Orang Super Kaya Indonesia Diprediksi Melonjak Tercepat, Kelas Menengah Menyusut
Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan jumlah penduduk super kaya ( ultra-high-net-worth individual/UHNW ) tercepat di dunia dalam lima
Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan jumlah penduduk super kaya ( ultra-high-net-worth individual/UHNW ) tercepat di dunia dalam lima tahun ke depan. Proyeksi mengejutkan itu muncul dari laporan kekayaan global terbaru The Wealth Report 2025 yang dirilis Knight Frank. Di saat yang sama, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia justru terus merosot, memicu kekhawatiran tentang ketimpangan yang kian melebar.
Ledakan Populasi Super Kaya
Laporan Knight Frank memperkirakan populasi UHNW di Indonesia—mereka yang memiliki kekayaan bersih di atas US$30 juta atau sekitar Rp480 miliar—akan melonjak hingga 39% pada periode 2025–2030. Angka ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan global yang hanya 18% dan mengungguli negara Asia lainnya seperti India (29%) serta Tiongkok (22%).
Indonesia saat ini tercatat memiliki sekitar 1.800 individu UHNW. Dengan laju pertumbuhan tahunan yang dipatok 7,8%, angka itu akan menembus 2.500 orang pada 2030. Para analis menyebut sektor teknologi digital, energi terbarukan, dan sumber daya alam sebagai mesin utama pencetak kekayaan baru di republik ini.
“Bonus demografi dan transformasi digital menciptakan lebih banyak centimillionaire di Indonesia dibandingkan negara mana pun di Asia Tenggara. Tapi ini cerita dua sisi yang kontras,” ujar Nicholas Holt, Head of Research Knight Frank Asia-Pasifik, dalam keterangannya.
Kelas Menengah Kian Tertekan
Di ujung lain spektrum, kelas menengah Indonesia justru mengalami penyusutan yang signifikan. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS mencatat jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi hanya 47,85 juta orang pada 2024. Itu berarti 9,48 juta orang terdepak dari kelas menengah dalam lima tahun.
Fenomena ini diperparah oleh lunturnya daya beli akibat inflasi harga pangan, minimnya lapangan kerja formal, serta beban pajak yang kian membebani kelompok pendapatan menengah. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Teuku Riefky, menilai kondisi ini sebagai “middle-class trap” yang berbahaya.
“Penyusutan kelas menengah bukan sekadar statistik. Ini sinyal bahwa mesin konsumsi domestik mulai kehilangan tenaga. Jika tidak diintervensi, kita bisa menghadapi stagnasi ekonomi yang lebih dalam,” tegas Riefky.
Kontras Dua Wajah Indonesia
Kombinasi melonjaknya jumlah super kaya dan menyusutnya kelas menengah menciptakan potret ketimpangan yang tajam. Rasio Gini Indonesia sendiri masih bertengger di angka 0,381 per September 2024, meskipun sedikit membaik dari posisi 0,389 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pengamat mengingatkan bahwa perbaikan itu bersifat semu karena dipicu penurunan pendapatan kelompok atas akibat pelemahan harga komoditas, bukan distribusi yang lebih adil.
- Jumlah UHNW diprediksi naik 39% menjadi 2.500 orang pada 2030.
- Kelas menengah susut 9,48 juta orang dalam lima tahun terakhir.
- Sektor digital dan energi terbarukan menjadi katalis kekayaan baru.
- Konsumsi domestik terancam melambat akibat penurunan daya beli.
Pemerintah diharapkan segera merespons dengan kebijakan afirmatif yang melindungi kelas menengah, seperti insentif perumahan, subsidi pendidikan, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Tanpa itu, predikat “pertumbuhan super kaya tercepat” hanya akan menjadi ironi di tengah melebarnya jurang sosial.
[SOCIAL_TWEET]: Indonesia diprediksi jadi negara dengan pertumbuhan orang super kaya tercepat di dunia. Ironisnya, 9,48 juta kelas menengah justru terdepak dalam lima tahun. Jurang sosial kian lebar? #EkonomiIndonesia #KelasMenengah #Ketimpangan[SOCIAL_TG]: 📊 Indonesia diprediksi jadi negara dengan pertumbuhan super kaya tercepat di dunia (+39%). Tapi... kelas menengah malah menyusut 9,48 juta orang. Kontras yang memprihatinkan.
Comments (0)