Jakarta - Sebuah rumah di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ambruk tergerus longsor pada Jumat (26/6/2026) dini hari. Pemilik rumah, Ali Nugroho (43), menceritakan detik-detik menegangkan saat bangunan tempat tinggalnya roboh. Ia menggambarkan suara yang timbul begitu keras bagaikan ledakan.
"Suaranya udah kayak dentuman, kencang, booom, gitu. Sampai pasar dengar," kata Ali kepada tim liputan di sisa bangunan rumahnya di Jalan Administrasi Negara I, Jakarta Pusat.
Ali, yang masih terlihat syok di antara puing-puing rumahnya, mengungkapkan bahwa warga sekitar sebenarnya sudah mendengar suara-suara ganjil sebelum bangunan itu akhirnya ambruk total. Suara gemuruh kecil sempat terdengar, namun tidak ada yang menyangka akan terjadi longsor sebesar itu.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di sekitar lokasi, momen amblesnya rumah terekam jelas pada pukul 05.48 WIB. Pagi itu, saat sebagian warga masih beristirahat atau bersiap untuk aktivitas harian, tanah di bawah rumah Ali tiba-tiba bergerak. Dalam hitungan detik, struktur bangunan tidak mampu lagi menahan beban dan langsung rubuh. Dentuman keras yang dihasilkan dari robohnya tembok dan material bangunan itu menjangkau area Pasar Bendungan Hilir yang berjarak beberapa ratus meter dari lokasi kejadian.
Tim pelipat media kami di lapangan melaporkan bahwa kondisi rumah telah rata dengan tanah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena Ali dan keluarganya sempat menyelamatkan diri begitu mendengar suara retakan awal. Meski begitu, kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Seluruh harta benda, perabotan rumah tangga, dan dokumen penting tidak sempat diselamatkan.
Pihak kelurahan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mendatangi lokasi untuk melakukan asesmen dan memberikan bantuan darurat. Dugaan sementara, longsor dipicu oleh struktur tanah yang labil setelah diguyur hujan deras selama beberapa hari terakhir. Kini, area di sekitar rumah Ali dipasang garis pengaman untuk mencegah warga mendekat karena potensi pergerakan tanah susulan masih mungkin terjadi.
Comments (0)