Indonesia Berduka atas Wafatnya Mantan Emir Qatar Hamad bin Khalifa
Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyampaikan ungkapan duka cita mendalam kepada pemerintah dan rakyat Qatar atas wafatnya Yang Mulia Syekh Hamad
Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menyampaikan ungkapan duka cita mendalam kepada pemerintah dan rakyat Qatar atas wafatnya Yang Mulia Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang memimpin negara itu selama hampir dua dekade, tepatnya dari 1995 hingga 2013. Kabar kepergian sang negarawan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri pada Selasa (15/07/2025), menyusul pengumuman dari Istana Emiri Doha bahwa Syekh Hamad meninggal dunia dalam usia 73 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat penyakit yang tidak disebutkan.
“Pemerintah Republik Indonesia menyatakan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani. Indonesia mengenang jasa beliau sebagai arsitek Qatar modern dan mitra sejati dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara,” demikian bunyi pernyataan resmi yang diterima wartawan di Jakarta.
Kepergian Arsitek Qatar Modern
Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, lahir pada 1 Januari 1952, mengukir sejarah saat mengambil alih tampuk kekuasaan dari ayahnya, Syekh Khalifa bin Hamad, pada 27 Juni 1995 melalui sebuah kudeta tak berdarah. Sejak saat itu, ia memulai transformasi fundamental Qatar dari sebuah emirat kecil yang mengandalkan mutiara dan gas alam terbatas menjadi pusat pengaruh global yang disegani. Di bawah kepemimpinannya, Qatar berhasil memanfaatkan cadangan gas alam terbesar dunia—North Field—untuk menjadi eksportir liquefied natural gas (LNG) terkemuka, yang menghasilkan pendapatan negara melesat hingga lebih dari US$150 miliar per tahun pada dekade 2010-an.
Warisan Reformasi dan Keterbukaan
Reformasi yang dijalankan Syekh Hamad tidak hanya bersifat ekonomi. Ia memberikan kebebasan pers dengan mendirikan jaringan media Al Jazeera pada 1996, yang kemudian menjadi suara alternatif di dunia Arab dan memicu gelombang demokratisasi wacana. Di bidang pendidikan, ia meresmikan Education City di pinggiran Doha, sebuah kampus raksasa yang menjadi rumah bagi cabang universitas ternama seperti Georgetown, Northwestern, dan Carnegie Mellon. Untuk diplomasi, Qatar di bawah Hamad tampil sebagai mediator di berbagai konflik, dari Lebanon hingga Sudan, meski sering menuai kontroversi.
“Hamad bin Khalifa adalah sosok yang berani. Ia mengambil risiko besar dengan menjadikan Qatar sebagai pemain regional yang independen. Warisannya terlihat dari ketahanan ekonomi Qatar hingga hari ini,” ujar Dr. Al-Mohannadi, pengamat politik Teluk dari Universitas Qatar, dalam wawancara eksklusif.
Hubungan Indonesia-Qatar di Era Hamad
Di era kepemimpinan Hamad, hubungan bilateral Indonesia dan Qatar mengalami lompatan signifikan. Kedua negara menandatangani sejumlah perjanjian strategis di bidang energi, ketenagakerjaan, dan pendidikan. Kunjungan kenegaraan Emir ke Indonesia pada 2006 menjadi titik balik. Dalam kunjungan itu, disepakati peningkatan kuota pekerja migran Indonesia di Qatar yang kemudian mencapai angka sekitar 40.000 orang pada 2013, serta investasi Qatar di sektor perbankan dan properti Indonesia. Volume perdagangan bilateral juga tumbuh dari US$400 juta pada 2000 menjadi US$1,2 miliar pada 2013.
Selain itu, Hamad memberikan perhatian khusus kepada komunitas Muslim Indonesia melalui dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan pengiriman guru Al-Qur’an. Pemerintah Indonesia menilai, di bawah Hamad, Qatar menjadi salah satu mitra paling konstruktif di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian Ucapan Belasungkawa
Tak hanya Indonesia, sejumlah pemimpin dunia juga menyampaikan duka mendalam. Presiden Turki, Raja Yordania, hingga Sekretaris Jenderal PBB merilis pernyataan berkabung. Di Jakarta, Duta Besar RI untuk Qatar, Ridwan Hassan, mengatakan bahwa bendera Merah Putih di KBRI Doha dikibarkan setengah tiang selama tiga hari sebagai penghormatan terakhir.
“Almarhum bukan hanya pemimpin besar bagi rakyat Qatar, tetapi juga sahabat bagi Indonesia. Kami kehilangan salah satu mitra paling visioner,” ujar Ridwan.
Syekh Hamad bin Khalifa meninggalkan istri, dua putra mahkota (salah satunya kini menjabat sebagai Emir, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani), dan 24 anak. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Rayyan, Doha, dalam upacara kenegaraan yang dihadiri delegasi dari lebih 30 negara.
Momen Penuh Haru di Prosesi Pemakaman
Ribuan warga Qatar dan tamu asing melayat sejak pagi hari di Masjid Negara Muhammad bin Abdul Wahhab. Tampak hadir seluruh pemimpin negara Teluk, pejabat tinggi Amerika Serikat, Prancis, dan perwakilan negara sahabat termasuk Indonesia. Prosesi berlangsung khidmat di bawah pengawalan ketat militer dan sorak tangis haru warga yang menganggap Hamad sebagai “Bapak Pembangunan”.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat betapa signifikan peran seorang pemimpin dalam mengubah nasib bangsa. Bagi Indonesia, duka atas kepergian Hamad bin Khalifa Al Thani juga merupakan refleksi dari kemitraan dua negara yang dibangun dengan pondasi kokoh pada masa kepemimpinannya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman lebih lanjut dari pemerintah Qatar mengenai rencana pembentukan yayasan amal atau momentum peringatan khusus, namun banyak pihak mendesak agar warisan Hamad dikenang melalui institusi pendidikan yang telah ia rintis.
[SOCIAL_TWEET]: Indonesia berduka atas wafatnya Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar. Arsitek modernisasi Qatar dan sahabat Indonesia. #Qatar #HamadBinKhalifa #IndonesiaQatar[SOCIAL_TG]: 🇶🇦 Pemerintah Indonesia sampaikan duka cita atas wafatnya mantan Emir Qatar, Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani. Simak rekam jejak hubungan Indonesia-Qatar selama kepemimpinannya.
Comments (0)