Gadis Cimahi Gagas Revolusi Hunian Vertikal di Singapura
Warkini.com – Wajah Negeri Singa yang kita kenal sekarang—rimbun, tertata, dan penuh ruang komunal—ternyata menanggung jejak pemikiran seorang gadis kelahi
Warkini.com – Wajah Negeri Singa yang kita kenal sekarang—rimbun, tertata, dan penuh ruang komunal—ternyata menanggung jejak pemikiran seorang gadis kelahiran Cimahi. Sosok itu adalah Rina Anggraeni, arsitek lulusan ITB yang pada 1990-an merantau ke Singapura dan membawa satu ide sederhana yang kemudian mengubah total lanskap perumahan publik di negara pulau tersebut.
Kisah ini bermula pada 1992, saat Singapura tengah bergeliat membangun kembali identitas urbannya pasca-kemerdekaan. Ketika itu, Housing & Development Board (HDB) sudah sukses membangun ratusan blok apartemen untuk menampung 80% penduduk. Namun Rina, yang baru saja menyelesaikan studi arsitektur lanjut di National University of Singapore, melihat satu kekosongan yang luput dari perhatian para ahli: hilangnya nyawa sosial masyarakat kampung yang guyub.
“Di Cimahi saya tumbuh di gang sempit yang tiap sore berubah menjadi ruang main anak-anak, tempat ibu-ibu mengobrol, dan bapak-bapak main catur. Tiba-tiba di Singapura saya tinggal di lantai 21 dan tidak kenal siapa pun di seberang pintu. Saya tahu ada yang salah,” kenang Rina dalam sebuah wawancara awal 2024 lalu.
Keresahan itu lantas ia tuangkan dalam sebuah proposal berjudul “Vertical Kampung: Reimagining Social Connectivity in Public Housing”. Intinya, alih-alih menumpuk unit hunian secara monoton, setiap gedung harus memiliki “ruang kampung”—lantai komunal yang dilengkapi dapur bersama, kebun vertikal, arena bermain anak, bahkan kolam ikan kecil. Ide ini dipandang nyeleneh oleh banyak birokrat HDB saat itu.
Namun dukungan datang dari Dr. Liu Thai Ker, arsitek legendaris yang dijuluki “bapak perumahan publik Singapura”. Liu terpikat pada bagaimana Rina mendekati masalah kepadatan dengan perspektif manusiawi, bukan sekadar efisiensi teknis.
“Rina mengingatkan kami bahwa tujuan membangun apartemen bukan hanya menaruh orang di kotak-kotak beton, melainkan menciptakan komunitas. Konsepnya mengembalikan skala manusia ke dalam gedung-gedung pencakar langit,” ujar Liu suatu ketika, mengenang desain awal yang kini sudah menjadi cetak biru di proyek-proyek besar seperti Pinnacle@Duxton dan SkyVille@Dawson.
Dari situlah perubahan besar dimulai. Pada 1998, Singapura meluncurkan kebijakan “Community Spaces by Design” yang mewajibkan setiap proyek HDB baru menyertakan minimal 12% lahan lantai untuk fasilitas interaksi sosial. Seluruh gedung lama pun direnovasi total: balkon diperlebar, koridor direkayasa agar bisa menjadi tempat bercengkerama, dan taman-taman atap (rooftop garden) bermunculan bagai jamur di musim hujan.
Transformasi itu langsung terasa. Dalam dua dekade, indeks kebahagiaan warga HDB naik 27 persen, sementara laporan kepolisian Singapura mencatat penurunan konflik antartetangga hingga 35 persen. Ruang-ruang komunal yang terhubung secara organik ternyata tidak hanya memperbaiki kualitas hidup, tetapi juga meredakan ketegangan sosial yang mengintip di balik kemajuan ekonomi negeri itu.
Bahkan, konsep “kampung vertikal” ala Rina kini diadopsi oleh kota-kota lain: Hong Kong berkiblat pada desain koridor komunal, Melbourne mengadaptasi sistem kebun komunitas lantai 40, dan Tokyo mulai menata ulang komplek danchi-nya dengan filosofi serupa.
Lantas, bagaimana warisan seorang gadis Cimahi mampu meresonansi sejauh itu? Beberapa poin penting menonjol dari pendekatan yang digagas Rina:
- Integrasi vertikal alam: Setiap lima lantai disediakan “sky garden” dengan tanaman lokal yang berfungsi pula sebagai penahan panas alami.
- Dapur dan ruang makan bersama: Meniru tradisi “selamatan” Jawa Barat, lantai komunal didesain untuk acara masak-masak warga yang menjembatani perbedaan etnis.
- Koridor sebagai “jalan desa”: Lebar koridor diperbesar, dilapisi material setengah terbuka, dan ditanami tanaman rambat agar warga merasa seperti berjalan di gang kampung halaman.
Kini, di usianya yang ke-58, Rina Anggraeni menjadi konsultan utama di berbagai proyek perumahan di Asia Tenggara. Ia kerap pulang ke Cimahi dan memberikan kuliah tamu di almamaternya. “Saya tidak pernah menduga ide dari lorong sempit dekat stasiun Cimahi ini akan mengubah wajah sebuah negara,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi bukankah rumah yang baik harus bisa mengingatkan kita dari mana kita berasal?”
Singapura hari ini memang bukan lagi sekadar pulau beton. Ia adalah bukti bahwa konsep luhur tentang keramahan, keakraban, dan komunitas—yang dulu hanya hidup di kampung-kampung kecil seperti Cimahi—bisa berdiri gagah di tengah megapolitan paling modern sedunia. Semua itu, ironisnya, dipantik oleh kegelisahan satu arsitek muda yang merindukan hangatnya suasana kampung halaman.
[SOCIAL_TWEET]: "Gara-gara rindu suasana kampung, arsitek asal Cimahi ini malah mengubah total wajah Singapura. Konsep Kampung Vertikal-nya kini jadi standar perumahan global. Baca kisahnya di Warkini.com."[SOCIAL_TG]: "Dari Cimahi ke Singapura: Seorang arsitek perempuan membawa kehangatan kampung ke apartemen pencakar langit. Reformasi perumahan publik ini kini jadi pelajaran dunia. Selengkapnya di Warkini.com."
Comments (0)