JAKARTA — Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai nilai tukar rupiah yang kini bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar AS tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental perekonomian nasional. Pandangan tersebut disampaikan saat ia menjalani uji kelayakan dan kepatuhan (fit and proper test) di Gedung DPR/MPR RI, Rabu (26/8). Menurutnya, posisi kurs saat ini mengandung diskon berlebihan, sehingga rupiah sesungguhnya berpeluang bergerak pada level yang jauh lebih kuat.
“Nilai tukar rupiah seharusnya lebih kuat dari level sekarang,” ujar Destry Damayanti dalam kesempatan menjalani uji kelayakan di parlemen.
Pernyataan itu menjadi salah satu momen paling dicatat pengamat dalam rangkaian uji kelayakan kali ini. Pasalnya, sikap seorang calon pemimpin otoritas moneter terhadap level kurs kerap menjadi sinyal awal arah kebijakan yang akan ditempuh ke depan. Destry menekankan bahwa pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.700 per dolar AS lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen pasar, alih-alih memburuknya kondisi ekonomi domestik.
Rekam Jejak Panjang di Dunia Kebijakan Moneter
Destry Damayanti bukan sosok baru dalam lanskap kebijakan moneter Indonesia. Ekonom senior ini dikenal memiliki rekam jejak panjang di lingkungan BI, khususnya dalam bidang riset ekonomi dan formulasi kebijakan. Latar belakang akademisnya yang kokoh serta pengalaman puluhan tahun membaca dinamika pasar membuat namanya kerap disebut sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh di tanah air.
Kehadirannya sebagai calon Gubernur BI sendiri merupakan bagian dari proses pergantian pimpinan otoritas moneter yang sedang berlangsung. Sebelum kursi pimpinan resmi berganti, DPR wajib memastikan kelayakan dan integritas calon yang diajukan pemerintah melalui mekanisme uji kelayakan yang terbuka bagi publik.
Kronologi Uji Kelayakan di Gedung Parlemen
Rangkaian proses menuju penetapan pimpinan BI baru berjalan dalam beberapa tahap penting:
- Rupiah melemah dan bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar AS, memicu perhatian publik terhadap arah kebijakan moneter.
- Pemerintah mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI kepada DPR RI.
- Uji kelayakan (fit and proper test) digelar di Gedung DPR/MPR RI dengan agenda menilai visi, integritas, dan pemahaman calon atas isu moneter.
- Destry menyatakan kurs rupiah saat ini dinilai terlalu lemah dibanding fundamental ekonomi.
- DPR akan merumuskan penilaian akhir sebagai dasar penetapan jabatan oleh pemerintah.
Proses tersebut berlangsung ketat. Sejumlah pertanyaan yang dilemparkan anggota dewan berfokus pada strategi stabilisasi kurs, koordinasi kebijakan fiskal-moneter, hingga cara pandang calon terhadap tekanan arus modal global. Jawaban Destry soal kurs rupiah langsung menyeret perhatian ke arah bagaimana ia akan memposisikan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar ke depan.
Analisis: Diskon Kurs atau Keterlanjuran Pasar?
Secara analitis, klaim bahwa rupiah “seharusnya” lebih kuat dapat dibaca dari dua sisi. Pertama, dari sisi fundamental, Indonesia relatif ditopang oleh stabilitas inflasi yang terjaga, neraca transaksi berjalan yang sehat, serta cadangan devisa yang cukup memadai. Dalam kerangka tersebut, level Rp17.700 per dolar AS memang tampak terlalu tertekan.
Kedua, dari sisi pasar, pelemahan rupiah umumnya dipicu oleh faktor-faktor di luar kendali domestik seperti kekuatan berlebih dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, dan arus keluar dana portofolio dari pasar berkembang. Perbandingan berikut merangkum kesenjangan antara kondisi riil dan ekspektasi:
| Aspek | Kondisi Saat Ini | Ekspektasi |
|---|---|---|
| Level kurs | Rp17.700/US$ | Lebih kuat dari level berjalan |
| Fundamental domestik | Dinilai sehat dan terjaga | Kurs lebih mencerminkan fundamental |
| Tekanan eksternal | Dolar AS kuat, sentimen global negatif | Normalisasi seiring meredanya ketidakpastian |
Menurut sejumlah pengamat ekonomi, pernyataan semacam ini penting karena menunjukkan calon gubernur tidak pasrah terhadap pergerakan pasar, tetapi memiliki keyakinan berbasis fundamental bahwa kurs saat ini tidak efisien, meski tetap ada risiko jika ekspektasi tersebut tidak terkonfirmasi oleh dinamika global.
Sinyal Kebijakan dan Implikasinya
Bagi pelaku usaha, pandangan bahwa rupiah harus lebih kuat membawa implikasi ganda. Importir serta industri yang bergantung bahan baku impor akan diuntungkan apabila kurs menguat, karena biaya produksi menurun. Sebaliknya, eksportir dan penerima kiriman remitansi bisa melihat pendapatannya tergerus apabila apresiasi rupiah berlangsung terlalu cepat.
- Kurs yang lebih kuat berpotensi menekan tekanan inflasi dari sela impor.
- Biaya pelayuran utang berdenominasi dolar turut menurun bagi korporasi.
- Daya beli masyarakat terhadap barang impor berpeluang membaik.
- Eksportir perlu antisipasi margin bila tren apresiasi berlangsung konsisten.
Yang jelas, komitmen menjaga rupiah agar kembali merefleksikan fundamental akan menjadi ujian pertama kepemimpinan baru di BI. Pasar akan mengamati apakah retorika ini diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen pasar uang, hingga koordinasi erat dengan pemerintah.
Hingga kabar ini diturunkan, DPR masih melanjutkan proses penilaian terhadap calon Gubernur BI. Hasil uji kelayakan akan menentukan langkah berikutnya, sekaligus memberi gambaran awal tentang arah kebijakan nilai tukar di masa mendatang.
[SOCIAL_TWEET]: Calon Gubernur BI Destry Damayanti: Rupiah seharusnya lebih kuat dari Rp17.700/US$. Kurs saat ini dinilai tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. #BankIndonesia #Rupiah[SOCIAL_TG]: 🔴 Destry Damayanti saat uji kelayakan di DPR: rupiah seharusnya lebih kuat dari Rp17.700/US$. Baca analisis lengkap implikasi kebijakan moneter hanya di Warkini.com.
Comments (0)