang memantau situasi dan menghitung ulang skenario pasokan. Mayoritas impor minyak mentah Indonesia memang berasal dari Arab Saudi dan Nigeria, namun gangguan pada Selat Hormuz akan mempengaruhi harga acuan global yang menjadi patokan.

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tengah menyiapkan sejumlah opsi, termasuk mempercepat pencampuran biodiesel dan mengoptimalkan produksi dalam negeri dari Blok Rokan dan Cepu. Namun, produksi nasional yang hanya sekitar 600 ribu barel per hari masih jauh dari kebutuhan konsumsi yang mencapai 1,5 juta barel per hari.

Respons Diplomatik dan Militer

Penutupan ini segera memicu respons keras dari negara-negara Barat. Presiden Amerika Serikat melalui juru bicara Dewan Keamanan Nasional mengecam tindakan Iran dan menyatakan “semua opsi ada di atas meja”. Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berpangkalan di Bahrain meningkatkan status siaga ke level tertinggi.

Di sisi lain, China dan Rusia mendesak agar semua pihak menahan diri. China, sebagai importir minyak terbesar dari kawasan Teluk, telah mengaktifkan cadangan minyak strategisnya yang dikabarkan mampu memenuhi kebutuhan hingga 90 hari.

Alternatif Pasokan: Bisakah Dunia Bertahan?

Secara teoretis, beberapa jalur alternatif bisa digunakan untuk memitigasi blokade Hormuz, namun semuanya memiliki kapasitas terbatas:

  • Pipa Lintas Arab (Petroline): Mampu mengalirkan sekitar 5 juta barel per hari dari Teluk ke Laut Merah. Namun, baru-baru ini terjadi gangguan teknis yang mengurangi kapasitasnya.
  • Pipa Habshan-Fujairah: Menghubungkan ladang minyak Abu Dhabi langsung ke pelabuhan Fujairah di lepas pantai Teluk Oman, menghindari Hormuz. Kapasitasnya sekitar 1,8 juta barel per hari.
  • Penggunaan cadangan strategis: Negara-negara anggota IEA memiliki cadangan minyak darurat sekitar 1,5 miliar barel, yang bisa dilepas untuk menstabilkan pasar.

Namun, menurut Morgan Stanley, jika Selat Hormuz ditutup lebih dari sebulan, harga minyak bisa melonjak ke $150–$200 per barel, mendorong resesi global.

Yang Bisa Dilakukan Masyarakat

Sementara harga minyak dunia belum sepenuhnya mentransmisikan ke harga BBM di Indonesia, masyarakat diimbau untuk tidak memborong bahan bakar secara berlebihan. Pemerintah melalui BPH Migas memastikan stok BBM nasional masih aman untuk 23 hari ke depan. Penyesuaian harga akan dilakukan secara bertahap apabila tekanan global terus berlanjut.

[SOCIAL_TWEET]: Harga minyak melonjak 12% setelah Iran tutup total Selat Hormuz. Pasokan 21 juta barel/hari terancam. Apa dampaknya buat RI? #SelatHormuz #HargaMinyak #Energi[SOCIAL_TG]: 🛑⛽️ *Breaking!* Iran resmi tutup Selat Hormuz! Harga minyak meroket 12,3% ke $108/barel. Ancaman serius buat pasokan BBM RI. Baca selengkapnya di Warkini.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User