Prabowo Persilakan Warga Pesimis Pindah Kewarganegaraan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melontarkan pernyataan tegas yang langsung memantik diskursus publik. Dalam sebuah forum diskusi ekonomi di
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melontarkan pernyataan tegas yang langsung memantik diskursus publik. Dalam sebuah forum diskusi ekonomi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/6), ia menantang setiap warga negara yang tidak percaya pada masa depan Indonesia untuk meninggalkan tanah air. Tak tanggung-tanggung, Prabowo secara terbuka mempersilakan mereka berpindah kewarganegaraan jika terus-menerus melihat Indonesia hanya dari kacamata suram. Pernyataan itu bukan sekadar gertak politik, melainkan cerminan optimisme besar yang tengah ia bangun untuk membalikkan persepsi negatif terhadap perekonomian nasional.
Keyakinan Ekonomi yang Menggebu
Di hadapan ratusan pelaku usaha, menteri kabinet, dan para diplomat, Prabowo membeberkan fondasi mengapa Indonesia layak dipercaya. Ia menegaskan, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat besar, didorong oleh bonus demografi, hilirisasi sumber daya alam, serta pembangunan infrastruktur yang masif. “Saya tidak akan pernah menyerah mengatakan bahwa Indonesia ini hebat,” tegasnya. Ia lalu membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara di kawasan yang justru tengah dilanda krisis ekonomi, menekankan bahwa Indonesia memiliki ketahanan yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Presiden sempat merujuk pada proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menempatkan Indonesia dalam lima besar ekonomi dunia pada 2045 jika konsistensi pertumbuhan tetap terjaga. Angka kemiskinan, menurutnya, juga terus menurun dalam dua dekade terakhir. “Data tidak bisa dibohongi. Kalau ada yang masih bilang Indonesia gelap, mungkin kacamatanya yang perlu diganti,” sindirnya. Ia meminta para elite dan intelektual untuk tidak hanya mengkritik, tetapi juga ikut menawarkan solusi.
Pernyataan Prabowo ini merupakan bagian dari rangkaian komunikasi politiknya yang berani, di mana ia sering menggunakan diksi yang lugas dan tanpa basa-basi. Sejak awal masa pemerintahannya, ia memang kerap memancing kontroversi demi menyampaikan pesan optimisme yang ia anggap fundamental bagi kebangkitan bangsa.
Ajakan Pindah Negara dan Polemiknya
Bagian yang paling menyedot perhatian adalah kalimatnya yang berbunyi,
“Yang merasa Indonesia suram, nggak akan maju, silakan kalau mau cari negara lain. Kami terus bekerja. Kalian nanti lihat sendiri.”
Banyak pihak langsung bereaksi. Sebagian menilai pernyataan itu sebagai bentuk sikap otoriter dan tidak menghargai perbedaan pandangan. Namun, pendukung setia Prabowo melihatnya sebagai motivasi untuk membela bangsa dan menepis pengaruh negatif yang selama ini kerap membuat warga rendah diri.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Nurhayati, menilai bahwa pernyataan semacam itu memiliki dua sisi. “Di satu sisi, ini adalah strategi membangun solidaritas nasional dengan menciptakan narasi ’kami versus mereka’. Di sisi lain, ini bisa ditafsirkan sebagai pengingkaran terhadap kebebasan berekspresi dan hak untuk berbeda pendapat,” jelasnya saat dihubungi melalui telepon. Ia juga mengingatkan bahwa negara demokratis seharusnya tidak mudah mendelegitimasi warga yang kritis, karena kritik adalah bagian dari proses penyempurnaan kebijakan publik.
Senada dengan itu, beberapa aktivis HAM mengingatkan agar narasi pengusiran simbolis semacam itu tidak menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi. Mereka menekankan bahwa warga negara memiliki hak konstitusional untuk menyuarakan pendapatnya, termasuk pandangan pesimistis, selama masih dalam koridor hukum. Namun, tidak sedikit pula yang justru merespons positif. Seorang pengusaha UMKM di Bandung, Andi, mengatakan, “Saya setuju dengan Pak Prabowo. Kalau kita sendiri nggak percaya, gimana asing mau percaya? Energi negatif itu bikin kita lemas.”
Konteks Historis dan Narasi Kebangkitan
Pola narasi serupa sebetulnya bukan hal baru dalam panggung politik Indonesia. Bung Karno dahulu kerap menggelorakan semangat berdikari dan antipati terhadap intervensi asing, sementara Presiden Soeharto membangun Orde Baru dengan slogan stabilitas dan pembangunan. Prabowo, dengan gayanya sendiri, sepertinya berusaha menghidupkan kembali semangat heroisme yang menggugah rasa percaya diri kolektif.
Namun, tantangannya adalah menjaga agar retorika itu tidak berubah menjadi kesan bahwa pemerintah tidak ingin mendengar aspirasi rakyatnya. Di tengah riuhnya media sosial, potongan video pernyataan Prabowo langsung viral. Tagar #IndonesiaSuram dan #BangkitBersamaPrabowo bahkan bertengger di papan tren dalam hitungan jam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat terbelah dalam menanggapi pernyataan tersebut.
Di sisi lain, ada indikator ekonomi yang memang mulai menunjukkan pemulihan. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Mei lalu tercatat membaik. Investasi asing langsung ke sektor manufaktur juga meningkat signifikan. Namun, harga pangan yang masih fluktuatif dan ketimpangan pendapatan menjadi tantangan yang belum terselesaikan. Prabowo sendiri mengakui bahwa pekerjaan rumah masih banyak.
Harapan dan Keberlanjutan Narasi
Terlepas dari kontroversi yang muncul, jelas bahwa Prabowo ingin menciptakan ekosistem psikologis yang mendukung pembangunan. Ia percaya bahwa optimisme nasional adalah prasyarat utama bagi lompatan ekonomi. Dalam setiap kesempatan, ia terus memompa keyakinan bahwa Indonesia sedang berada di jalur yang tepat. Beberapa poin penting yang ia ulangi antara lain:
- Kebijakan hilirisasi nikel, bauksit, dan komoditas lain yang meningkatkan nilai tambah.
- Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjadi entitas kelas dunia.
- Investasi masif pada pendidikan vokasi guna mengejar ketertinggalan kualitas sumber daya manusia.
- Penguatan pangan dan energi terbarukan untuk menghadapi krisis iklim.
Prabowo mengakhiri pidatonya dengan seruan, “Jangan mau kalah sebelum berperang. Kita ini bangsa pemenang.” Masyarakat kini menunggu apakah janji dan optimisme itu akan berbanding lurus dengan kinerja nyata di lapangan, atau hanya menjadi retorika yang memudar sebelum akhir masa jabatan.
Comments (0)