warkini.
Viral

Kompos Keliling Jadi Solusi Kurangi Sampah Organik dari Rumah

Inisiatif warga di sejumlah permukiman Jakarta Selatan kini menghadirkan angin segar bagi upaya pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Melalui program Kompos Keliling, sampah organik dari dapur r

Kompos Keliling Jadi Solusi Kurangi Sampah Organik dari Rumah

Inisiatif warga di sejumlah permukiman Jakarta Selatan kini menghadirkan angin segar bagi upaya pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Melalui program Kompos Keliling, sampah organik dari dapur rumah tangga tidak lagi berakhir sia-sia di tempat pembuangan akhir, melainkan diubah menjadi pupuk berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi penghijauan lingkungan.

Konsep yang diusung cukup sederhana namun berdampak besar. Setiap akhir pekan, tim relawan Kompos Keliling berkeliling dengan gerobak atau kendaraan roda tiga untuk mengambil sampah organik yang sudah dipilah warga dari rumah masing-masing. Sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi, dan daun kering dikumpulkan dalam ember khusus yang disediakan setiap rumah tangga, kemudian dibawa ke pusat pengolahan kompos yang dikelola secara kolektif.

Di pusat pengolahan, sampah-sampah itu dicampur dengan bioaktivator alami dan difermentasi selama beberapa minggu. Hasil akhirnya berupa kompos matang yang siap digunakan sebagai penyubur tanaman. Sebagian besar pupuk hasil olahan ini dikembalikan kepada warga secara gratis untuk mempercantik taman-taman lingkungan, sementara sisanya dijual dengan harga terjangkau untuk membiayai operasional program.

"Awalnya kami hanya ingin mengurangi bau dan lalat dari sampah basah yang menumpuk. Tapi ternyata gerakan kecil ini mengubah kebiasaan warga secara menyeluruh. Sekarang warga lebih sadar memilah sampah sejak dari rumah," ujar Mursidah, salah satu koordinator Kompos Keliling di wilayah Tebet.

Dukungan terhadap program ini terus mengalir. Beberapa kantor kelurahan dan organisasi nonpemerintah turut memberikan pelatihan teknis, sementara kaum muda setempat mulai mendokumentasikan proses pengomposan melalui media sosial untuk menginspirasi wilayah lain. Data dari tim sukarelawan menunjukkan bahwa dalam satu bulan, program ini mampu mengalihkan hingga dua ton sampah organik dari jalur pembuangan konvensional.

Ke depan, rencana perluasan akan mencakup penambahan titik layanan dan kerjasama dengan sektor usaha kuliner kecil yang kerap menghasilkan limbah dapur dalam jumlah besar. Langkah ini diyakini akan memperkuat rantai ekonomi sirkular sekaligus memperbaiki kualitas udara dan tanah di kawasan perkotaan yang padat.

Inisiatif berbasis warga seperti ini memperlihatkan bahwa solusi terhadap persoalan sampah tidak harus selalu menunggu proyek berskala besar. Dengan partisipasi aktif masyarakat dan model pengelolaan yang adaptif, dapur rumah tangga dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang lebih lestari. Demikian laporan media kami, Warkini.com, dari Jakarta Selatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bobby-hartono

Editor Lifestyle. Mantan editor majalah lifestyle. Fokus pada tren, gaya hidup urban, dan budaya pop.

Comments (0)

User