Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, menyampaikan penegasan penting mengenai penguatan ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Menurutnya, hal tersebut merupakan elemen krusial yang tidak bisa diabaikan, terlebih dalam upaya mengoptimalkan potensi bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia saat ini.
Dalam sebuah kesempatan diskusi yang dilaporkan oleh media kami, Bima Arya menjelaskan bahwa kawasan perkotaan memegang peran ganda yang sangat strategis. Di satu sisi, kota menjadi pusat konsumsi terbesar. Di sisi lain, kota juga berfungsi sebagai motor penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM ini dinilai akan menjadi faktor penentu utama daya saing bangsa dalam menghadapi persaingan global di masa mendatang.
"Perkotaan bukan hanya pusat konsumsi, tetapi juga penggerak kualitas SDM yang akan menentukan daya saing bangsa ke depan. Karena itu, akses terhadap pangan bergizi harus menjadi prioritas bersama," tegas Bima Arya.
Bima Arya mengingatkan bahwa momentum bonus demografi yang tengah berlangsung saat ini tidak bersifat permanen. Berdasarkan proyeksi, peluang emas tersebut diperkirakan hanya akan bertahan hingga sekitar tahun 2038 hingga 2040. Oleh karena itu, langkah antisipatif dan kolaboratif dari seluruh pemerintah daerah (Pemda) menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.
Wamendagri menekankan bahwa upaya penguatan ketahanan pangan di perkotaan tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas sektor dari berbagai tingkatan pemerintahan daerah. Para pemangku kepentingan di tingkat provinsi, kabupaten, hingga kota harus duduk bersama merancang strategi yang efektif untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan aksesibilitas pangan bergizi bagi seluruh lapisan masyarakat urban.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa tantangan ketahanan pangan di perkotaan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan di kawasan pedesaan. Keterbatasan lahan, tingginya angka kemiskinan perkotaan, serta ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi variabel yang harus diantisipasi secara serius. Inovasi seperti pertanian perkotaan (urban farming), optimalisasi lahan pekarangan, dan penguatan jaringan distribusi pangan lokal disebut sebagai beberapa solusi yang dapat didorong oleh pemda.
Dengan memastikan seluruh warga kota memiliki akses yang memadai terhadap pangan bergizi, diharapkan tidak hanya masalah gizi buruk dan stunting dapat ditekan, tetapi juga produktivitas dan kualitas generasi penerus bangsa dapat dimaksimalkan. Hal ini sejalan dengan visi besar untuk menyongsong Indonesia Emas di masa pasca-bonus demografi nanti.
Pernyataan Wamendagri ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh jajaran pemerintahan daerah untuk segera menyusun peta jalan ketahanan pangan yang adaptif terhadap dinamika perkotaan, memanfaatkan sisa waktu bonus demografi yang semakin terbatas.
Comments (0)